Klarifikasi “Tanggung” Posisi Kiai dan Santri di Muka Bumi (Review Buku Rethinking Pesantren-Nasaruddin Umar)

IMG_20180708_131742
Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi

Judul Buku: Rethinking Pesantren

Penulis: Nasaruddin Umar

Penerbit: Gramedia

Tahun Terbit: 2014

Jumlah Halaman: 141

***

Dalam kata pengantarnya, penulis buku menyebut bahwa penyusunan buku ini disulut oleh maraknya sangkaan negatif orang-orang barat terhadap dunia Islam dan dunia pesantren. Prasangka tersebut bukannya tanpa alasan. Aksi terorisme dan radikalisme yang dipertontonkan di media massa selalu dikait-kaitkan dengan dunia Islam dan kepesantrenan sebagai motor penggeraknya.

Lantas buku ini pun dibuat sebagai semacam klarifikasi bahwa dunia pesantren bukanlah seperti yang disangkakan, bahkan lebih jauh pesantren di Indonesia justru penuh dengan dinamika dan punya banyak jasa dalam membangun peradaban yang turut mencerdaskan bangsa dalam bingkai lingkungan yang damai lagi sentosa.

Beranjak pada bagian uraian, buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menceritakan tentang asal usul pesantren, perkembangan dan cara pendidikannya, lengkap dengan semua komponen hidup di dalamnya yakni Santri dan Kiai.

Bagian ini juga memanjakan pembaca dengan informasi yang cukup lengkap dan komprehensif tentang sejarah Pesantren, hingga mencapai hal-hal yang paling detil semisal asal usul sebutan santri, kombongan, sorogan dan istilah-istilah khas pesantren lainnya.

Setelah mengetahui hal-hal dasar tentang Pesantren, kita akan melihat bagaimana mantan Menteri Agama RI ini bercerita tentang peran Kiai di masyarakat, serta peranannya di kehidupan sosial-politik dari masa ke masa. Nasaruddin memang seorang professor yang sangat apik dan berhati-hati.

Mengapa demikian? Karena dalam buku ini pembaca akan lagi-lagi dibawa pada pemaparan yang lugas dan padat tentang keberadaan kiai dan peranannya dari masa ke masa, berbasis data dan referensi yang rapi. Ini benar-benar tulisan ala-ala akademisi yang taat, sehingga segala informasi yang tersebut di dalamnya bisa dipertanggungjawabkan, pun patut dijadikan referensi.

Di bagian akhir, ada bahasan yang lebih kekinian, yakni perihal santri dan kiai yang terjun di dunia politik. Ini dimulai ketika mereka ikut terlibat dalam perjuangan membela rakyat menentang penjajah, peranan di pascakemerdekaan, serta peran dan posisi warga pesantren di dalam politik praktis masa kini. Nasaruddin juga menyuguhkan cerita dua kiai yakni Teungku Fainah dan Kiai Syam’un yang dinilai ideal untuk menampilkan wajah Pesantren yang damai dan berseri.

Namun sejujurnya, ketika saya mengakhiri pembacaan di halaman terakhir, ada perasaan “tanggung” dan sungguh di luar ekspektasi. Ini mungkin karena pada awalnya saya diberi gambaran tentang isu radikalisme yang disematkan di wajah pesantren yang ingin coba diklarifikasi oleh penulis buku, namun pada akhirnya tidak ada jawaban yang jelas berbasis data akan itu.

Ekspektasi saya di awal pembacaan, buku ini akan menjelaskan lebih lanjut tentang penyebab stigma negative yang melanda dunia pesantren dalam kaitannya dengan radikalisme dan terorisme, lalu menjelaskan kaitan, dampak, serta solusi yang ditawarkan dari sudut pandang akademisi sekaliber Nasarudin Umar.

Sayangnya jawaban itu tidak saya dapatkan dalam buku ini. Penulis justru terlihat lebih berfokus pada pesan agar para kiai yang notabene dekat dan berpengaruh di masyarakat mayoritas harus fokus dalam peranannya berdakwah. Tanpa bermaksud membatasi hak kiai di bidang politik, kata penulis, alangkah idealnya jika seorang kiai melakukan langkah back to basic, kembali ke pesantren dan menjadi kiai kultural (Umar, 2014: 116).

Tapi kalau meminjam lirik lagu Ayu Ting Ting, “yang sudah-sudah ya sudahlah!”. Buku telah ditulis dan disajikan untuk pembaca. Di dalamnya ada informasi yang berharga dan lengkap seputar dunia pesantren yang aslinya memang keren, jauh dari ajaran tentang terorisme dan radikalisme.

Jika pun ada yang melakukan hal buruk itu dan disebut-sebut dari kalangan pesantren, pasti mereka hanyalah oknum dan tidak bijak bagi kita untuk menggeneralisasi tanpa tabayun (klarifikasi). Ekspektasi hanyalah ekspektasi, tak perlu terlalu diributkan, apalagi jika kita pada akhirnya dapat wawasan yang berharga seputar dunia kepesantrenan.

Sekian.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s