Kepada Kita yang Gemar Bersembunyi di Bilik-Bilik Maya

man-949058_1920

Pada suatu pagi yang penuh kabut, seorang lelaki muda yang perawakannya jangkung mengetuk pintu rumah. Ketika dibuka, rupanya ia merupakan salah satu rekan kerja yang wajahnya tidak asing. Saya kala itu belum tahu siapa namanya, hanya saja kita sering berpapasan ketika tengah bekerja. Pagi itu ia mengantarkan nasi bungkus untuk sarapan, padahal itu bukan tugasnya.

Saya tadinya tak mau berpikir macam-macam, tapi senyuman yang tersungging di wajahnya cukup membuat risih. Yang lebih menggelitik, ada tulisan singkat yang tertera di nasi bungkus: Selamat Menikmati, lalu diiringi emoticon love dan senyum.

Spontan saya langsung bertanya-tanya, “Maksudnya apa?”

Di interaksi selanjutnya, lelaki muda itu mendapati saya tengah dibonceng oleh salah seorang rekan kerja lainnya, lelaki. Ia membunyikan klakson saat berpapasan dengan kami. Saya pikir itu hanya sapaan biasa saja antar pengendara sepeda motor. Tapi beberapa jam kemudian, ada pesan Watsapp yang masuk. Nomornya asing, belum diberi nama.

“Oh, jadi rupanya kamu sudah punya calon ya?! Tadi yang bonceng kamu itu calonnya kan? Jadi selama ini perjuanganku ternyata sia-sia. Kalo gitu selamat, maaf selama ini saya sudah ganggu, semoga kamu berbahagia…” Begitulah bunyi pesannya.

Kening saya spontan mengerinyit.

Bingung.

Tidak dibalas.

Saya scroll ke obrolan sebelumnya, rupanya ini bukan pertama kalinya nomor tersebut mengirim pesan. Pesan pertama dari nomor asing itu datang beberapa bulan lalu. Hanya sapaan biasa yang kemudian saya balas sekenanya.

Tanpa menyebutkan nama, dia mengaku sebagai salah satu pegawai yang bekerja di tempat yang sama dengan saya. Demi alasan sopan santun, saya membalas sekenanya saja. Sekali lagi, demi sopan santun. Sejujurnya, saya tak begitu tertarik dengan interaksi di ranah maya. Saya pikir, akan lebih baik jika menjalin pertemanan secara langsung, apalagi kita satu tempat kerja.

Jadi, terhadap nomor asing itu, saya tidak menindaklanjutinya dengan mencari tahu sosok dibalik pengirim pesan tersebut. Saya mengabaikannya, melupakannya. Tapi kemudian pemilik nomor asing tersebut terus mengirim pesan. Meski tak intens, tapi hampir setiap hari nomor asing tersebut mengirim pesan untuk sekadar mengucapkan selamat pagi, selamat bekerja, jangan lupa makan, bahkan menjadi alarm shalat yang lima waktu.

Sayangnya, sebab tak kenal dan tidak tahu sosok rill nya, saya pun konsisten dengan sikap cuek dan tetap menjawab secukupnya, “Ya” atau “Terima Kasih”, atau kebanyakan tidak dibalas sama sekali. Ah, mungkin kalian pikir saya belagu. Tapi sejujurnya, saya hanya tidak mau memperbanyak prasangka saja, apalagi kepada orang asing yang mengaku teman kerja. Saya tak mau cari masalah.

Di pesan selanjutnya, dia mulai mengutarakan perasaan bahwa ia tertarik pada saya, menyukai saya, dan berjanji ingin menjaga saya selamanya jika cintanya diterima. Kala itu saya hanya tertawa-tawa sendirian membaca pesan dari orang asing ini. Orang fiktif menyatakan cinta? Wow, betapa percaya dirinya! Kalau berani, mengapa tidak datang secara langsung, padahal saya terjangkau secara nyata. Memangnya dia sudah kenal saya sehingga bisa tiba-tiba “cinta”? Ah, bagi saya aksinya teramat ganjil.

Terhadap pesan itu, untuk kesekian kalinya, saya mengabaikannya.

Kembali ke pesan terakhirnya, saya pun baru sadar bahwa orang yang sering mengirim pesan basa basi di Watsapp ini adalah orang yang mengirim saya sarapan pagi dengan senyum yang menakutkan, juga orang yang membunyikan klakson motor ketika saya sedang dibonceng lelaki. Saya pun spontan tertawa.

Ya ampun….

Betapa….

Betapa percaya dirinya dia, ketika berada di bilik maya. Tapi ketika dia menghadapi realita, menghadapi saya, dia hanya bisa senyum-senyum dan membisu.

Betapa dia sangat berani mengutarakan perasaan dengan niat yang abstrak, yang mungkin dilakukan untuk iseng-iseng berhadiah, padahal memperkenalkan diri sendiri secara langsung pun tidak berani.

Betapa saya jadi banyak berpikir tentang keberadaan dia, dan orang-orang semacam dia, yang punya nyali setinggi langit jika sedang bermain-main di ranah maya, tapi mendadak bisu dan pemalu ketika menghadapi dunia nyata.

Betapa kemudian saya tahu namanya pun dari rekan kerja yang lain.

Betapa kelakuannya itu membuat saya berkaca diri, lantas menyadari keganjilan perilaku yang memang kerap terjadi pada diri warga internet.

Betapa kita punya keberanian yang besar untuk berekspresi secara digital: Update status super galau, jenaka, sedih dan gembira tanpa memusingkan tanggapan orang lain; Berfoto super konyol dengan ekspresi yang dipikir cantik atau lucu; berkomentar terhadap suatu kejadian atau perilaku netizen lain; menyapa orang asing dan menawarkan pertemanan maupun jalinan kasih pada rekan maya lainnya yang dianggap menarik; dan banyak lagi perilaku super berani dalam berinteraksi di jejaring sosial.

Betapa kita juga bisa jadi sangat berani untuk berkomentar pedas, menghujat dan membuat suatu tayangangan menjadi viral, lalu kita sendiri yang menertawakan kelakuan satu sama lain.

Betapa kita sungguh berani melakukan hal tersebut, sebab bersembunyi di bilik-bilik maya, memalsukan nama, atau tidak memperkenalkan diri secara jujur di hadapan publik maya.

Betapa kita terlalu keantengan dengan dunia maya, lantas jadi canggung dengan yang nyata. Kita tidak perlu lelah melangkah bersilaturahim, sebab saling sapa bisa dilakukan dengan hanya menggerakkan jadi di depan gadget. Betapa kita jadi tak terampil menyapa atau sekadar tersenyum dengan orang-orang sekitar yang kelihatan oleh mata, tapi sangat akrobatik ketika sedang chatting dengan gebetan maya.

Betapa oh betapa…

Saya menyebut kita, sebab saya pun termasuk ke dalam pelaku yang gemar bersembunyi di bilik-bilik maya, yang beraksi dengan berani di ranah digital, tapi bisa jadi saya tak punya cukup rasa percaya diri ketika berinteraksi dengan manusia-manusia di alam nyata sehingga merasa terasingkan.

Perbedaan di antara kita mungkin ada di sisi totalitas. Ketika kamu terlalu intens di bilik yang satu, mungkin kamu akan menjadi sangat terkenal dan asyik dengan dunia tertentu. Tapi bersiaplah untuk dipandang aneh dan terasingkan, jika sedang berada di bilik yang berbeda. Kira-kira seperti itu.

Setelah pesan terakhir dari lelaki muda itu, ia tidak pernah lagi mengirim pesan watsapp pada saya lagi. Pun, ia tak pernah lagi menyengaja menemui saya untuk mengantarkan sarapan, atau mengintip saya ketika bekerja. Jika kami tak sengaja berpapasan, dia pasti selalu menghindari saya.

Ah, yasudahlah. Saya tak mau repot-repot dan memperpanjang urusan. Saya biarkan saja kelakuan itu. Anggap saja dia adalah sosok yang asing, sebab meski ada interaksi yang janggal di ranah maya, dia selalu menjadi orang asing di bilik nyata. Semoga sikap ini adalah yang terbaik untuk semesta.

*Cerita ini ditulis pada pada 03062018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s