Menyikapi Kewajaran dari Yang Datang dan Yang Hilang

born-1264699_1280

Pagi tadi saya mengunjungi salah seorang sahabat yang baru saja melahirkan. Anaknya perempuan, wajahnya merah, mungil, cantik, usia baru dua hari. Sang anak belum diberi nama, namun Sang Bunda merencanakan untuk memberikan nama “Adera”. Entah maknanya apa, tapi pasti itu adalah nama terbaik yang mengandung doa terbagus dari Ayah dan Ibunya.

Saya pun tak mau ketinggalan menyambut kedatangan manusia mungil yang baru menyapa bumi ini. Saya datang, turut berbahagia, sembari mengucapkan selamat datang di alam yang kompleks dan tampak menyenangkan ini. Tak lupa doa selamat dan sehat yang berkepanjangan turut dilantunkan, khususnya bagi bayi dan ibunya.

Di tempat yang berbeda, sahabat saya yang lainnya justru tengah mengalami situasi sebaliknya. Ia dan keluarganya tengah merelakan ibu tercinta yang berpulang, meninggal dunia. Saya tak bisa pergi melayat, karena jarak rumahnya sangat jauh. Saya hanya bisa mendoakan dari jauh, agar amal ibadah almarhumah diterima di sisi-Nya. Semoga pula, keluarga besar yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.

Begitulah manusia dengan semua ceritanya di dunia. Kita setiap hari menghadapi atau menyaksikan orang yang datang dan pergi begitu saja di tempat singgah bernama Dunia. Peristiwa kelahiran dan kematian terus berlangsung sejak zaman Nabi Adam. Seperti sebuah antrean yang panjang.

Bukankah seharusnya peristiwa-peristiwa tersebut dianggap sebagai sebuah kewajaran hidup?

Jawabannya adalah “Ya” jika situasinya, peristiwa tersebut hanya dianggap sebagai data kuantitatif. Kelahiran dan kematian dianggap wajar dan datar, hanya bagi petugas pencacatan sipil dalam dokumen-dokumennya yang menumpuk. Kedua peristiwa itu juga menjadi wajar ketika berubah menjadi data-data untuk modal laporan statistik.

Tapi jawabannya bisa juga adalah “Tidak” jika dipandang dari segi kualitatif. Perhatikanlah! Setiap kelahiran dan kematian pasti terasa eksklusif, terutama bagi orang-orang di sekitar subyek lahir dan mati. Seorang bayi lahir dan segera dianggap sebagai sesuatu yang berharga bagi kedua orang tuanya, keluarga serta teman-teman terdekat. Kedatangannya ke alam dunia juga akan memberi warna dan cerita baru bagi dirinya sendiri, serta orang-orang di sekitarnya.

Sama halnya dengan kematian. Respons pelaku kematian ketika ia dicabut nyawanya kebanyakan kaget, tidak menyangka, tidak siap. Begitu juga dengan keluarga dan sahabat yang ditinggalkan. Akan ada duka dan air mata ketika seseorang yang berharga meninggalkan kita untuk selama-lamanya, bukan?

Kewajaran dari Yang Datang dan Yang Hilang harus diamini, tapi ragam respons yang mewarnai peristiwa itu seharusnya juga dianggap wajar, manusiawi dan tidak dilakukan secara berlebihan. Maksud saya, ketika menyambut bayi yang lahir, berbahagialah sewajarnya dengan cara bersyukur banyak-banyak ke pada yang Kuasa.

Begitu pun ketika dirundung duka kesedihan dari peristiwa meninggal dunia. Berdukalah sewajarnya, jangan meratap berlebihan seolah-olah kita tidak ikhlas dengan takdir Allah. Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap kewajaran hidup yang tidak jarang memberi banyak kejutan.

Sekian.

Ini bukan apa-apa. Hanya tulisan kontemplasi saja, seperti biasanya. Sementara itu, teori-teori hidup memang lebih mudah dipaparkan, tapi praktiknya butuh diupayakan.

Ditulis pada 12072018

Sumber Gambar:  https://pixabay.com/id/lahir-meninggal-kehidupan-1264699/

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s