Nostalgia Masa Kecil

children-817365_1280

Setiap orang pasti memiliki cerita masa kecil yang berbeda-beda. Ragam perasaan selalu bermunculan ketika mengingat-ingat masa kecil, dari mulai kocak, lucu, malu, atau bahkan rindu. Bagaimana pun kisahnya, cerita masa kecil layak untuk dikenang, sebab ia merupakan salah satu faktor pembentuk kepribadian kita di masa sekarang.

Pernah suatu ketika, seorang teman bertanya, “Nia, kalau kamu diizinkan Tuhan untuk kembali ke masa lalu, dan bertemu dengan kamu pada usia lima tahun, apa yang ingin kamu katakana padanya?”

Lalu pertanyaan itu saya jawab begini:

Saya akan berterima kasih padanya, karena telah bertahan melewati rasa bingung dan terasing, sehingga mengantarkan saya menjadi pribadi yang sekarang. Dia tak pernah berpikir untuk menyerah meski kerap merasa jadi korban bully sejumlah orang. Selebihnya, ia justru sangat tangguh dan selalu bisa tersenyum, sehingga orang-orang yang menyayanginya selalu merasa lega.

Tangguh, bukan berarti dia galak dan melawan. Justru ia kerap cengeng dan penakut. Saya pikir, ia tangguh, sebab ia mampu melewati semua hal yang tidak menyenangkan itu dengan baik. Tangguh, sebab ia tak kapok apalagi mendendam. Ia bahkan belakangan sadar kalau kepayahannya di masa kecil itu hanya disebabkan hatinya yang terlalu naif dan sensitif belaka.

Saya juga mau minta maaf sama dia karena tidak sempat menemaninya di kala sendiri, sehingga dia kerap tenggelam dalam khayalan yang aneh-aneh. Saya juga seharusnya bisa menuntunnya yang selalu terburu-buru mengambil kesimpulan.

*Menuliskan hal ini, saya jadi merasa egois dan playing victim. Hmmm… Tapi saya berjanji tak akan menyalahkan siapa-siapa. J

***

Sejujurnya, masa kecil saya tak bisa dibilang sepenuhnya membahagiakan, makanya ada banyak hal yang terlupakan dari ingatan, karena mungkin saya merasa hal-hal itu tak layak diingat. Dari sisa-sisa ingatan yang berserakan, saya mengingat masa kecil saya yang kerap dipenuhi tangisan, juga perasaan takut ditinggalkan.

Jika anak-anak lazimnya dibelikan banyak mainan oleh orang tuanya, saya justru tidak bisa mendapatkan kenangan itu. Bahkan untuk minta jajan Choki-Choki yang harganya seratus rupiah saja sulitnya luar biasa. Meski saya sudah memelas dan menangis pun tetap saja tidak diberi. Ketika itu saya tak paham kalau orang tua saya sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Tidak diberi mainan, bukan berarti saya tidak punya kesempatan bermain. Justru saya jadi berinisiatif untuk membuat mainan sendiri. Mungkin generasi 90-an tahu dengan permainan boneka dari kertas, yang punya baju-baju yang lucu dari kertas pula. Nah, kalau anak-anak lain membelinya di warung, lalu tinggal menggunting dan memainkannya, maka saya dan kakak-kakak justru menggambar dan mewarnainya sendiri.

Kami menggambar boneka-boneka yang menurut kami cantik, membuat baju-baju yang lucu, bahkan mendekorasi rumah mereka agar tampak nyaman dan bisa menemani kami dalam membangun cerita imajinasi.

Hal yang sama kami lakukan pada boneka Barbie. Ketika kehendak hati kala itu ingin sekali membeli boneka-boneka rupawan itu, tapi Emak menolak membelikannya, maka saya memutuskan untuk membuat boneka sendiri dari buntalan kain dan benang. Sungguh mengesankan.

***

Saya harus bersyukur, karena rupanya masih banyak kenangan baik yang merangkul di masa lalu. Itu membuat saya bisa bertahan hingga saat ini. Maaf karena saya tak bisa merincinya di sini, tapi kenangan-kenangan “bahagia” sangat bisa diandalkan untuk pelipur lara serta penyemangat di kala sedih melanda.

Ya, seharusnya seorang Nia saat ini berkaca pada perjuangan dan kebertahanan Nia kecil. Ia telah susah payah mengantarkan saya hingga menjadi seperti ini. Hatur nuhun.

Sekian.

02072018, jelang tidur dan ,asih mendengarkan lantunan suara Ryuta Yamamura, Kotoshi No Sakura-Flumpool.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s