Mengapa Kita Merasa Kecewa?

gorilla-1416459_1920
Sumber Gambar dari Sini

Ku ingin marah… Melampiaskan

Tapi ku hanyalah… Sendiri di sini

Ingin kutunjukan… Pada siapa saja yang ada

Bahwa hatiku… Kecewa…

***

Hayo ngaku, siapa di sini yang baca sambil nyanyi-nyanyi dalam hati?!

Sebagai informasi bagi pembaca yang belum tahu, rangkaian kalimat bercetak miring di atas merupakan penggalan lagu dari Bunga Citra Lestari yang judulnya “Kecewa”. Lagu ini bercerita tentang ungkapan hati seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Lalu karena tenggelam dalam penantian dan harapan yang tak terbalas, ia mengungkapkan rasa kecewanya sambil melantunkan lagu.

Tapi di sini saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang lagu tersebut, justru ingin berfokus pada kata “Kecewa” yang berpeluang dirasakan oleh semua manusia yang bernyawa. Kecewa bermula ketika kita menaruh harapan atau berekspektasi terhadap sesuatu atau seseorang. Harapan tersebut mungkin menimbulkan kebahagiaan dan rasa senang.

Ketika harapan itu terkabulkan, lengkaplah kebahagiaan yang sudah dimulai itu. Namun ketika harapan dan ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan, maka rasa sakit hati yang kecewalah yang akan didapatkan. Teorinya, semakin besar harapan, semakin dalam pula rasa kecewa yang akan terasa.

Contoh kecil soal kecewa bisa kita saksikan di kalangan remaja. Kebanyakan dari mereka merupakan golongan yang masih canggung menyambut cinta. Ketika ada perasaan suka kepada lawan jenisnya, ia berharap perasaan itu terbalas. Tapi rupanya si gebetan malah menyukai teman dekatnya sendiri. Kecewalah ia, lalu galau sambil bernyanyi lagu Pupus-nya dewa 19: “Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan”.

Mengenaskan!

Contoh lain bisa terjadi di ranah rumah tangga. Misalnya seorang istri selalu bersikap setia dan berusaha melayani suaminya dengan baik. Ia berharap suaminya memiliki perasaan yang sama, dan akan selalu menjadikan ia sebagai istri satu-satunya.

Seiring berjalannya waktu, ketika kehidupan rumah tangganya tampak sempurna, kejadian tak diduga datang bagai petir di siang “berlubang”. Sang suami minta izin untuk poligami, alias ingin menikah lagi. Kecewalah si istri. Bahkan kadar kecewanya bisa dibilang sebagai “sebenar-benarnya kecewa”.

Tidak melulu karena punya harapan. Kecewa juga bisa berpeluang terasa ketika kita punya rasa sombong di dada, baik disadari maupun tidak. Misalnya, kita merasa sebagai orang yang pintar dan selalu jadi teladan. Orang di sekeliling juga sudah sangat mengakui kecerdasan otakmu, sehingga kerap diandalkan.

Itu merupakan perasaan sombong yang seharusnya tidak dipelihara. Kita boleh menjadi pintar dan dibanggakan, tapi jangan sampai termakan dengan pujian. Justru pujian itu harus jadi ujian agar kita bisa menjaga hati dan terus meningkatkan kualitas diri.

Ketika kita termakan rasa sombong, bisa jadi Tuhan akan memberi teguran, misalnya nilai ulangan kita dikalahkan oleh teman yang kerap kita remehkan. Atau teguran bisa lebih keras lagi, misalnya kamu tidak lulus ujian. Lalu rasa kecewa yang mendalam akan muncul, disertai kesedihan dan putus asa.

Contoh lainnya, ketika kita merasa sudah tegak finansial, hidup dengan limpahan harta di mana-mana. Lantas kita merasa menjadi orang yang patut dihormati karena kekayaannya. Benar saja, orang kaya memang cenderung dihargai oleh masyarakat, bukan? Nah, tahu-tahu Tuhan mengingatkan agar tidak berlaku sombong dengan menghadirkan keturunanmu yang nakal dan pembangkang. Ketika sekelilingmu menghormati, sementara anakmu berani membentak, pasti akan terasalah rasa kecewa hingga sesak di dada.

***

Mungkin adalah sifat manusiawi jika manusia ingin meramaikan hati dan hidupnya dengan serangkaian harapan, atau mengapresiasi dirinya sendiri dengan perasaan positif semisal merasa cantik, pintar, terhormat. Tapi jika kadar perasaan itu berlebihan, jatuhnya malah akan mengenaskan. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu akan mengganggu kesehatan jiwa dan raga?

Kalau kata Kiai Jejen, berharap yang berlebihan dibolehkan, tapi jika itu hanya ditujukan kepada Allah. Sebab berharap kepada-Nya tidak akan menumbulkan rasa kecewa. Masih kata Kiai Jejen, mengapresiasi dan memuji diri sendiri juga bisa-bisa saja, tapi kemudian pujian itu harus dikembalikan kepada Allah Swt.

Jadi, mengapa kita merasa kecewa? Mari bernyanyi saja bersama-sama.

Sekian. 😀

11072018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s