Dari waktu ke waktu, perempuan dan kecantikan tidak pernah selesai jadi bahan perbincangan orang. Entah siapa yang mengawalinya, tapi hingga kini perempuan tertuntut untuk selalu tampil dan berperilaku secara cantik baik untuk dirinya sendiri maupun ketika tampil di ranah publik. Untuk apakah kalian menjadi cantik, Wahai Perempuan? Apakah agar kami mencintaimu?

Faktanya, tuntutan menjadi cantik tak pernah berhenti berteriak dan memberi instruksi. Bak gayung bersambut, kalangan perempuannya pun konsisten menyepakati, bahwa mereka memang harus cantik untuk ragam kebutuhan. Utamanya dalam hal mengapresiasi diri perempuan itu sendiri yang kabarnya sudah punya bakat cantik sejak lahir.

Lantas apa dan bagaimana ketika seorang perempuan disebut cantik?

Kata orang bijak, cantik itu relatif. Jika kamu menganggap Neng Aisyah cantik, maka bisa jadi kata Mang Asep biasa-biasa saja. Sebab menurut Mang Asep, perempuan tercantik di dunia adalah Neng Jamilah. Kamu tak bisa protes dan memaksakan pendapatmu, sebab tak mudah mengendalikan selera orang terhadap suatu hal, bukan?

***

Meski relatif, tetap saja orang-orang menetapkan standar kecantikan perempuan. Setidaknya dalam artikel kali ini saya membagi alasan standardisasi kecantikan ke dalam dua bagian, yakni untuk kebutuhan komersil, dan tujuan selanjutnya adalah untuk kepentingan kekuasaan yang “misterius”.

Mari terlebih dahulu kita bahas poin yang pertama. Standar kecantikan yang banyak kampanyekan oleh kalangan pengusaha melalui iklan-iklan yang massif adalah visual perempuan yang berbadan tinggi semampai dan langsing serta punya kulit bagus tur mulus (tidak perlu melulu putih). Dilihat dari wajahnya, seorang perempuan bisa dikatakan cantik jika ia memiliki hidung mancung, bibir tipis, pipi tirus dan mata yang bersinar.

Visualisasi perempuan cantik makin dimudahkan dengan ragam contoh wajah cantik yang dipamerkan. Kalangan artis seperti Dian Sastrowardoyo, Chelsea Islan, Ayu Ting-Ting dan kawan kawannya merupakan contoh ideal dari apa yang disebut cantik.

Mendukung penampakan wanita-wanita cantik ala-ala iklan televisi, diadakan pulalah ragam kontes kecantikan semisal Ratu Sejagat, Putri Indonesia, Miss World dan kompetisi lainnya yang pada intinya ingin menetapkan standar kecantikan dengan kriteria tertentu agar disepakati orang-orang di seluruh dunia.

Lantas para wayang cantik itu akan menjadi pion utama dari promosi produk kosmetik serta alat-alat kecantikan lainnya. Orang-orang pun senantiasa terpana dan menginginkan unsur kecantikan itu ada di diri mereka, atau dimiliki mereka, serta ada di sekeliling mereka.

Tindak lanjut dari aksi pameran kecantikan komersil adalah laku kerasnya produk-produk kecantikan yang beragam dan saling bersaing satu sama lain. Tak cukup hanya produk dan perangkat perawatan, dampak dari cantik yang distandarkan berdasarkan nafsu komersil adalah terpeliharanya praktik-praktik “Cantik Abrakadabra”.

Maksud saya, banyak orang yang bisa cantik secara instan asalkan ia punya uang banyak dan rela bersakit-sakit ria sejenak. Praktik implan bagian tubuh tertentu, bedah rekonstruksi wajah dan tubuh, sulam alis dan bibir, sedot lemak, tarik benang dan tindakan berbayar lainnya sudah menjadi hal lazim, bahkan diapresiasi.

weddings-2784455_1920

Kalau kamu sudah cantik untuk mengikuti standar komersil, apakah aku harus mencintaimu?

***

Standar kecantikan yang selanjutnya adalah yang ditetapkan untuk kepentingan kekuasaan yang misterius. Hasil dari standardisasi tersebut biasanya bersifat parsial di mana ia disepakati oleh komunitas tertentu, tapi mungkin dianggap aneh bahkan mengerikan oleh komunitas lainnya. Standar kecantikan jenis juga tak jarang ditentang dan sifatnya tidak lestari.

Mari saya sebut beberapa contoh, misalnya tradisi ikat kaki di zaman Dinasti Xia, Cina Kuno. Perempuan dipandang cantik apabila dia memiliki kaki yang kecil seperti Bunga Lili. Kaki dilipat dan diikat sejak perempuan berusia 5-8 tahun. Rasanya menyakitkan dan bisa berdampak kematian, tapi demi tradisi dan kecantikan, rasa sakit itu harus diterima.

Mungkin kita dan manusia di zaman sekarang kebanyakan tidak mengerti. Tapi menurut tradisi saat itu, kaki yang kecil membuat langkah perempuan menjadi sulit dan lambat, dampaknya ia akan terbiasa berada di rumah dan menjadi tanda terampil mengurus rumah tangga.

tradisi wanita
Sumber Gambar dari Brilio.net

Tradisi lainnya yakni meruncingkan gigi yang dilakukan oleh para perempuan di suku tertentu di Mentawai. Gigi diruncingkan dengan kayu atau alat dari besi, sehingga para wanita dewasa suku tersebut merasa cantik karenanya.

Lain cerita dengan Suku Mursi di Ethiopia. Ukuran cantik bagi masyarakat di sana adalah ketika para perempuan memiliki ukuran mulut yang lebar. Cara yang digunakan cukup mengerikan yakni dengan mengiris bagian bibir bawah sepanjang satu sampai dua sentimeter lalu dimasukkan piringan bulat ke dalam irisan luka tersebut (Brilio.net).

Banyak lagi hal-hal aneh yang menurut suatu komunitas dianggap cantik, namun menurut orang kebanyakan malah membuat ngilu. Sebaliknya, mungkin standar kecantikan komenrsil dipandang ganjil dan aneh oleh orang-orang yang punya standar kecantikan mandiri seperti saya sebut di atas.

Jika kamu merasa cantik berdasarkan standar komunitas tertentu, atau berdasarkan tradisimu yang dianggap unik, apakah aku harus mencintaimu?

***

Pada kenyataannya, cantik memang relatif, memiliki banyak sudut pandang, serta begitu subyektif, meski kita bisa menyesuaikan apa yang dipandang cantik di suatu lingkungan dunia, untuk kemudian mengupayakannya jika ingin.

Tapi dari hal yang relatif tadi, berbalik pada keputusan si perempuan, apakah ingin sekadar menjadi obyek pembuat standar, atau memutuskan untuk membuat standar kecantikannya sendiri. Maksud saya, Tuhan telah menciptakan semua manusia dengan sebaik-baiknya ciptaan. Kita sempurna karena diberi fisik yang bisa membantu kelancaran berpikir, bekerja dan beribadah, pun memiliki akal dan pikiran yang membuat keberadaan diri jadi bermakna.

Ketika seorang perempuan hanya fokus mengupayakan diri agar bisa dipandang cantik oleh pandangan banyak orang, mungkin dia akan sering kali merasa kelelahan dan kesakitan, serta jarang bahagia, sebab standar penilaiannya adalah manusia, di mana mungkin kebahagiaannya adalah ketika orang-orang memuji. Namun jika perempuan bisa mengapresiasi keberadaannya di muka bumi, fokus meningkatkan kualitas diri untuk jadi berguna bagi banyak orang, pasti kecantikan itu akan datang sendiri.

Bukan berarti pula perempuan tidak perlu merawat dan mempercantik diri. Saya pun yang tinggal di tengah serbuan standar kecantikan komersil, pasti ingin selalu tampak cantik, apalagi di depan gebetan. Saya juga selalu risih jika tampil di depan publik dengan wajah yang kusam serta bibir yang pucat atau bau keringat. Perawatan dan perlindungan fisik tetap perlu diupayakan, tapi lakukanlah sewajarnya. Teorinya, penerimaan terhadap diri adalah bekal pertama agar kita bisa bergerak dengan percaya diri.

Dan sesungguhnya, praktik selalu lebih sulit ketimbang teori.

Cantik pada akhirnya hanya masalah sudut pandang, yang idealnya tak perlu terlalu difokuskan. Buatlah definisi cantikmu sendiri, dengan cerdas mengapresiasi keberadaan diri di muka bumi sebagai salah satu makhluk Tuhan yang berharga. Jika itu sudah terjadi, pasti kamu sudah cantik dan aku harus mencintaimu sepenuh hati.

Nb: Ini hanyalah teori. Sebagai penulis, faktanya saya pun masih mengupayakan agar bisa konsisten mengapresiasi diri setiap hari. Semoga kita semua selalu berbahagia dan saling mencintai setiap hari.

***

Referensi:

https://www.brilio.net/duh/10-tradisi-menyakitkan-yang-dijalani-perempuan-dari-berbagai-negara-160428z.html

Sumber Gambar:

https://pixabay.com/id/menyusun-monyet-wanita-tertawa-2925179/

https://pixabay.com/id/pernikahan-2784455/

https://www.brilio.net

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s