Katanya, tamu datang ke rumah membawa berkah dan rezeki. Maka dari itulah, siapapun dan berasal dari mana pun si tamu, selama ia menunjukkan iktikad baik, tuan rumah harus selalu menyambut dengan baik, memuliakan dan menjamunya dengan terhormat.

Sejatinya, tamu merupakan orang asing, orang yang di luar penghuni rumah, yang datang berkunjung, biasanya masuk lewat pintu depan rumah dan mengucap salam. Tamu yang datang ke rumah bisa berupa tetangga, saudara, teman-teman sebaya, sales produk komersial, calon besan, atau orang-orang asing lainnya yang kerap tak terprediksi maksud dan tujuannya.

“Tamu harus dimuliakan,” begitulah anjuran dari Nabi Muhammad Saw. Mengapa tokoh penting dan panutan ini sampai sebegitunya menekankan akan pentingnya memuliakan tamu? Padahal perilaku ini tampak sepele dan semua orang pasti bisa melakukannya, apalagi ini adalah anjuran dari Rasulullah tercinta.

Sebab dalam praktiknya, banyak tuan rumah yang kerap mengabaikan tamu-tamu yang datang, apalagi jika kedatangannya diprediksi akan merepotkan dan mengganggu ketenangan.

Jangan jauh-jauh, sebab perilaku ini terjadi dalam rumah saya sendiri—Ralat: ini rumah ibu saya, dan saya masih dalam status menumpang sebab belum mandiri, hehe.

Rumah kami istimewa, sebab setiap hari pasti ada saja tamu yang datang. Tak cukup sampai di sana, rumah kami dalam sehari bisa sampai kedatangan lima sampe sepuluh kunjungan, atau mungkin lebih. Meski di saat-saat tertentu, bisa juga rumah kami terasa damai dan tidak ada tamu yang datang.

Apa sebab? Rumah ibu saya bisa dikatakan Rumah Publik. Lokasinya di dekat Yayasan Pendidikan, dan kebetulan keluarga kami merupakan bagian dari keluarga, pengurus dan pengelola sekolah yang ada di bawah naungan yayasan. Posisi ibu sebagai guru sekaligus bendahara Yayasan merupakan magnet terbesar yang membuat beragam tamu datang ke rumah.

Lantas kamu bertanya: Loh, memangnya di Yayasan tidak ada kantor?

Jawabannya, Ada. Namun rumah saya ada di kampung yang mengedepankan sistem kekeluargaan. Kantor sekolah juga difungsikan, tapi kegiatan menerima tamu untuk mengurus ragam kepentingan juga bisa dilakukan di rumah, karena ibu juga seorang ibu rumah tangga. Selama urusan bisa selesai, tempat bukan lagi urusan.

Dalam posisinya sebagai Guru dan Bendahara, maka tamu yang datang terdiri dari rekan guru lainnya, para siswa yang mau bayar SPP, serta kepala sekolah yang ingin membicarakan soal dana ini dan itu berikut administrasinya. Praktik pemberkasan dan persiapan sertifikasi pun selalu dilakukan di rumah, yang mana prosesnya sampai makan waktu berhari-hari.

***

Rumah kami juga menarik kedatangan tamu dari masyarakat sekitar. Lagi-lagi, posisi ibu saya lah yang membuat semua orang datang yakni sebagai pemegang arisan ibu-ibu, bendahara masjid, pengurus pengajian, anggota koperasi desa, serta kolektor pembayaran listrik masyarakat. Alhasil, para tetangga kerap datang untuk bayar arisan, bayar listrik dan urusan-urusan masyarakat lainnya. Para tamu betah karena kunjungan-kunjungan itu selalu diselingi dengan obrolan basa-basi dan rumpi yang terdengar asyik.

Anak-anak tetangga tak mau ketinggalan eksis. Setiap ba’da shubuh dan maghrib, puluhan bocah berbondong-bondong datang ke rumah untuk mengaji. Lagi-lagi ibu yang tangannya terbuka untuk mempersilakan mereka untuk belajar mengaji dan hapalan Alquran secara cuma-cuma. Anak-anak juga tampak nyaman dan disiplin belajar, sebab metode pembelajarannya tanpa paksaan apalagi hukuman.

***

Kamar mandi yang terletak di belakang rumah kami juga menjadi daya Tarik terbesar tamu yang datang. Biasanya, para siswa sekolah yang tak mau antre berwudlu di masjid akan bergerombol datang ke rumah dan mengucap “Assalamualaikum” dilanjutkan dengan password “Ibu, ngiring abdas,” alias “Numpang berwudlu”.

Setelah dipersilakan, mereka akan masuk, berwudlu, numpang ngaca, numpang ngerumpi sejenak, lalu pergi lagi. Kebiasaan ini berlangsung setiap hari sehingga para siswa itu mungkin sudah menganggap kamar mandi di rumah kami adalah kamar mandi milik umum. Saking santainya, ada beberapa mereka yang jadinya asal masuk saja tanpa salam, langsung menerobos dapur dan masuk kamar mandi. Luar biasa, bukan!

***

Ada ibu dengan segala perannya, ada kamar mandi, ada satu hal lagi yang jadi daya tarik orang bertandang sebagai “Tamu”. Yakni disebabkan keberadaan satu set computer yang dilengkapi jaringan internet, mesin print dan fotokopi. Keberadaan perangkat-perangkat tersebut sebenarnya untuk penggunaan pribadi dan mengurus kepentingan sekolah.

Tapi kemudian para murid dan santri satu persatu datang, mau numpang internetan, ngeprint, atau mengerjakan tugas bikin makalah. Sebenarnya di sekolah juga ada Laboratorium Komputer yang terkoneksi internet dan para murid dipersilakan untuk menggunakannya. Namun bagi mereka yang tidak mau antre, atau mau lebih eksklusif, akhirnya rumah ibu diburu dan dieksploitasi.

***

Kebayang kan, betapa ramainya rumah kami kedatangan tamu dengan ragam kepentingan itu?

Tapi bagi saya, ramai atau sepinya suatu rumah tak jadi soal. Sebab setiap tamu adalah istimewa, idealnya siapapun yang datang seharusnya disambut dengan rasa hormat. Penyambutan tamu, entah intensitasnya jarang ataupun sering, tetap harus dilakukan dengan senyum dan sapa. Jangan sampai membuat orang asing kecewa dan meninggalkan kesan jelek untuk para penghuni rumah.

Sayangnya, hal-hal yang ideal dan menjadi anjuran dari Rasulullah kerap tidak dibarengi dengan pelaksanaan yang sesuai. Kebanyakan dari kita tahu benar teori dan hal-hal yang seharusnya dilakukan, tapi sungguh kerap berat dalam pelaksanaannya.

“Apa yang berat dari memuliakan tamu?” kalian lantas bertanya.

Tidak ada yang berat, tapi cobalah perhatikan dirimu sendiri, atau orang-orang di sekitar ketika sedang menyambut tamu. Akhlaknya pasti berbeda-beda bergantung pada kondisi, latar belakang dan penampilan tamu yang datang.

Jika tamunya adalah pejabat, maka beragam suguhan lezat dan sapaan super ramah pasti akan diupayakan. Tapi beda urusan jika yang datang sales produk rumah tangga atau mereka yang minta sumbangan untuk pembangunan masjid anu. Mungkin jarang tuan rumah yang memberi suguhan, walaupun itu hanya secangkir teh hangat.

Di rumah kami, cara penyambutan tamu sebenarnya tak seekstrem itu. Ibu selalu mengajarkan kami agar selalu setara dalam menyambut tamu, siapapun orangnya. Makanya di dapur selalu sedia teh, kopi, juga air yang siap dipanaskan agar bisa diberikan pada para tamu yang ramai-ramai datang ke rumah.

Masalahnya justru ada pada penghuni rumah lainnya, ketika ibu tidak ada di rumah. Ada sekitar lima orang yang ada di rumah ibu, yakni anak-anaknya. Saya termasuk di dalamnya. Ketika ada tamu yang datang, dengan mengetuk pintu atau mengucap salam, pasti kami tidak langsung menjawabnya, melainkan menunggu penghuni lain menjawabnya.

Karena saling tunggu, jadinya malah tidak ada yang jawab. Tamu pun kerap dibiarkan menunggu lama di luar, sampai kemudian ada satu di antara kami yang malas. Lantas kami akan menghitung giliran, kalau sudah menyambut tamu sebelumnya, seharusnya tamu berikutnya disambut oleh yang lain. Semacam itulah.

Alasannya macam-macam, termasuk alasan saya. Dari mulai sedang sibuk mengerjakan sesuatu, malas pakai kerudung, sampai malas tanpa alasan. Begitulah kelakuan kami. Sebab mungkin di pikiran saya, itu tamu berkepentingan pada ibu, padahal ibu saya sedang tidak di rumah.

Ketika tamu sudah datang, dan ibu saya menyambutnya, masalah penyambutan tamu selanjutnya ada di penyediaan suguhan. Kami kerap saling mengandalkan pula untuk menentukan siapa yang sudi membuat dan mengantarkan segelas teh hangat atau kopi ke ruang tamu.

Begitulah kami. Maafkan ya, para tamu yang mulia.

Kalau mau pakai alasan, mungkin kami atau saya sendiri ingin minta dimaklumi karena terlalu bosan dengan saking banyaknya tamu yang datang. Alasan lainnya, karena saya tidak bisa terus-menerus copot-pasang kerudung di rumah untuk menyambut tamu yang datang.

Tapi rupanya itu adalah alasan belaka. Sejatinya, akhlak saya pasti belum baik dalam menyambut tamu. Sementara, akhlak adalah perilaku spontan yang bisa menunjukkan bagaimana sejatinya karakter dan kepribadian kita secara jujur.

Saya dan kita semua pasti tahu betul bahwa memuliakan tamu adalah suatu hal yang sangat baik, keksempatan bagi kita untuk dapat berkah dan rezeki. Tapi realitanya, akhlaknya, dan spontanitasnya malah berkebakikan.

Untung saja di rumah ini masih ada ibu yang selalu jadi pengingat, tak bosan menegur, agar kami bisa kompak menjadi baik akhlaknya dalam menyambut tamu. Beruntungnya kami, bukan? Dan bagi para tamu, tolong jangan cemas apalagi khawatir.

Sebab kami tak punya nyali untuk benar-benar mengabaikan kalian, apalagi bersikap tidak ramah. Konflik “saling mengandalkan” di dalam rumah cukup jadi urusan kami saja untuk menyelesaikannya. Termasuk urusan saya dalam memperbaiki akhlak ketika menerima siapapun tamu yang datang.

Kalian hanya perlu tahu, bahwa rumah kami selalu akan terbuka buat para tamu, dan kami punya gelas-gelas yang siap menyuguhkan teh serta kopi pakai gula.

Kiranya demikian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s