Belajar Kompleksitas Indonesia dari Gus Dur (Review Buku Prisma Pemikiran Gus Dur-Abdurrahman Wahid)

IMG_20180704_152052

Judul Buku: Prisma Pemikiran Gus Dur

Penulis: Abdurrahman Wahid

Penerbit: LKiS

Tahun Terbit: 2010

Jumlah Halaman: 290

Harga Buku: Lupa Lagi

***

“Memonopoli kebenaran, itu yang salah, kita harus meluaskan intelektual Muslim jika kita hendak sungguh-sungguh” (Gus Dur, Halaman 203)

***

Bagaimana mempelajari Indonesia di tengah segala kompleksitas yang berserakan? Untuk menemukan formulasinya, dibutuhkan penelitian dan pengkajian yang sabar, sehingga kita dapat menempatkan diri sebagai manusia Indonesia yang memberi solusi, bukannya terus-menerus bermulut “lemes” dan bisanya hanya mengutuki kegelapan.

Salah satu pengkajian seputar Indonesia bisa kita dapatkan dari sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Almarhum). Sebagai bapak bangsa, ia punya sumbagan pemikiran di masa lalu yang cukup berharga dalam bentuk tulisan. Ditulis dalam rangkaian esai yang dimuat di Jurnal Prisma.

Meski merupakan tulisan-tulisan yang ditulis ketika muda, jauh sebelum ia didaulat menjadi Presiden, konten tulisan masih sangat relevan untuk jadi bahan kajian di situasi Indonesia kekinian. Lebih jauh, di dalamnya bahkan terdapat ragam sumbang solusi yang lahir dari sejumlah penelitian empiris berbasis data.

Dalam kumpulan essai Gus Dur yang dibukukan ini, kita bisa dapat “Kuliah Gratis” terkait beberapa hal. Di antaranya yakni seputar hubungan agama, negara dan masing-masing ideologi yang dipeluknya, untuk sumbangan pembangunan. Pembahasan menarik lainnya yakni posisi komunitas Islam sebagai mayoritas yang kerap jadi sumber inspirasi juga konflik.

Hukum Islam dan gerakan mahdisme, misalnya, adakah ia relevan untuk menjadi sumber kekuatan masyarakat dan kemajuan Indonesia secara umum. Terkait hal ini, Gus Dur punya pandangan sendiri yang berfokus mencari apa yang positif dari segala hal, namun tetap tegas menolak jika hal tersebut berbahaya untuk bangsa yang ia cintai.

Gus Dur juga menekankan tentang pentingnya perubahan struktural dalam menghadapi masalah masyarakat semisal individualisme negatif dan apatisme (Halaman 17). Meski begitu, ketika ia menggulirkan sumbang solusi, Gus Dur selalu cenderung melihat dari sudut pandang yang positif. Misalnya ketika ia menilai gerakan Mahdisme. Gus Dur menegaskan semangat gerakan tersebut sejatinya berpotensi menjadi pelopor pembangunan jika berhasil “dimasyarakatkan” dengan cara yang baik.

Peran pesantren tak luput dari obyek bahasannya. Sebagai salah satu tokoh masyarakat di dunia kepesantrenan, Gus Dur sangat tahu tentang posisi pesantren, sejarahnya, santri-santri, kiayinya serta ragam permasalahan yang mengikutinya dari masa ke masa. Berujunglah ia pada dua pokok permasalahan di pesantren, yakni terkait pembiayaan serta regenerasi (halaman 118).

Pembahasan lainnya dalam buku yakni pergerakan masyarakat dalam kelompok-kelompok islam yang beragam, para intelektual di tengah eksklusivisme, perihal hak azasi manusia dan perubahan masyarakat, serta tak ketinggalan pembahasan yang berbasis global seperti cerita konflik panjang Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Membaca cerita Gus Dur dari Bab satu ke Bab selanjutnya bagi saya membutuhkan tingkat konsentrasi super. Pun ketika ingin menuliskan reviewnya, dibutuhkan tingkat percaya diri yang lumayan tinggi. Mengapa, sebab tingkat intelektual saya yang alakadarnya harus berhadapan dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur yang luas dan kompleks.

Banyak kalimat majemuk yang kompleks dan diwarnai istilah-istilah akademik yang menuntut saya untuk mengecek KBBI di bagian pembahasan. Untungnya, beliau masih berbelas kasih dengan membuat tulisan kesimpulan di setiap paragraf akhir sehingga pembaca akan bisa bernapas lega dengan uraian yang lugas dan to the point.

Tidak lengkap jika membaca tulisan Gus Dur di masa muda tanpa mengenal lebih dekat sosoknya. Pembaca tidak cukup dengan mengenal dia sebagai sosok Ketua Umum PBNU serta Presiden ke-empat RI yang membanggakan. Agar kesan dan pandangan jadi berimbang, kita juga harus memandang dan memahami Gus Dur sebagai sosok istimewa yang tak sepi kontroversi.

Maka teramat bijak bagi pihak penerbit yang mempersilakan Greg Barton (penulis biografi Gus dur) dan Hairun Salim untuk menuliskan kata pengantar. Keduanya sangat apik menerangkan tentang posisi Gus Dur, latar belakangnya, tulisan-tulisannya di Prisma yang tertuntut solutif serta bagaimana tulisan-tulisan lawas itu masih bisa relevan untuk sumbangsih pemikiran keindonesiaan dari masa ke masa.

Memahami Islam yang toleran dari kaca mata Gus Dur juga bisa jadi asyik jika kita tahu tentang Gus Dur yang dianggap tokoh intelektual yang liberal, tapi juga seorang pemimpin kelompok keagamaan yang diperhitungkan, bahkan dianggap wali. Meminjam kata Greg Barton, Gus Dur bahkan kerap dituding munafik, inkonsisten serta penjilat, tapi di sisi lain ia juga dianggap sebagai pahlawan kaum minoritas dan asset berharga milik Indonesia.

Masih kata Barton dalam pengantarnya, Gus Dur sangat cinta kepada Islam Tradisional tapi juga frustrasi terhadap budaya tradisional. Gus Dur juga terbiasa bermain di lingkaran pusat dan menjadi pemeran utama, pun menjadi pangeran dan penerus suatu komunitas yang mana ia merasa bertanggung jawab menjaga masyarakatnya dan rakyatnya itu. Dari posisi dan situasi tersebut, tak heranlah jika Gus Dur dinilai sebagai sosok kontroversial karena ia cenderung menempatkan diri di situasi bahaya dan tersudut dalam upaya menggeser kemapanan.

Akhir kata, selamat membaca!

04072018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s