“Iblis Boogeyman dalam diri John telah tertidur bertahun-tahun. Hanya perlu sedikit penyulut—anjing lucu pemberian mendiang istrinya dibunuh—hingga sang iblis terbangun dan marah. Agenda balas dendam dirancang. Pembantaian pun dimulai.”

***

Sebagaimana judulnya, film ini bercerita tentang seorang lelaki biasa bernama John Wick (diperankan oleh aktor tampan Keanu Reeves). Pada awal cerita, digambarkan sosok John sebagai lelaki biasa yang tengah bersedih karena kehilangan istri yang begitu dicintainya. Di momen duka tersebut, istrinya mengirimkan kenang-kenangan terakhir berupa anjing lucu yang diharapkan dapat mengobati rasa kehilangan dan kesepian di hidup John Wick.

Suatu hari, ia membawa anjing lucu itu naik mobil pribadinya ke suatu tempat latihan keberanian. Di tengah perjalanan, John menyempatkan diri untuk mengisi bensin, lantas bertemu dengan beberapa “orang asing”. Salah seorang dari mereka tertarik untuk membeli mobil John, pun menyapa anjing kesayangannya. Atas tingkah menyebalkan itu, John tentu saja menolak dan mengabaikannya.

Tak disangka, pada malam harinya ia kedatangan tamu tak diundang. Ternyata orang asing yang ia temui di pom bensin datang lagi dan membuat keributan. John diserang, anjingnya dibunuh, mobilnya dicuri. Atas kejadian tersebut, John seharusnya segera lapor polisi, menelusuri keberadaan mobilnya, serta merelakan anjingnya mati.

Sayangnya John bukanlah pria biasa. Ketika kehidupan pribadinya seenaknya diusik, iblis Boogeyman yang bersemayam dalam dirinya bangkit, memberikan energi baginya untuk melakukan agenda balas dendam yang fenomenal bahkan tak terlupakan.

Begitulah sekilas cerita awal film yang disutradarai oleh Chad Stahelski dan David Leitch itu. Agenda balas dendam makin kompleks, sebab pelaku pembunuhan anjingnya adalah anak mantan atasannya bernama Viggo Tarasov (diperankan oleh Michael Nyqvist). Ia merupakan seorang bos mafia sekaligus pengusaha barang illegal Rusia.

Upaya perlindungan terhadap “Putra Mahkota”, Yusef Tarasov (diperankan oleh Alfie Allen) diupayakan. Si Bos Mafia lantas memberi tahu penonton tentang jati diri John Wick yang pernah mencatatkan sejarah sebagai pembantai yang patut diwaspadai. Saking berbahayanya, John Wick dijuluki Baba Yaga alias Boogeyman.

Sebagaimana cerita yang beredar, Boogeyman merupakan hantu yang menyeramkan, di mana kedatangan dan kepergiannya tak terprediksi, muncul dan lenyap seperti angin. Julukan tersebut diperoleh John bukan tanpa alasan. Di dunia mafia yang gelap dan penuh misteri, John dikenal sebagai seorang pembunuh profesional dan terampil mengeksekusi target tanpa menemui kesulitan.

Agenda balas dendam pun dimulai, diiringi dengan agenda perlawanan dari target yang akan dieksekusi. Saking terampilnya, John mampu melakukan perlawanan, bahkan menyerang banyak musuh yang memegang senjata, padahal dia hanya sendirian. Meski ganjil, tapi penonton dibwa untuk percaya bahwa John memang benar-benar pembantai yang terampil.

Selanjutnya, penonton akan disuguhkan dengan adegan tembak-menembak yang ekstrem, kejar mengejar mobil hingga saling tabrak dan rusak, perkelahian yang melelahkan dan berdarah-darah serta adegan kekerasan lainnya.

Menonton film ini cukup membuat saya terperangah, tapi juga kelelahan. Target John Wick punya banyak penjaga dan semuanya harus rela mati kena hajar dan tembak. Nyawa mereka semacam tidak berarti, dan hanya jadi adegan pertunjukan yang ngeri.

Karena itulah, hampir semua scene di film ini patut diacungi jempol. Sinematografi, adegan perkelahian dan kekerasan yang seperti nyata, percakapan dan alur cerita yang hidup terasa apik dikemas seperti sungguhan. Penggunaan properti yang digunakan pun tampak maksimal. Kita kemudian bisa dengan jelas melihat mobil-mobil yang dirusak serta ruangan dan hotel serta gedung yang porak-poranda dan diledakkan. Pasti film ini punya modal ampun-ampunan.

Di luar adegan kekerasan yang cukup melelahkan, penonton juga bisa sedikit punya gambaran tentang kehidupan mafia yang bergelimang harta dan kesenangan, tapi juga penuh risiko dan tersembunyi. Ada layanan khusus bagi para kriminal dan pembunuh di lingkungan dunia bawah, dan seluruhnya luput dari jerat hukum maupun kepolisian.

Tak heran jika keberadaan film ini diapresiasi secara maksimal, bahkan ratingnya 7,5 dari 10. Kabarnya ada sekuel film ini pada 2017, tapi saya belum mendeteksi atau mencari tahu film lanjutannya. Satu hal yang terpenting dalam film ini adalah keberadaan Derek Kolstad, penulis skenario film. Ia berhasil menyuguhkan ragam percakapan dan pernyataan yang keren dari setiap tokohnya.

“People keep asking if I’m back and I haven’t really had an answer…But now, yeah, I’m thinkin’ I’m back! So you could either hand over your son or you can die screaming alongside him!” (John Wick)

Terlepas dari semua adegan kekerasan dan pembunuhan yang memukau, saya pun mmenginjak pada suatu prasangka yang menggelikan. John Wick mungkin hanya menjadikan kematian anjing yang lucu sebagai alasan. Sebab yang sebenarnya, ia hanya ingin kembali ke dunianya yang penuh tantangan, di mana ia bisa seenaknya membunuh dan membantai orang.

So, Mr Boogeyman, welcome to the show!

26062018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s