Celoteh Persuasif Sukarno untuk Modernisasi Islam (Review Buku Islam Sontoloyo)

islam sontoloyo

“Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak di kalangan kita yang islamnya masih Islam Sontoloyo!” -Sukarno-

***

Sukarno yang dimaksud bukanlah bapak-bapak penjaga konter di warung seberang rumah, bukan pula Sukarno tetangga sebelah. Sukarno (bukan Soekarno) yang mengatakan Islam sontoloyo di sini adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Bangsa Indonesia. Ia merupakan Sang Gagah yang bersama Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, diteruskan dengan menjadi presiden pertama di negeri ini.

Sukarno di tengah kontroversinya dikenal publik sebagai tokoh nasional intelek dan berwawasan luas. Ini rupanya bukan promosi politik dan pencitraan belaka, melainkan sebuah fakta. Bahkan, di tengah image Sukarno lainnya yang dikenal sebagai seorang Casanova, saya baru tahu kalau rupanya dia punya ketertarikan yang tinggi dalam mendalami Islam, serta punya gagasan dan pemikiran yang cukup berani untuk harapan pembaharuan dan kemajuan.

Ketika Islam disebut sontoloyo, bahkan dijadikan judul buku, kita jangan dulu emosi lalu menabuh genderang perlawanan. Sontoloyo menurut KBBI berarti konyol, tidak beres, bodoh, dan kata-kata yang dipakai sebagai makian. Islam disebut begitu dalam rangkaian tulisan Sukarno dalam Jurnal Panji Islam pada 1940, merujuk pada rangkuman kelakuan orang-orang Islam yang berdasarkan perhatian dan pengamatannya, selalu saja mementingkan kulit luar, bukan esensi.

Di awal tulisannya, ia melakukan studi kasus guru agama yang masuk berita karena dipenjara. Kejahatan si guru agama adalah telah merusak kehormatan muridnya yang masih seorang gadis di bawah umur. Diceritakan bahwa si guru merasa telah “halal” untuk kawin dengan bocah kecil, karena dia sudah melakukan ijab Kabul.

Sukarno memprotes perilaku itu, menjadikannya sebagai tulisan kritis dan sarkas, lantas menunjukkan pemikirannya yang menggeneralisir perilaku umat islam secara keseluruhan. Pada faktanya, menurut Sukarno, umat kita memang sudah melupakan aspek penting lain dalam islam, semisal moral dan nurani, karena terlalu terpaku pada fiqih.

Umat Islam menurut Sukarno terlalu menagung-agungkan fiqih, taqlid, dan hal-hal kolot lainnya sebagai satu-satunya alat menjalankan agama. Ia juga mempertanyakan mengapa kita selalu mempertahankan “Semangat Kurma” dan “Semangat Sorban” (halaman 26) sehingga seribu tahun Islam ketinggalan zaman dan jadi seperti bangkai hidup.

Itulah yang menurutnya menjadi salah satu penyebab utama kemunduran Islam saat ini, baik di negerinya maupun di seluruh dunia. Padahal seharusnya orang Islam berfokus pada aspek lainnya yang lebih penting untuk kejayaan Islam.

Tentu saja Sukarno bukanlah anti-Islam, maupun bermaksud menjelek-jelekkan Islam. Justru ia adalah penganut agama Islam yang dikenal taat, makanya mengiringi kritik pedasnya itu dengan sejumlah tawaran pemikiran dilanjut aksi nyata.

Berulang-ulang ia menekankan tentang pentingnya modernisasi pemikiran Islam, membawa unsur scientific feeling dalam pendidikan, mempelajari sejarah dan ragam referensi buku dan langkah gemilang lainnya di mana semuanya berujung pada ketundukan kepada Allah Swt.

Islam Sontoloyo sebagai sebuah buku sejatinya merupakan sebuah kumpulan tulisan dan surat-surat Sukarno dari tempat pengasingannya di Ende Kepulauan Flores. Dalam statusnya sebagai tahanan politik yang sangat diawasi gerak-geriknya, Sukarno tetap melakukan surat-menyurat dengan rekannya di Persis dalam kepentingan literasi.

Dalam buku ini, pembaca dapat melihat dengan terang benderang bagaimana seorang Sukarno tetap melawan keadaan dan berusaha untuk terus belajar, membaca buku dan menulis. Bahan bacaannya begitu berlimpah sehingga tulisan-tulisannya menjadi padat.

Jadilah di buku ini kita bisa menyimak serangkaian tulisan ala-ala argumentatif yang tidak sembarangan. Sukarno insyaf bahwa dia bukan pemuka agama mumpuni, makanya ia banyak mencantumkan sejumlah kutipan dan referensi untuk menguatkan argumennya.

Tulisan Sukarno juga sarkas, tapi juga diplomatis. Misalnya, ia menggunakan kata “kita” untuk menunjuk kalangan yang dikritik: kita yang bodoh dan mesum dalam menjalankan Islam, kita yang royal sekali dengan ucapan kafir (184), janganlah hendaknya kita menjatuhkan sesuatu pendapat atas sesuatu perkara sebelum kita mengerti seluk-beluknya perkara terlebih dahulu, serta pernyataan “galak” lainnya.

Dari buku ini kita juga akan tahu bagaimana pandangan Sukarno soal keberadaan Ahmadiyah, disulut oleh dirinya yang dituding sebagai bagian dari kelompok itu, bahkan sudah buka cabang di wilayah tertentu. Terhadap Ahmadiyah, Sukarno tidak antipati, tapi juga tidak ia imani. Justru ia bersikap terbuka dan mengambil manfaat pengetahuan dari ragam referensi buku Ahmadiyah, tapi tetap menyaring dan menangkal hal-hal yang menyinggung akidah.

Di tulisan berikutnya, ada pandangannya soal tabir yang disebutnya simbol perbudakan terhadap perempuan. Kita juga bisa melihat tulisan Sukarno yang mengapresiasi tinggi terhadap cara pemerintah Turki kala itu dalam melakukan modernisasi Islam, diiringi dengan sejumlah referensi dan kutipan super panjang lebar.

Ada juga komentar beliau soal tranfusi darah yang sempat dibilang haram, dan komentar-komentar lainnya berkaitan dengan kekolotan orang Islam yang harusnya segera dihilangkan. Untuk detail dan selengkapnya, sila baca sendiri bukunya.

Satu hal yang menarik, Sukarno juga sempat menyinggung kelompok marhaen (halaman 35) meski tidak dijelaskan secara detil. Seperti kita tahu, marhaenisme merupakan buah pemikiran khas Sukarno yang kemudian dijadikan prinsip hidup oleh para pecintanya.

Begitulah Sukarno, seorang pemimpin yang menolak kebodohan, disiplin membaca dan menulis, sehingga terlepas dari penilaian hitam putih yang dilakukannya, sosok ini sangat patut jadi panutan seluruh anak bangsa. Kita harus bangga punya presiden pertama yang juga seorang penulis bersama Sukarno.

Saya jadi membayangkan, kalau dia masih hidup dan berada di tengah-tengah bangsa milenial saat ini, mungkin ia akan bergabung sebagai seorang Plukers, dan siap berbagi ilmu dan cerita yang bermanfaat. *Mengkhayal mode on.

–Ditulis di awal Juli 2018

 

Iklan

2 respons untuk ‘Celoteh Persuasif Sukarno untuk Modernisasi Islam (Review Buku Islam Sontoloyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s