Kursus Menangkal Baper Ala Pooh (Review Film Christopher Robin)

christopher-robin-movie-review-2

Sumber Gambar dari Sini 

***

“People say, ‘Nothing is Impossible’. But I do nothing every day” Winnie The Pooh.

Begitulah Pooh. Ia selalu merasa tidak pernah melakukan apa-apa, padahal pergerakan, perilaku dan keberadaannya telah membuat seorang anak bernama Christopher Robin terkesima. Sang Bocah sangat menyayanginya, hingga ia beranjak dewasa.

***

Tapi masa kanak-kanak tak berlangsung selamanya. Christopher Robin harus melanjutkan hidup, pendidikan dan menyambut masa dewasanya. Ia harus meninggalkan Pooh dan semua teman-temannya di Hundred Acre Wood. Meski momen perpisahan jarang menyenangkan, tapi kita harus menghadapinya sebagai konsekuensi dari sebuah pertemuan.

Di momen tak menyenangkan tersebut, Christopher Robin berjanji untuk tak akan melupakan Pooh and the Gang (Piglet, Eeyore, Tigger, Kanga dan Rabbit), sementara yang ditinggalkan pun berjanji untuk menanti kedatangan Christopher Robin.

Waktu lantas terus melaju hingga Christopher Robin menjadi dewasa, berumah tangga dan memiliki seorang putri kecil yang manis. Sepertinya kehidupan Christopher Robin telah lengkap dan sempurna. Tapi nyatanya tidak. Dalam perjalanan yang melelahkan itu, Christopher telah melewati banyak kejadian yang tidak melulu bahagia. Justru kehidupannya penuh tekanan, disebabkan pekerjaan dan orang-orang yang bergantung padanya.

Christopher benar-benar menjadi orang dewasa pada umumnya, yang tertekan, sibuk, serta tidak punya waktu lagi untuk bersenang-senang. Meski telah memiliki keluarga, ia memilih untuk melewati momen berat itu sendirian. Ia bahkan telah mengabaikan janjinya sendiri pada Pooh dan kawan kawan untuk kembali “bermain” suatu saat nanti.

Dengan kondisi macam begitu, adakah ia masih mengingat teman-teman kecilnya, Winnie The Pooh dan yang lainnya? Ataukah ia telah kehilangan mereka selamanya?

Kita akan segera menemukan jawabannya di film “Christopher Robin (2018)”. Dalam film berdurasi 1 jam 43 menit itu, kita juga akan belajar bagaimana cara mengapresiasi hidup, dengan memprioritaskan kebahagiaan diri bersama orang-orang di sekitar kita. Di mana mereka sebenarnya penting, tapi kita kerap mengabaikannya.

Meski tokoh Winnie The Pooh dan Christopher Robin sangat populer, bisa jadi ada orang yang masih asing dengan mereka. Jadi, mari saya jelaskan secara singkat mengenai eksistensi mereka. Mengutip Wikipedia, Winnie The Pooh merupakan karakter beruang fiksi yang diciptakan oleh A. A. Milne.

Pooh dan semua karakter di dalamnya pertama kali diperkenalkan dalam buku berjudul “Winnie-the-Pooh” pada 1926, disusul “The House at Pooh Corner” pada 1928. Pooh merupakan beruang yang ceroboh dan innocent, tapi polos dan lucu meski ia tak berniat melucu.

Pooh berteman dengan Piglet si Babi, Eeyore Sang Keledai, Tigger Si Macan, Kanga Kangguru dan Rabbit Sang Kelinci. Christopher Robin merupakan bocah yang istimewa karena berkesempatan bermain dan merangkai kisah masa kecil bersama hewan-hewan lucu itu.

Seiring popularitasnya yang terus melambung, kisah persahabatan mereka pun digarap oleh Disney menjadi karya film dan serial. Sebagai informasi, pada 1997, PBB menetapkan tokoh fiksi Winnie The Pooh sebagai “World’s Ambassador of Friendship”. Tabik.

Kembali ke film, dikisahkan Christopher Robin yang sudah telanjur menjadi yang teristimewa di mata Winnie The Pooh dan teman-temannya. Dalam kehidupan masa dewasa yang berat dan melelahkan, Pooh mendatanginya dengan jalan yang tak terduga.

Christopher tentu saja kaget kedatangan beruang yang bentuknya lucu, tapi tak lazim. Seharusnya ia mengumbar rindu, tapi Christopher justru menganggap kedatangan Pooh sebagai pengganggu. Christopher rindu, tapi ia pikir Pooh datang bukan di waktu yang tepat. Pooh harus kembali diantar ke hutan, sebab ia tidak punya waktu untuk bermain dan mengurus segala kecerobohan Pooh.

Tapi beruntungnya Christopher, sebab punya teman macam Pooh. Terhadap isyarat penolakan dan ketidakramahan itu, Pooh sama sekali tidak baper. Pooh tak lantas marah dan meninggalkan Christopher, justru tetap menjadi diri sendiri, berpikir positif, dan menunggu Christopher sadar dan mengajaknya bermain lagi.

Akhir kata, saya tak berniat menceritakan film ini secara detil lalu mengumumkan ending ceritanya. Kamu harus menontonnya sendiri bersama keluarga dan sahabat, lalu selamat menangkap kebijakan dalam sikap innocent dan ceroboh ala Pooh.

Meski akhir ceritanya terkesan nanggung dan dipaksakan, tapi secara keseluruhan, film ini cukup memanjakan mata dengan visual yang apik dan imajinatif. Setelah menonton, kita mungkin akan otomatis merindukan sosok Pooh yang tampak seperti balita lucu yang ceroboh, tapi juga bijak serta  bersih hatinya dari ragam prasangka.

Selamat mengapresiasi!

*ditulis dalam keadaan waras dan terkondisikan. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s