Berkarya Gara-Gara “Huntu” dan “Wanita Jelek” (Review Vlog Jurnal Risa – Risa Saraswati)

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

risa saraswati

Sumber Gambar dari Sini

Anak-anak masa kini atau bisa dibilang generasi milenial atau sebutan lainnya “kids zaman now” sudah tidak melulu menyebut guru, dokter dan insinyur sebagai cita-cita mereka, sebab ada “Menjadi Youtuber” atau “Vlogger” atau “Seleb Instagram” yang tampaknya lebih keren. Praktik mereview di Cerita Pengelana pun ingin turut kekinian. Praktik mengulas atau meninjau tidak hanya milik buku, film atau produk. Menolak ketinggalan zaman, Vlog pun bisa dibuat reviewnya.

Nah, kali ini Vlog yang beruntung jadi yang perdana untuk dibuatkan reviewnya yakni Vlog bertajuk “Jurnal Risa”. Pemiliknya gadis asal sunda bernama Risa Saraswati, seorang perempuan yang kabarnya diberi kelebihan dapat melihat makhluk-makhluk ghaib di sekitarnya. Sederhananya, orang-orang menyebut dia punya indra keenam.

“Huntu” dan “Wanita Jelek” sebagaimana saya sebut di judul merupakan istilah Risa waakhowatuha, di mana Huntu (dalam bahasa sunda artinya gigi) pelesetan dari kata “Hantu” dan wanita jelek adalah Kuntilanak. Gemilangnya, Teh Risa tidak lagi merasa kerepotan dan ketakutan dengan kemampuan tersebut. Malahan huntu dan wanita jelek ini jadi bahan inspirasinya untuk membuat ragam karya (buku, lagu, film, vlog).
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kisah lain soal visualisasi hantu dari Roy Kiyoshi, klik di sini

***

750xauto-5-video-risa-saraswati-danur-berkomunikasi-dengan-hantu-horor-abis--180227m

Sumber Gambar dari Sini

Teh Risa sebenarnya bukan orang baru di dunia hiburan tanah air. Sejak lama ia menulis buku-buku yang terinspirasi dari hantu. Beberapa tahun lalu publik makin mengenalnya karena beberapa kali diundang TV dalam acara talkshow. Risa diperkenalkan sebagai wanita indigo sebab punya kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral dan arwah gentayangan.

Selidik punya selidik, ia pada awalnya merupakan seorang blogger yang banyak menulis cerita tentang pengalaman mistisnya sejak kecil hingga kini. Cerita-cerita Risa dianggap menarik, lantas punya sejumlah pembaca dan komunitas penggemar, kemudian diterbitkanlah buku-bukunya.

Popularitas Risa makin memuncak ketika ia merambah dunia visual. Karya-karyanya dibuat menjadi lagu dan film. Pengalamannya berinteraksi dengan hantu pun “laku” dalam produk vlog di mana orang-orang selalu menanti petualangan Risa dan tim selanjutnya.

Baca Juga: Legenda Mister Gepeng, Salah Satu Kisah Hoax yang Viral di Era 90-an

Karena hasil karya visual itu pulalah, saya kemudian menyadari keberadaan Risa, bisa menjangkau sebagian karyanya, cerita-ceritanya, dan pengalaman-pengalamannya yang terkini. Sejujurnya sejak beberapa pekan ke belakang saya semacam ketagihan nonton Vlog Jurnal Risa. Episode demi episode saya ikuti, melulu penasaran, merinding tapi lucu, tanpa terasa saya banyak kehabisan waktu untuk mengerjakan yang lainnya.

Jadi saya pikir, untuk mengobati rasa bersalah pada diri sendiri inilah, saya pun memutuskan untuk membuat review dengan hati yang gembira. Toh saya juga punya banyak bahan apresiasi tentang Risa yang menumpuk di kepala. Sebelum inspirasinya menghilang, lebih baik segera dituliskan saja.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dengan adanya review ini, saya ingin sedikit membela diri, bahwa menonton Jurnal Risa secara stripping alias kejar tayang, itu bukan hanya sekadar menghabiskan waktu belaka. Dari sana saya mendapatkan beberapa manfaat, di antaranya mengubah pola pikir kita tentang hantu, terapi mengobati takut gelap dan hantu, serta jadi belajar banyak tentang cara menghormati alam semesta.

Penjelasan lebih detil mengenai apresiasi dan review saya terhadap Vlog Jurnal Risa, mari simak uraian berikut ini (tengah menyadari bahwa pembaca zaman now lebih suka bacaan berupa poin-poin ketimbang pemaparan dalam bentuk paragraph yang panjang lebar). Mari kita simak uraiannya berikut ini.

Baca Juga: Terpesona Ketangguhan Guru Honorer Zaman Now

Enam Fakta Tentang Jurnal Risa (Vlog Risa Saraswati) Versi Cerita Pengelana

  1. Vlog Dibuat Tanpa Rekayasa

Orang-orang yang super rasional mungkin akan menilai mereka yang punya kemampuan untuk melihat makhluk ghaib dan astral adalah orang-orang yang tidak normal, punya gangguan kejiwaan atau bahkan mengidap kepribadian ganda. Sayangnya, saya bukan bagian orang-orang semacam itu. Saya percaya bahwa ada sebagian orang yang memang punya kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Pun, apa yang ditampilkan dalam vlog Jurnal Risa adalah nyata adanya, tanpa rekayasa.

Lagi pula, hanya orang yang kurang kerjaan saja yang mau membuat atau menonton tayangan rekayasa tentang hantu-hantuan. Namun Teh Risa dalam prolog Vlog pun sudah menekankan bahwa ia tidak memaksa orang untuk mempercayai cerita-ceritanya, meski itu sungguhan dialaminya.

  1. Tidak Meneror dan Menakut-Nakuti

Hantu, kuntilanak, genderuwo, tuyul dan teman-temannya selalu digambarkan menyeramkan, dan memang faktanya begitu—menurut orang-orang yang bisa melihatnya, termasuk kata Teh Risa. Namun dari sekian orang yang memberi kesaksian tentang alam ghaib, hanya Teh Risalah yang menurut saya tidak membuat orang jadi penakut. Bahkan lebih jauh, ia ingin para fans dan semua orang yang menyaksikan Jurnal Risa jadi pemberani dalam menghadapi makhluk-makhluk entah itu, bahkan bisa berteman dengan “mereka”.

Memang tidak bisa dipungkiri, penampakan “Huntu” dan “Wanita Jelek” selalulah menyeramkan. Para makhluk itu bahkan merasa senang dan terkuatkan apabila manusia takut oleh mereka. Namun dengan menonton Jurnal Risa, kita justru dikondisikan untuk tidak perlu takut dengan teror makhluk ghaib. Sebagai penggantinya, lebih baik mengabaikan keberadaan mereka, tidak percaya akan kekuatan dan teror dari mereka, serta bertindak jadi pihak pegendali, bukannya yang dikendalikan makhluk astral.

Teh Risa bahkan selalu bilang, agar kita tidak berfokus pada ketakutan terhadap hantu, maka pikirkanlah hal lain yang menyenangkan, yang membuat hati jadi hangat, misalnya memikirkan kecengan yang memesona. Dijamin, hantu-hantu akan malas mendekati kita yang benar-benar mengabaikannya.

  1. Ada Risa Waakhowatuha dalam Setiap Tayangannya

hipwee-jurnalrisatwitter-640x360

Sumber Gambar dari Sini

Risa tidak bekerja sendirian dalam membuat tayangan Vlog. Ia ditemani sejumlah kru dan tim sehingga apa yang tersaji di Vlog sangat terasa profesionalnya. Jurnal Risa bukan Vlog abal-abal pencari sensasi dengan judul bombastis. Justru meski berbau mistis, kemasan Jurnal Risa sangat edukatif, lucu dan bernuansa kekeluargaan.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Baca Juga: Koleksi Review Film Pilihan

Hal tersebut didukung oleh sisi visual yang keren. Kualitas gambar dan suara (berikut teks transkrip) membuat pemirsa tak rugi menyimak cerita-cerita Risa dengan bermodalkan WiFi atau kuota. Apa yang harus ditampilkan mencekam akan dikemas mencekam, lengkap dengan backsound yang bikin bulu kuduk merinding. Tapi tenang saja, pembangunan suasana yang horror itu diimbangi dengan gaya bertutur Risa yang nyunda serta renyah, sehingga kita tidak merasa terteror, tapi banyak berpikir untuk mengambil banyak hikmah.

Disebut “waakhowatuha”, sebab Risa tampil di Jurnal Risa bersama sejumlah saudara-saudaranya tercinta. Risa membawa sepupunya, Angga dan kakang, Nicko serta Indy (keduanya kakak beradik) serta adiknya Risa bernama Riri. Mereka berfungsi menguatkan pertahanan diri dari teror makhluk ghaib dengan karakter dan cara mereka masing-masing.

Selain itu, mereka juga sangat berguna menghangatkan suasana, menjadi mediator, pencerita dan tentu saja juga menghibur kita semua. Sekadar informasi, keluarga besar Risa ternyata masih banyak yang sensitif terhadap makhluk ghaib. Kelebihan itu merupakan kemampuan turunan dari kakek nenek dan moyang mereka.

  1. Mengenal Peter CS

Dari banyaknya makhluk-makhluk ghaib yang berinteraksi dengannya, Risa mengistimewakan beberapa di antara mereka. Ia memiliki sahabat ghaib yang disebut “Peter CS”, terdiri hantu-hantu berwujud anak kecil keturunan Belanda bernama Peter (13 tahun), William (9), Hendrick (8), Hans (7) dan Jhansen (5). Mereka menjadi teman “bermain” Risa sejak kecil hingga kini.

Peter CS sangat takut pada Nipong alias Nippon alias orang atau hantu Jepang. Hal ini berkaitan dengan tragedi prakemerdekaan Indonesia di masa lalu. Ketika terjadi pergantian kekuasaan Belanda pada Jepang, terjadi penyekapan dan pembunuhan massal terhadap orang-orang Belanda di masa lalu. Para “londo” yang dibunuh secara kejam oleh Nipong kemudian menjadi arwah gentayangan.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Selain Peter CS, kita juga akan diperkenalkan dengan sosok hantu lainnya seperti Marry Anne, Ivana, Elisabeth serta Asih. Masing-masing dari mereka punya kisah yang renyah untuk jadi bahan dongengan. Kisah detail soal mereka bisa diperoleh dengan membaca buku-buku Risa, maupun menonton filmnya.

  1. Berkenalan dengan Mamat Modol

mamat modol

Sumber Gambar dari Sini

Mamat adalah satu lagi kawan ghaibnya Risa. Tapi bukannya menakutkan seperti huntu Belanda atau wanita jelek lainnya, Mamat justru sering jadi bahan tertawaan. Ini disebabkan sejarah kematian Mamat yang kocak. Diceritakan, Mamat merupakan jawara di masa kolonial Belanda.

Ia juga seorang pendekar bertubuh kekar yang sering diperalat orang Belanda untuk menjadi tukang pukul alias centeng. Mamat punya cincin jimat yang mendukung kekuatan dan kesaktiannya. Jimat itu tidak boleh dipakai ketika buang air besar.

Namun hari nahas itu pun datang. Mamat di hari kematiannya merasa sangat mulas dan ingin buang air besar (BAB)—bahasa sundanya “modol”, makanya disebut Mamat Modol. Ketika BAB di sungai, ia lupa melepas cincin jimatnya.

Tak terduga, kekhilafannya berujung petaka. Ketika sedang asyik BAB, ada air besar dari hulu sungai yang menyerang, hingga membuatnya palid (hanyut) sampai mati. Di sanalah awal mula Mamat menjadi hantu. Ia gentayangan di kolong jembatan, dan kerjaannya mengintip perempuan yang lewat jembatan dengan berpakaian minim. Hahaha…

Dalam sejumlah perjalanan Jurnal Risa, Mamat sering ikut berpetualang, bahkan sudah dianggap bagian dari tim. Icko yang rambutnya keribo tapi kasep mempersilakan diri jadi mediator untuk Kang Mamat. Sepertinya Icko memang sudah klop dengan Mamat Modol sehingga gaya Icko ketika dimasuki Kang Mamat selalu terasa kocak.

  1. Menyulut Pandangan Baru Seputar Dunia Hantu

Menonton episode demi episode Jurnal Risa, pandangan saya terhadap sosok “Huntu” dan “Wanita Jelek” berubah. Mereka rupanya tidak perlu ditakuti, justru harus banyak dikasihani. Sebab kebanyakan dari mereka asalnya adalah manusia, namun meninggal secara tidak wajar, arwahnya tak diterima langir dan bumi, pada akhirnya gentayangan.

Dalam kehidupan lain yang serba tak pasti, mereka merasakan kesakitan, kesepian dan kesedihan yang mendalam. Karena itulah, mereka akan amat senang dan cenderung cari perhatian ketika mendapati ada orang yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Karena dengan begitu, mereka bisa punya kesempatan tertawa, menangis dan menunjukkan ekspresi lainnya di atas ketakutan orang. Mereka bahkan berpeluang punya energi besar untuk memperdaya dengan segenap kekuatan jika ada orang yang mau percaya mereka sakti, dan orang tersebut rela diperdaya.

Baca Juga: Diajak Lelah Berburu Kepala Adik Tiri Shogun (Review Film 13 Assassins-2011)

Jadi, bersyukurlah bagi kita semua yang tidak terlalu peka terhadap keberadaan “mereka”. Dengan begitu, kita tidak perlu terlalu berfokus pada ketakutan dan teror yang disebabkan oleh mereka, apalagi berupaya mencari kesaktian dan kekayaan dengan bantuan mereka. Sebagai gantinya, fokus dan energi kita bisa disalurkan untuk hal-hal yang lebih realistis.

Sama halnya ketika mungkin kamu punya kemampuan untuk berinteraksi dengan mereka. Anggaplah hal tersebut sebagai berkah, dan jangan sampai merugikanmu. Contohlah Teh Risa Saraswati yang memanfaatkan huntu dan wanita jelek sebagai gudang inspirasi.

Dari interaksi yang berjalan sejak lama, Risa tak mau terkungkung dalam kebingungan dan kesedihan. Bertahun-tahun ia berjuang menerima dirinya dan kelebihannya itu, meski kerap dianggap tidak waras. Tapi pada akhirnya Risa bisa membuktikan bahwa ia dengan kemampuan tersebut, juga bisa menghasilkan banyak karya. Bahkan karya-karya itu hingga kini dapat diapresiasi, bahkan semua orang berpeluang mengambil ragam hikmah dari kisah Risa bersama Huntu dan Wanita Jelek.

Terima kasih, Teh Risa, atas keberadaannya, atas perilakunya, serta atas karya-karyanya. Semoga kalian sekeluarga selalu dalam lindungan-Nya. Amin.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s