Visualisasi Kontroversial Tur “Mahal” Kisah Awal Hidup Rasulullah (Review Film Muhammad The Messenger of God-2015)

muhammad-the-messenger-of-god

Judul Film: Muhammad the Messenger of God (2015)

Sutradara: Majid Majidi

Penulis Skenario: Hamid Amjad, Majid Majidi

Pemain: Mahdi Pakdel, Sareh Bayat, Mina Sadati

Durasi: 171 Menit

Penghargaan:

– Nominasi Sinematografi Terbaik Asia Pacific Screen Award (Vittorio Storaro)

– Nominasi Film Terbaik Asia Pacific Screen Award (Mohammadreza Saberi, Majid Majidi)

– Pemenang Camerimage 2015 Kategori Cinematographer-Director Duo Award (Majid Majidi, Vittorio Storaro).

***

Muhammad bin Abdullah merupakan insan pilihan yang namanya akan terus disebut-sebut hingga akhir zaman. Tuhan mengangkatnya sebagai utusan terakhir, sehingga manusia terbantu untuk menjalani hidup dengan selamat. Atas keberadaannya, kita juga jadi punya pedoman hidup dalam upaya mengenal Tuhan lantas memeroleh ridha-Nya. Sebagai sosok yang ditegaskan sebagai suri tauladan terideal, sosok Rasulullah layak dicinta tur dimuliakan sepanjang hidup.

Namun adakah perasaan cinta itu benar-benar telah diturunkan dalam segenap perilaku di keseharian, atau hanya sebatas gombalan belaka karena menghormati fatwa dan instruksi agama belaka? Di sebelah manakah bukti perilaku cinta kita pada Allah dan Rasul-Nya itu?

Jujur saja, untuk menjawab pertanyaan ini saya masih tak kuasa. Entahlah kalau jawaban para pembaca. Tapi nyatanya untuk sekadar membaca dan menelusuri sirah nabawiyah (kisah biografi dan sejarah Nabi Muhammad) saya masih malas-malasan.

Informasi terkait sosok Rasulullah yang mulia telah saya dapatkan secara sepenggal-sepenggal sejak kecil. Sialnya, hingga sudah sebesar ini pun, informasi berharga seputar kisah hidup Rasulullah masih berupa serpihan-serpihan yang tidak lengkap.

Makanya saya sungguh berbahagia ketika seorang sutradara kenamaan Majid Majidi menggarap film tentang Muhammad secara sungguh-sungguh. Setelah proses penggarapan yang panjang selama sekitar tujuh tahun, dirilislah film bertajuk Muhammad the Messenger of God (2015) pada 2015, dan saya deteksi keberadaannya untuk kemudian ditonton pada 2018. *ke mana aja, Neng…

Majid-Majidi-1-620x330

Ini Pak Majid Majidi, sang sutradara. Majidi dikenal sebagai salah satu sutradara yang paling diperhitungkan mengingat karya-karya sebelumnya yang sukses dan dinilai sarat pesan moral, menyorot kalangan menengah ke bawah. Majidi sebelumnya juga menggarap film anak-anak berjudul Children of Heaven, Color of Paradise dan Baran. Jalan ceritanya dinilai indah dan menginspirasi. 

Film ini bercerita tentang sejarah hidup Rasulullah dari mulai sebelum lahir hingga masa remaja. Saking seriusnya, proses penulisan naskah skenario memakan waktu dua tahun. Majid banyak berkonsultasi dengan sejumlah ilmuwan Islam dari Iran, Aljazair, Maroko, Lebanon, dan Irak. Mereka merupakan para ulama yang berasal dari kalangan Ulama Sunni maupun Syiah. Tindakan ini dilakukan sebagai kehati-hatian, keakuratan, menyamakan persepsi serta menghindari konflik.

Dalam film yang disponsori langsung oleh pemerintah Iran ini, tokoh Abu Thalib selaku paman Nabi berperan sebagai narrator yang menceritakan sosok nabi Muhammad dalam pandangannya. Alur cerita bergaya flashback, di mulai ketika umat Islam yang masih minoritas mengalami pencekalan, lantas Abu Thalib mengenang kisah pra-kelahiran nabi, hingga beliau berusia sekitar 13 tahun.

Penonton akan disuguhkan sejumlah visualisasi yang menggetarkan hati dan tampak nyata, seolah-olah kita turut jadi saksi atas kelahiran Nabi yang mulia. Salah satu contohnya yakni peristiwa besar berupa rencana penghancuran Kabah oleh Raja Abrahah jelang kelahiran Rasul. Di sana lantas ditunjukkan tayangan tentang kedahsyatan serangan burung yang melempari batu panas ke arah tentara bergajah.

Bukan sekadar memvisualisasikan ulang kisah nabi yang tertera dalam buku sejarah, justru saya menemukan sejumlah fakta baru yang cukup berbeda. Misalnya, cerita tentang sekelompok Yahudi yang mengincar Muhammad sejak ia dilahirkan.

Diceritakan bahwa agamawan Yahudi telah mendetksi kelahiran seorang Nabi Mulia. Lantas mereka pun mencari cara agar Rasulullah kecil berada di bawah kekuasaan mereka dan bisa mengambilnya dari tangan keluarga. Beruntunglah, atas kehendak Allah, beliau selalu terlindung dari golongan kaum munafik.

Diceritakan pula sisi manusiawi dari Ibunda Rasulullah, Aminah binti Wahb, yang sangat berat untuk berpisah dengan bayi Muhammad. Ini disebabkan Muhammad harus ikut Halimatussyadiah, ibu susunya yang tinggal di kampung yang jauh. Aminah harus melepaskan Nabi sementara waktu, demi keamanan dan kesehatan nabi sebab kala itu air susu Aminah tidak keluar. Kisah ini belum pernah saya baca di buku sejarah nabi kebanyakan.

Tiga jam menonton, akan ada banyak informasi seputar Rasulullah, terutama dalam hal kemurahan hati, akhlak serta keberpihakan Nabi kepada kalangan minoritas seperti budak, anak yatim dan wanita. Akan ada tulisan yang super panjang jika saya menceritakan keseluruhan film di sini. Untung saja ini judulnya review film, jadi saya tidak perlu spoiler, bukan?

Kontroversial Tur Mahal

Dalam sejumlah wawancara media, Madjid menyebut ide pembuatan film disulut oleh ramainya suara-suara tentang islam dalam wajah yang buruk (Islamofobia): intoleran, terorisme, cabul, dll. Melalui film tersebut, ia ingin menunjukkan pada dunia tentang keindahan Islam yang dipelopori oleh sosok suci dan mulia bernama Muhammad.

Telah diceritakan di awal bahwa Majid menempuh waktu penggarapan naskah hingga dua tahun lamanya. Untuk mengisi “ruh” film agar memesona, ia membentuk tim perfilman andal dengan menggaet Vittorio Storaro di bagian Sinematografi serta AR Rahman yang mengatur tata suara film secara keseluruhan.

Selain itu, ia juga bekerja mempersiapkan dana, latar dan setting agar sesuai dengan suasana Arab Saudi 1.400 tahun yang lalu. Lokasi Shahrak Sinamai Nour (berlokasi di antara jalan tol Teheran-Qum) disulap menjadi Mekkah dan Madinah tahun 570-an. Sebagian tempat di Afrika Selatan juga jadi pilihan lokasi film berbudget 40 juta dollar Amerika (lebih dari Rp 560 miliar).

Meski telah digarap super serius, tetap saja karya itu menuai kontroversial. Film ini diributkan oleh sejumlah ulama Sunni karena mereka menganggap sosok Muhammad tidak boleh divisualisasikan sedikit pun.

***

Terlepas dari segara kontroversi yang beredar, toh film ini bisa disaksikan oleh masyarakat, bahkan kita bisa memeroleh file secara digital di internet. Bagi saya pribadi, film ini justru berhasil membuat saya terpukau.

Ini bukan sekadar opini subyektif karena saya seorang Muslim dan telah banyak dapat doktrin untuk selalu mencintai Muhammad. Tapi tayangan demi tayangannya sungguh menyuguhkan visualisasi yang apik. Jika tidak percaya, silakan tonton sendiri filmnya.

Meski sosok Nabi Muhammad kecil ditampakkan (tangan dan bagian belakangnya), saya sebagai pemirsa tidak lantas mengangggap itu benar-benar sosok nabi, atau membayangkan bahwa seperti itulah tangan beliau. Justru saya selaku pemirsa menjadi lebih nyaman karena bisa melihat nabi sebagai sesosok manusia, ketimbang menyaksikan visualisasi nabi berupa lingkaran terang yang bertuliskan kata “Muhammad” pakai huruf arab.

***

Kita semua sudah sama-sama paham, Islam dalam perkembangannya memiliki banyak madzhab dan perbedan pemikiran. Di satu sisi, ada ulama yang mentoleransi penampakan Muhammad dalam bentuk manusia, di mana hanya tangan serta bagian belakangnya saja yang ditampakkan (tanpa suara) di film itu. Di sisi lain, suara penentangan berbunyi nyaring. Entahlah, tapi bau-bau sentiment politik terasa, yakni kecurigaan tak beralasan terhadap Iran dan Syiah. Wallahualam.

Yang jelas saya pribadi sangat mengapresiasi keberadaan film ini. Utamanya dalam hal menambah wawasan tentang sejarah kenabian. Bayangkan kalau saya hanya membaca buku sejarahnya yang maha tebal, pasti akan cepat ngantuk. Saya juga sangat bangga karena menemukan orang-orang Islam yang sudi berkarya maksimal, membuat film keren, tidak sekadar terkungkung dalam ketradisionalan yang menyebabkan ketertinggalan.

Jadi, yuk segera cari filmnya!

***

Sumber Gambar dan Referensi:

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150831060928-220-75518/kontroversi-film-nabi-muhammad-film-termahal-iran

http://www.muvila.com/film/artikel/meski-tuai-pujian-muhammad-the-messenger-of-god-dilarang-tayang-150902l.html

https://tirto.id/kala-majid-majidi-sineas-iran-menafsirkan-nabi-muhammad-cATv

https://variety.com/2015/film/global/iranian-blockbuster-muhammad-sparks-ire-in-sunni-muslim-world-but-scores-at-home-box-office-report-1201598627/

http://www.madinaonline.id/s5-review/film-nabi-muhammad-upaya-dakwah-yang-dikecam-al-azhar/

 

 

Iklan

Satu respons untuk “Visualisasi Kontroversial Tur “Mahal” Kisah Awal Hidup Rasulullah (Review Film Muhammad The Messenger of God-2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s