Membohongi Bapuji yang Sekarat (Review Buku A Beautiful Lie)

Judul buku: Dusta yang Indah (A Beautiful Lie) Penulis: Irfan Master Penerjemah: Tanti Lesmana Penerbit: Gramedia Tahun Terbit: September 2012 Tebal buku: 302 halaman Status Buku: gratis, pinjam punya adik *** “Para pangeran, politisi, penyair dan ahli sejarah. Tidak ada bedanya. Mereka hanya bisa menawarkan kata-kata–bunyi-bunyian untuk membangkitkan semangat dan memberikan kepada orang-orang. Berbagai kebohongan…Read more »

Judul buku: Dusta yang Indah (A Beautiful Lie)
Penulis: Irfan Master
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: September 2012
Tebal buku: 302 halaman
Status Buku: gratis, pinjam punya adik

***

“Para pangeran, politisi, penyair dan ahli sejarah. Tidak ada bedanya. Mereka hanya bisa menawarkan kata-kata–bunyi-bunyian untuk membangkitkan semangat dan memberikan kepada orang-orang. Berbagai kebohongan untuk menyenang-nyenangkan hati kami selama beberapa waktu” (A Beautiful Lie, halaman 74).

***

Bagaimana bisa sebuah kebohongan dikatakan indah, jika dilakukan secara terus-menerus, tersistem dan terorganisasi. Bagaimana pula ia bisa dikatakan bagus, jika obyek kebohongan adalah bapak kandung sendiri yang sedang dalam keadaan sekarat. Ini tampak seperti dusta yang kejam yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang bocah India bernama Bilal kepada Bapujinya.

Tapi nyatanya Bilal melakukannya. Ia membuat ragam alasan dan pembenaran, agar misi dustanya pada bapuji (ayah) terlaksana hingga sang ayah dijemput ajal. Bilal bersikukuh berdusta, sebab ia ingin bapujinya meninggal dengan suasana hati tanpa lara.

Sebentar, jangan dulu menghujat Bilal karena praktik kebohongannya pada sang ayah. Dalam novel berjudul “Dusta yang Indah” alias “A Beautiful Lie” karya Irfan Master ini, kita akan dibuat maklum, bahkan mendukung kebohongan demi kebohongan yang Bilal lakukan.

Kisah Bilal berlatar tahun 1947, di mana kala itu, India sedang mengalami konflik dan perang saudara. Seperti kita ketahui, kondisi politik pasca perang dunia II membuat keadaan India memburuk sehingga pecah.

Baca Juga: Jangan Melulu Menyuguhkan Bahagia, Anak Juga Harus Diajarkan Cara Menghadapi Tragedi

Pada situasi tersebut, Bilal melihat ayahnya merupakan seorang Muslim yang idealis, di mana ia sangat tidak menginginkan konflik dan perpecahan di tanah hindustan terus berkelanjutan. Di sisi lain, kondisi ayahnya sangat mengkhawatirkan karena dokter memvonis dia punya umur yang tidak akan lama lagi akibat kanker.

Begitulah kemudian Bilal bertekad untuk berbohong, sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Bapujinya, pin tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Bilal ingin Bapujinya meninggal dengan hati yang tenang, di mana di benak dan pikirannya mengantongi fakta rekayasa bahwa India telah kembali bersatu, pun konflik telah berakhir.

Baca Juga: Kontrol Jari, Please! Dilarang Menghujat Anak Di Bawah Umur

Dalam novel kemudian diceritakan bahwa agenda dustanya Bilal jauh dari kata mudah karena kondisi konflik di India nyatanya makin parah. Sementara itu, Bapujinya adalah salah seorang tokoh masyarakat yang senang dikunjungi dan menerima kunjungan, serta selalu up to date terhadap informasi terbaru. Bagaimana mencegah Bapujinya agar bersih dari kabar buruk soal India?

Bilal tak kehabisan akal. Ia mantap merekrut tiga orang sahabatnya yakni Saleem, Chota dan Manjeet untuk mendukung agenda dusta itu. Bahkan seiring berjalannya waktu, Bilal juga berhasil meyakinkan Dokter yang merawat Ayahnya, serta gurunya di sekolah, agar juga bergabung menyukseskan misinya. Mereka dengan senang hati membantu Bilal, sebab mereka pun sayang pada Bapujinya Bilal.

Tim Pendusta yang dibentuk Bilal ini kemudian melakukan sejumlah agenda dari mulai bolos sekolah, kabur dari sekolah, hingga membuat surat kabar palsu agar ayahnya terisolasi dari informasi tentang India yang sebenarnya. Sebagai gantinya, Bilal ingin menyuguhkan informasi tentang India yang sesuai dengan harapan Bapuji.

Pada akhirnya, kita pun menyaksikan India yang saat ini tidak lagi utuh, karena produk pecahannya sudah terbentuk dengan berdirinya negara Pakistan dan Bangladesh.

Untuk mengetahui tentang Sejarah Konflik India-Pakistan, silakan baca artikelnya di sini.

Tapi bagaimana upaya Bilal agar tetap berdusta, itu merupakan satu cerita yang sayang untuk dilewatkan. Sebab, dari novel A Beautiful Lie, kita jadi belajar banyak tentang sisi lain dari praktik dusta yang mungki bisa dibenarkan.

Kisah lain tentang momen konflik India-Pakistan juga digambarkan dalam film Barjangi Bhaijan. Review tentang salah satu film India terbaik ini dapat kamu simak di sini.

Melalui novel ini, kita juga bakal diberitahu Bilal sedikit tentang teori dusta. Di antaranya “kalau kita tidak buka mulut, secara teknis tidak bisa dibilang berdusta” (halaman 160), atau “kalau perasaanmu semakin tidak enak waktu kau berdusta, makin banyak masalah yang bakal kauhadapi. Aku memutuskan untuk tidak merasa tidak enak tentang apa pun (halaman 176).

Selebihnya, novel banyak bercerita tentang ekspresi kasih sayang anak kepada ayahnya, maupun sebaliknya. Pembelajaran lainnya, kita akan dibuat terkesima dengan jalinan pertemanan bocah-bocah India yang sangat solid meski mereka tengah berada di situasi konflik.

Ada pula kisah haru Bilal dengan kakaknya yang dicitrakan antagonis tapi dramatis. Sang kakak kabur dari rumah dan ikut menjadi kelompok penebar konflik, sesuatu yang sangat bertentangan dengan Bapuji mereka. “Kau hanya telah menemukan jalan lain untuk menghadapi kengerian ini. Kau sama saja seperti kami, sama seperti aku. Dusta ini menjadi nerakamu, sama seperti kebenaran di luar sana menjadi nerakaku”. Ini komentar Kakaknya Bilal, ketika mengetahui agenda dusta Bilal. (Halaman 244).

Dari novel ini, pembaca juga akan diperkaya wawasannya tentang bagaimana kondisi India ketika konflik mulai merongrong dan membuat perpecahan, dari kaca mata anak-anak. Sembari mengikuti kisah Bilal, kita juga akan tahu beberapa kosakata khas India, sehingga wawasan berbahasa pun makin kaya. Kita juga akan disuguhkan sejumlah tradisi yang kala itu masih dijalankan. Di antaranya perayaan India dan sabung ayam.

Meski ada di situasi mencekam, anak-anak tetap bermain dan belajar, bersahabat dengan tulus, serta mencintai keluarganya masing-masing. Di situasi tersebut, anak-anak bahkan tetap bisa melakukan kebohongan yang jujur.

Selamat membaca!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s