Perihal Kita yang Ditunjuk Miskin dan Mengaku-Aku Miskin

love-3365338_1920

Orang-orang menganggap kemiskinan adalah sebuah masalah. Sebagian lagi, yakni mereka yang merasa punya kuasa, merasa bahwa sesuatu yang bernama kemiskinan itu harus diberantas. Maka sebelum melakukan tindak pemberantasan terhadap “kemiskinan”, mereka membuat kriteria-kriteria yang rigid dan ilmiah, sehingga kita bisa menunjuk sesuatu atau seseorang itu disebut miskin atau tidak miskin.

Menurut pemerintah, misalnya, seseorang disebut miskin jika ia pendapatan per-bulannya sekitar sekian hingga sekian, ukuran rumahnya sekian, tempat dia buang air dan mandi dalam kondisi demikian, dan banyak lagi kriteria lainnya yang menandakan ketidakmampuan alias kemelaratan.

Setelah sejumlah kriteria itu ditetapkan, diselenggarakanlah perburuan secara besar-besaran terhadap orang miskin di negara ini. Gerakan itu didukung dengan ajakan bagi orang-orang yang masuk kategori miskin untuk menampakkan dirinya dengan sejumlah bukti, salah satunya dengan menunjukkan surat keterangan miskin dari desa atau kelurahan.

Tujuan utama mengumpulkan data-data orang miskin tidak lain untuk melakukan pemberantasan, di mana orang miskin diberi sejumlah bantuan. Dengan begitu, diharapkan tingkat kemiskinan bisa diredam. Lantas orang-orang yang dianggap miskin jadi sedikit berubah kehidupannya, menjadi tidak terlalu melarat-melarat amat.

Dari tahun ke tahun pemerintah dan sejumlah orang-orang yang dianggap kaya melakukan sejumlah pendataan diiringi penyaluran bantuan, bagi-bagi sembako dan uang tunai. Dari tahun ke tahun pula, justru jumlah “orang miskin” bukannya berkurang, malah bertambah. Agenda pemberantasan kemiskinan yang dirancang dan digerakkan setiap tahun pun tampak gagal, tapi terus dijalankan.

Bagi saya, ini ganjil. Mengapa kita terus saja menjalankan suatu program yang gagal? Jawabannya, sebab agenda tersebut mungkin tidak benar-benar ingin memberantas kemiskinan, melainkan ingin memeliharanya. Kita mungkin sudah sekian lama menganggap kemiskinan sebagai suatu kewajaran, hal yang layak dipamerkan, pun sebagai ajang cari uang.

Kemiskinan dan Program bantuan pemberantasan kemiskinan jadi seperti telur dan ayam. Di mana tak terdeteksi mana yang lebih duluan datang. Tapi dugaan saya, pada awalnya orang-orang merasa baik-baik saja dengan kehidupan dan kesehariannya. Mereka belajar, bermain, menikah, punya anak, membesarkan anak, dan berkegiatan berdasarkan kesepakatan sosial di lingkungannya.

Lantas sekelompok orang datang, menunjuk-nunjuk sebagian lainnya sebagai orang miskin. Orang yang ditunjuk (yang tadinya merasa baik-baik saja) lantas menerima disebut miskin, karena penunjukkan itu dibarengi dengan sejumlah iming-iming uang dan bantuan kesejahteraan. Siapa yang sanggup menolak rezeki yang datang.

Lama-kelamaan, program bagi-bagi uang itu dilirik oleh orang yang merasa ingin juga diberi uang, padahal mereka tidak ditunjuk atau dianggap sebagai orang miskin. Orang-orang jenis inilah yang kemudian harga dirinya diobral, tapi mereka tidak malu.

Mereka mengaku-aku sebagai orang miskin, lalu dengan santai pergi ke kantor desa naik mobil pribadi, dan di sana ia membuat surat keterangan miskin. Tak lama, sejumlah persyaratan pengajuan bantuan lainnya terpenuhi. Orang yang ingin jadi miskin akhirnya diakui juga jadi miskin. Mereka pada akhirnya dapat perlakuan setara dengan yang ditunjuk miskin, yakni dapat bantuan dan beasiswa sekian. Betapa menyenangkan.

Lantas, apakah orang yang memberi bantuan itu bodoh, atau benar-benar ditipu oleh mereka yang ditunjuk miskin dan ingin ditunjuk jadi miskin? Apakah pemberi bantuan itu benar-benar ditipu setiap tahun? Dugaan saya, sebenarnya mereka pun sudah tahu, tapi tetap mengondisikan diri untuk ditipu. Mengapa? Sebab anggaran negara berikut segala agenda pencitraan baik harus terus digulirkan.

Prosesi pemberian dana bantuan kepada mereka-mereka yang “miskin” pun berlangsung terus, terserah yang diberi itu benar-benar butuh bantuan, atau hanya ingin dapat uang jajan tambahan. Yang penting, penyaluran bantuan dan program pengentasan kemiskinan terus digulirkan untuk kepentingan ekonomi dan politik.

Praktik ini terus berputar-putar setiap tahun. Lebih ramai lagi kalau tahun pemilihan pemimpin tiba, baik di tingkat daerah maupun pusat. Agenda bagi-bagi uang akan sangat royal, lebih fenomenal ketimbang hujan uang.

Lantas dari manakah sumber uang yang dibagi-bagi kepada “si miskin itu”? Yakni berasal dari orang miskin juga. Orang miskin bayar pajak dan sejumlah pungutan negara lainnya. Orang miskin juga berusaha mencari uang, dapat gaji kecil, tapi tenaga mereka dikuras untuk keuntungan bisnis orang kaya.

Begitulah perputaran uang berlangsung terus menerus. Sederhananya, uang dan tabungan masyarakat diperas, tanah dan sumber daya alamnya direbut, lalu dengan entengnya mereka menunjuk-nunjuk rakyat sebagai orang miskin. Kemudian sebagian rakyat lainnya juga ingin disebut miskin. Mereka dapat bantuan berupa uang recehan yang tak seberapa. Mereka senang dapat uang bantuan, padahal uang bantuan itu sejatinya hanya sekian persen dari uang yang pada awalnya milik mereka.

Maka saya sepakat dengan pernyataan Profesor Jalaludin Rahmat dalam ceramah yang tadi pagi saya dengarkan. Bahwa kita sudah terkungkung dengan suatu sistem yang melemahkan. Kita tidak bodoh, tapi dibodohkan. Makanya, kemampuan pelajar di Jakarta dan Bandung dituntut setara dengan yang ada di Papua dan Pelosok Ambon.

Kita juga pada awalnya tidak lemah dan miskin, tapi kemudian sistem membuat kita menjadi golongan “Mustad’afin” atau orang-orang yang dilemahkan dan dimiskinkan dengan macam-macam agenda. Sistem perburuhan, pendidikan, sosial, dan sistem yang lain-lainnya dirancang tidak adil. Ada orang-orang dzalim di sekitar kita, yang mana jumlah mereka sedikit, tapi mereka egois karena inginnya dirinya dan keluarga mereka saja yang hidup dalam tipu daya dunia dan bergelimang harta.

Padahal sejatinya, bodoh, miskin dan lemah, sejatinya adalah urusan perasaan. Kalau ktia merasa, maka bodohlah, miskinlah dan lemahlah kita. Sementara itu, praktik pemberian bantuan idealnya didasari akan kepekaan sosial, bukannya ajang pamer atau jadi kendaraan politik orang-orang dzalim.

Diawali dengan kesadaran, semoga kita jadi punya kekuatan dan agenda baru untuk menolak dilemahkan. Terlebih kita punya sistem jaminan sosial yang mapan berupa zakat dan sedekah. Ketika semua orang punya harga diri, bagaimanapun kondisinya, orang-orang tak akan mau disebut miskin. Di sisi lain, ketika orang-orang juga punya kepekaan sosial, mereka akan saling memperhatikan satu sama lain. Kita jadi punya simpati sekaligus empati untuk menolong saudara-saudara kita yang butuh bantuan dengan niat yang bebas dari kedzaliman apalagi kemunafikan.

Wallahu A’lam.

Sumber Gambar: https://pixabay.com/id/cinta-jantung-waktu-memberikan-3365338/#_=_

Satu respons untuk “Perihal Kita yang Ditunjuk Miskin dan Mengaku-Aku Miskin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s