Perihal Nyanyian Gelatik yang Mendamba Merdeka

sparrow-158178_1280

Momen perayaan kemerdekaan di negara ini tinggal menghitung hari saja. Pada hari tersebut, orang Indonesia akan kompak membicarakan segala tentang makna kedaulatan dan kemandirian rakyat, dikondisikan untuk bernostalgia sembari menyatakan terima kasih kepada para pahlawan bangsa, serta tetap bergembira dengan ragam perlombaan menghias gapura, balap karung, makan kerupuk yang digantung, serta ragam perlombaan semarak lainnya.

Di momen kemerdekaan yang spesial buat bangsa ini, saya juga terteror dengan lagu berjudul “Burung Gelatik” karya Ibu Sud. Lagu ini terngiang-ngiang di telinga, terbayang-bayang di ingatan, menyulut saya untuk menyanyikannya lagi dan lagi belakangan ini.

Bagi kids zaman old, yuk kita nostalgia menyanyikan lagu ini. Bagi kids zaman now yang belum tahu, berikut ini lirik dan audio lagunya. Saya berharap kita sama-sama terkesima lagi dan lagi:

BURUNG GELATIK – KARYA IBU SUD

Hai burung gelatikku, hai burungku lucu

Mengapa tak kudengar bunyi suaramu

Mengapa kau tak makan segala umpanmu

Sakitkah engkau hai buah hatiku

Rindukah engkau hai kawanku yang lucu

***

Hai anakku lucu, kau yang baik hati

Tidakkah kau tahu artinya merdeka

Tahukah engkau apa arti bahagia

Tak sangkar beremas, tak umpan yang lezat

Dapat menggantikan rasanya merdeka

***

Lagu ini secara umum membicarakan tentang makna kemerdekaan yang dilantunkan seekor gelatik kesayangan. Di lagu ini kita jadi paham, bahwa kemewahan dan ketercukupan dunia tak bisa menggantikan kebahagiaan dalam memeroleh merdeka bagi siapa saja.

Termasuk bagi gelatik yang terkurung di dalam sangkar dan dimanja oleh pemiliknya, tetap saja ia murung dan bersedih karena tidak bebas terbang di alam bebas. Perolehan merdeka tetap yang paling utama, sebab apalah artinya kita hidup, jika perasaan masih terpenjara, jika keadaannya masih dalam komando, dikte dan pengaturan yang rigid dari bangsa asing?

Lagu “Burung Gelatik” juga punya makna khusus. Di mana saya pernah bangga dan bahagia belajar dan menyanyikan lagu ini bersama teman-teman SD. Guru kami, Pak Suyanto sangat sabar mengajari dan menyemangati kami untuk semangat bernyanyi, sebab dia ingin salah satu di antara kami ada yang ikut kompetisi menyanyi pakai lagu ini di Taman Ismail Marzuki.

Meski tak terpilih jadi perwakilan kelas untuk bernyanyi di perlombaan, tetap saja saya merasa keren bisa hapal lagu ini. Liriknya terasa sangat mengena di sanubari. Entah mengapa, meski lagu ini tak pernah menyengaja saya hapal, liriknya terus melekat, maknanya selalu bikin terharu. Saya bersyukur pernah jadi anak yang bernyanyi dan menyukai lagu keren ini.

Liriknya bagus, begitu pula nadanya. Sayang beribu sayang, Mbah Google yang katanya serba tahu justru belum terlalu pintar mendeteksi keberadaan lagu ini, baik dari segi liriknya maupun audio dan videonya. Hati saya jadi sedikit miris sekaligus khawatir. Semacam tidak rela kalau lagu ini hilang, terlupakan, tak lagi dinyanyikan oleh anak-anak bangsa.

Saya beberapa kali melakukan pencarian di google dengan style keyword yang umum hingga detil, sulit sekali mendeteksi keberadaan lagu ini. Sebab yang lebih popoler yakni lagu “Burung Gelatik” yang dinyanyikan Tasya.

Maka dari itulah, saya berinisiatif menuliskan tentang lagu ini di sini, bahkan membuat audio plus videonya sebagai pelengkap. Saya menggandeng adik, Khotami, untuk jadi penyanyi utama. Meski penyanyi kelas amatiran, suaranya pun pas-pasan, kami percaya diri saja karena sejatinya ini lagu keren sehingga tak perlu malu untuk menyanyikannya. Hahaha.

Saya harap lagu yang kami nyanyikan ini bisa membantu kalian mendapatkan gambaran nada di lagu ini, sehinga di kemudian hari kalian bisa menyanyikannya kembali dengan gaya dan nada yang lebih baik.

Untuk mendengarkan audio lagu Burung Gelatik versi Balet Sumber Cipta (Dalam Momen Tribute to Ibu Sud), klik di sini.

Artikel lainnya tentang lagu Burung Gelatik, klik di sini.

Lalu silakan bandingkan dengan lagu Burung Gelatik yang apalah-apalah versi kami, klik di sini.

Saya pikir pula, dengan upaya ini, Google akan jadi makin tahu, sehingga dia akan bisa bantu mempopulerkannya kembali kepada kalian semua yang sedang mencari. Sebab sungguh disayangkan kalau lagu ini terlupakan dan punah, digantikan dengan lagu ngecapruk semisal A-a-a-a-aisyah, Bojonya Jatuh Cinta Pa-pa-pa-pada Jamilah. Hehehe…

Sekian.


Sumber referensi dari sini

Sumber Gambar dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s