Perihal Teman Plastik

1988745_l1063684236.jpg

Kamu barusan menangis tersedu-sedu. Berdasarkan ceritamu, tangis itu disebabkan kamu yang sedang jadi obyek kedzoliman seorang teman yang sempat kamu anggap sejati. Sebab sakit dan kecewa, kamu beberapa menit lalu mengecap si teman sebagai “teman plastik”.

Loh, di tengah rasa simpati, aku sedikit tergelitik dengan istilah baru itu. Aku pikir, yang plastik itu cuma mainan, gelas dan piring, atau operasi–operasi plastik. Rupanya ada juga teman plastik.

Kata kamu kemudian, disebut plastik, sebab orang yang dimaksud menunjukkan diri sebagai teman, lantas bersikap baik dan selalu menemani kamu di saat suka dan banyak rezeki, tapi kemudian begitu saja meninggalkanmu, bahkan mengkhianatimu di saat kamu berada di situasi kurang baik.

Masih menurut kamu yang bercerita sambil terisak-isak, teman plastik bukanlah berarti mereka yang tubuhnya terkontaminasi plastik karena operasi, atau badan dan wajahnya dibalut plastik seperti barbie. Bukan, sama sekali bukan seperti itu.

Teman plastik justru juga manusia biasa yang badannya terdiri dari tulang berbalut daging serta jaringan penting lainnya. Disebut plastik, sebab substansinya mereka plastik. Tidak original. Palsu. Berpura-pura. Manis di bibir, menyeleweng di hati. Hanya ada di saat bahagia, tapi menghilang kala duka melanda. Bersikap baik di depan, tapi diam-diam menikam di punggung.

***

Oh… Baiklah. Sekarang aku jadi sedikit paham tentang apa yang kamu sebut ” teman plastik”. Adakah memiliki teman plastik adalah sebuah kesialan? Tapi aku bahkan ragu, memangnya yang kamu sebut “teman plastik” itu benar-benar ada?

Sebab sesungguhnya sejak tadi aku sangsi. Kamu sepertinya terlalu berekspektasi tinggi terhadap segala hubungan pertemanan. Kamu terlalu percaya akan kehadiran “teman sejati”, padahal itu hanya mitos belaka. Sikap kamu yang norak ini mungkin disebabkan kamu yang belum banyak berinteraksi dengan ragam manusia dengan masing-masing kepribadiannya.

Jadi, segeralah berhenti menangis dan membatin tentang “teman plastik”. Setelah itu, dengarlah ucapanku baik-baik.

Dengarlah, bahwa kalau kamu begitu ringan menyebut orang lain palsu, plastik, mungkin kamulah orang yang akan terus bersedih sepanjang waktu. Pada akhirnya, kamu tak akan punya satu pun teman di dunia.

Mengapa kamu sedih ketika diabaikan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang kamu anggap teman? Padahal kamu tidak punya kendali terhadap apapun yang dipikirkan atau dilakukan orang. Padahal kamu juga punya peluang untuk menyakiti dan mengkhianati. Pun, ketika kamu bersedih dan mengatai mereka plastik, toh hidup mereka akan terus berjalan, tanpa berpusing-pusing dengan penilaianmu.

Lantas mau sampai kapan kamu terkekang oleh sedih dan kecewa?

Berjanjilah padaku, bahwa ini adalah tangisan yang terakhir. Setelah kesedihan ini berakhir, kamu harus segera kembal menatap dunia serta manusia-manusia di sekitarmu dengan pandangan yang lain. Pandangan yang kumaksud adalah, jangan melulu menuntut orang untuk jadi seperti ini atau seperti anu. Jangan pula berekspektasi berlebihan terhadapku, serta terhadap mereka yang kau anggap teman.

Bahwa seorang teman harus setia, bahwa mereka harus menemani dan membantu di kala suka dan duka, bahwa teman haruslah berlaku sejati, seiya sekata, itu bullshit. Sebab faktanya, semua orang termasuk dirimu, punya kepentingan dan masalahnya sendiri-sendiri. Kita berinteraksi berdasarkan kebutuhan, serta selalu berkutat dengan manajemen emosi yang fluktuatif. Kita bahkan tidak lepas dari khilaf dan dosa.

Teman sejati hanyalah mitos belaka, sebab tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Lantas siapalah kamu yang berani-beraninya menuntut sempurna kepada teman-temanmu?

Yang mau aku katakan, janganlah berlaku begitu. Ketimbang sibuk menuntut orang-orang agar sesuai dengan ekspektasimu, lebih baik kamu berganti fokus dengan berkarya sebanyak-banyaknya, terserah di sebelah mana passionmu tumbuh. Bukankah kita masih punya PR besar di setiap hari, yakni mengalirkan energi positif ke dalam otak dan tubuh, sekaligus meredam segala yang negatif?

Dengan berkarya, kamu akan menjalin banyak hubungan pertemanan berdasarkan kerjasama yang menyenangkan, serta saling mendukung kepentingan masing-masing. Aku pikir itu akan lebih baik, sehingga bukan hubungan saling tuntut yang akan terjalin, melainkan saling bantu, saling apresiasi.

Percayalah, yang plastik itu bukan teman, melainkan ember dan operasi. Meski tidak ada teman sejati, kamu tetap bisa tersenyum dan berkembang dengan teman-teman yang siap bekerja sama dengan sehat di sekitarmu.

Jika di antara mereka ada yang menyakitimu atau mengkhianatimu, itu merupakan hal yang wajar karena manusia tempatnya khilaf dan salah. Disadari ataupun tidak, kamu pun berpeluang berlaku salah kepada teman-temanmu, bukan?

Jadi ketika tersakiti oleh orang yang kamu anggap teman, tetaplah anggap mereka teman. Jangan balas perlakuan jahat dengan kejahatan pula. Justru memaafkan dan mendoakan lebih baik, sehingga kamu akan sejenak terbebas dari energi negatif yang mengintit sepanjang hidup.

Berupayalah!

12082019
Sumber Gambar dari sini

Satu respons untuk “Perihal Teman Plastik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s