Prosesi Menuju Masyarakat Antikorupsi (Bagian III-Habis)

team-3393037_1920

Ini merupakan bagian terakhir dari rangkaian tulisan berjudul “Ketika Kita Terbiasa dengan Praktik Korupsi”. Untuk membaca bagian pertama dan kedua dari artikel ini, silakan klik di sini dan di sini.

***

Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu—kecil atau besar—yang terikat oleh satuan, adat, ritus, atau hukum khas, dan hidup bersama. Demikian satu dari sekian banyak definisinya. Al-Quran, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Isra ayat 18, menekankan kebersamaan anggota masyarakat seperti gagasan sejarah bersama, catatan perbuatan bersama, bahkan kebangkitan dan kematian bersama.

 

Dari sini, lahir gagasan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta konsep fadhu kifayah dalam arti semua anggota masyarakat memikul dosa bila sebagian dari mereka tidak melaksanakan kewajiban tertentu (Shihab, 2007: 424).

 

Meskipun Al-Quran bukanlah kitab ilmiah—dalam pengertian umum—kitab suci ini banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan salah satu fungsi utamanya adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat, atau dalam istilah Al-Quran: litukhrija an-nas minazh-zhulumati ilan nur (mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang benderang) (Shihab, 2007: 421). Dengan demikian, Al-Quran pun punya sudut pandang sendiri dalam menanggulangi praktik korupsi di negeri ini.

 

Jika Ahmad Syafii Maarif berpendapat bahwa solusi yang serba instan harus dijauhi karena tidak akan pernah menyembuhkan penyakit kronis bernama korupsi, kita semua harus sepakat. Sebab, praktik korupsi telah mengakar, membudaya, bahkan kita nyatanya sudah terbiasa bersinggungan dengan praktik korupsi. Merubah perilaku masyarakat tidak bisa ditempuh dalam waktu yang sebentar. Tidak pula semudah menyeduh mi instan.

 

Kita sepakat bahwa korupsi telah lama merusak perpolitikan bangsa ini, pun merusak mental masyarakatnya. Maka dari itu, pendiri Maarif Institute itu mengatakan bahwa syaratnya hanya satu: fungsikan kembali nurani dan akal sehat itu secara berani dalam bangunan kolektif. Selain itu, posisi pegamalan Al-Quran menjadi penentu keberhasilan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

 

Salah satu hukum kemasyarakatan yang amat populer—walaupun sering diterjemahkan dan dipahami secara keliru—adalah firman Allah yang berbicara tentang hukum perubahan, yakni surah Al-Ra’d ayat 11.

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka.”

 

Menurut Quraisy Shihab sebagaimana dikutip dalam buku “Membumikan Al-Quran”, ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua, perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat atau kelompok dengan masyarakat atau kelompok lain.

 

Menurut ayat ini, betapapun hebatnya seseorang, tidak akan dapat melakukan perubahan kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan tersebut kepada sekian banyak orang. Merubah sikap mental dan cara pandang masyarakat terkait korupsi tidak bisa dilakukan sendirian. Tetapi, semua bermula dari langkah perubahan individu yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

 

Praktik korupsi di Indonesia berlangsung sistemik, membudaya, bahkan sudah dianggap sebagai hal yang lumrah. Maka dari itu, keterkaitan antara pribadi dan masyarakat sangat penting, Besarnya perhatian Al-Quran terhadap lahirnya perubahan-perubahan positif, mengantarkan kepada berulangnya ayat-ayat yang menekankan tanggung jawab perseorangan dan tanggung jawab kolektif seperti pada surah maryam ayat 93-95, surah al jatsiyah ayat 28.

 

Meskipun Al-Quran menisbahkan watak, kepribadian, kesadaran, kehidupan, dan kematian kepada masyarakat, Al-Quran tetap mengakui peranan individu, agar setiap orang bertanggung jawab atas diri dan masyarakatnya. Banyak sekali kisah Al-Quran yang menguraikan peampilan satu individu untuk membangun masyarakatnya atau menentang kebejatannya. Keberhasilan mereka pun berdasarkan satu hukum kemasyarakatan yang pasti (Shihab, 2007: 424).

 

Ada pribahasa yang menyebutkan, kuman di tengah pulau kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat. Itu pribahasa yang sederhana, tapi bisa jadi kitalah pelakunya. Di media, kita selalu miris dan terbakar emosinya dengan para pejabat di luar sana yang korupsi. Tapi kita lupa berkaca. Jangan dulu terlalu jauh melihat kebobrokan sistem pemerintahan yang belum kita pahami.

 

Mari mulai mengidentifikasi diri. Adakah kita sesungguhnya bagian dari pelaku korupsi? Mulailah mengintrospeksi diri, dan memohon ampun kepada ilahi robbi. Tekadkan bahwa kita punya tanggung jawab untuk menjaga diri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita untuk tak melakukan korupsi.

 

Setelah individu bertekad melakukan perubahan, langkah selanjutnya adalah menggantungkan kepercayaan pada Allah semata. Memperjuangkan sebuah prinsip dan kebenaran pastilah menuai tantangan, bahkan mungkin terasingkan. Tapi, jika keyakinan terhadap Allah telah tertanam, maka tidak ada yang perlu ditakuti. Allah-lah yang menjamin kehidupannya, rezekinya, serta takdir baiknya.

 

Pembagian tugas antara rakyat dan pemerintah harus jelas. Pemberantasa korupsi secara teknis dan langsung ke lapangan jelas harus diiringi kesungguhan untuk menegakkan keadilan. Harus ada mekanisme perangkai antara laporan masyarakat dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan pihak kepolisian. Tugas masyarakat kemudian adalah sebagai pengawas. Bukan pemirsa setia yang duduk lalu mencari aman sebagai pegawai. Rakyat harus menyembuhkan diri dengan mulai berpegang kembali kepada ajaran agamaya. Islam.

 

Pengawas tentunya harus cerdas dan jangan mudah terprovokasi. Sebagai pengawas, kita bersikap tenang dan memiliki kredibilitas tinggi. Menempatkan diri sesuai posisi kita merupakan langkah selanjutnya. Setiap profesi punya tanggung jawab yang sama dalam membangun peradaban yang sehat. Jika kita seorang penulis, maka menulislah sehingga berdampak positif bagi pembacanya.

 

Jika kita seorang petani, jadilah petani cerdas yang memproduksi padi berkualitas tinggi, tapi juga jangan mau dibodoh-bodohi pengusaha curang. Jika kita seorag pedagang, jadilah pedagang yang jujur denga mencontoh Rasulullah. Jika kita seorang guru, jadilah pendidik yang bertanggung jawab memberi asupan ilmu dan moral yang baik kepada murid-muridnya. Marilah berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Maka, kita akan menjadi masyarakat yang sehat dan beruntung. Jangan pernah merasa lelah. Sekecil apapun perilaku baik yang kita lalukan, akan berdampak besar kepada masyarakat dan juga negara ini.

 

Masalahnya sekarang ada di eksekusi penyelesaian. Kesungguhan kita dipertanyakan. Apakah kita masih punya keyakinan untuk terbebas dari belenggu korupsi? Apakah kita siap memperjuangkan pembentukan budaya tandingan secara kompak dan simultan?

***

Akhir kata, tulisan ini sejatinya adalah ekspresi kegalauan karena pemberitaan seputar korupsi terus berlangsung dan terasa melelahkan. Fungsi utama tulisan ini adalah ingin menasihati dan mengingatkan diri saya sendiri, agar terus berupaya agar selalu bersetia pada kebaikan dan menghindari praktik dzolim, apapun judulnya. Semoga teman-teman pembaca juga dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Amin, Ya Rabb.

 

Sumber Gambar: dari sini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s