Menelanjangi Wajah Media, Diawali Antipati Berujung Sumbang Solusi (Review Buku Melawan Hegemoni Media)

IMG_20180811_212732

Judul Buku: Melawan Hegemoni Media

Penulis: Dono Darsono, Encep Dulwahab dan Enjang Muhaemin

Penerbit: ARSAD Press

Tahun Terbit: 2011

Harga Buku: Gratis, pemberian dari penulis

***

Media massa ibarat pisau bermata dua. Dia bisa bermanfaat, misalnya dipakai untuk mengiris cabai dan bawang sebagai bumbu masak, tapi juga bisa dipakai untuk melukai orang, bahkan membunuh. Dalam sejumlah perkuliahan ilmu komunikasi dan sosial, media kerap diceritakan punya andil besar dalam menyebarkan ilmu, informasi serta ragam ide cemerlang diiringi hiburan yang menyenangkan.

Di sisi lain media massa juga bisa jadi ajang penyebaran fitnah, propaganda yang menyulut kerusuhan, hingga berakhir pada agenda penghancuran di mana-mana. Pada akhirnya, orang-orang yang menguasai bisnis media, para pekerja di dalamnya, serta warga net, punya andil besar dalam merancang arah pemberitaan di media.

Trio dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung yakni Pak Dono, Pak Dul dan Pak Enjang, yang mana ketiganya adalah dosen saya yang terhormat, menghimpun kumpulan artikel yang diduga bertujuan menelanjangi dosa-dosa media.

Sebagian dari kita mungkin sudah tahu tentang sepak terjang produk media massa yang diiringi dosa sekaligus pahala, tersalur lewat TV, radio, Koran, serta internet. Orang-orang yang tahu itu merasa resah dan bersikap antipati karena faktanya, di era kapitalis saat ini dosa media lebih banyak ketimbang pahalanya. Sebagian lainnya tidak menyadari, bahkan pasrah menjadi obyek hegemoni media yang tak terkendali.

Tapi di antara banyaknya orang yang menyadari ataupun tidak menyadari tentang isu hegemoni media itu, hanya segelintir saja yang bisa membahasakannya dengan terampil, lantas dirangkai dalam tulisan sehingga menjadi 40 artikel, dihumpun jadi satu buku, kemudian pada akhirnya dapat disuguhkan pada pembaca.

Buku secara garis besar terdiri dari empat bagian. Di mana bagian pertama bercerita tentang keampuhan dan kehebatan media dalam mengendalikan pergerakan bahkan pola pikir publik, lengkap dengan cerita sejarah media dari masa ke masa.

Melangkah pada bagian kedua, “Dosen Triplets”menggulirkan tentang isu pornografi. Ini merupakan suatu isu yang dibahas di ruang remang-remang, tapi banyak yang berminat secara diam-diam. Mereka berkolaborasi membongkar peranan pers dan media massa dari masa ke masa ke dalam rangkaian kata, membicarakan tentang pornografi secara sopan tapi tetap akrobatik, serta menekankan tentang hegemoni media yang kerap meresahkan.

Menginjak ke bagian tiga dan empat, kita akan mendapatkan suguhan artikel yang berfokus pada realitas media sebagai sarana penyebar informasi baik maupun buruk, dibarengi analogi-analogi dan diksi yang renyah.

Itulah garis besar pesan yang saya tangkap dari buku ini. Para penulis tak cukup hanya membahasakannya, mereka bahkan menggulirkan sumbang solusi di mana kita harus kembali menggiring media agar bisa difungsikan untuk “memotong bawang”: alat penyebar informasi positif, membantu pemberantasan korupsi, serta ajang berkreasi sehingga bangsa ini menjadi keren.

Selayaknya para akademisi dan praktisi di bidang Jurnalistik, mereka tidak sekadar merangkai kata yang akrobatik dalam setiap artikel yang disuguhkan. Tapi artikel-artikel itu jadi padat informasi karena memuat data-data dan fakta yang up to date tentang sepak terjang media massa hingga buku diterbitkan pada 2011.

Ketika pertama kali membaca buku ini, otak saya merasa benar-benar diperkaya dengan ragam ide dan gagasan tentang realitas media kala itu. Saya bahkan dapat bonus ragam contoh artikel ideal untuk bekal keterampilan menulis. Karenanya, buku ini layak dibaca oleh semua orang yang ingin belajar menulis untuk dipublikasikan.

Saya berterima kasih pada Pak Enjang Muhaemin, salah satu penulis, yang sudi memberikan buku ini pada saya secara cuma-cuma, segera setelah buku ini rilis pada 2011. Sekadar informasi, dia itu salah satu dosen favorit saya. Orangnya kalem tapi semua pembicaraannya berbobot. Dia tipikal orang yang berpikir panjang sebelum bicara atau menulis. Dia juga tampil sederhana sehingga tak membuat canggung.

Saking santainya, Pak Enjang bahkan bisa membuat saya selalu menjadikannya obyek “mengadu” ketika menemui kendala apa saja di kampus, termasuk ketika kesulitan menggarap skripsi beberapa tahun yang lalu. Melalui tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih yang banyak untuk beliau.

Kembali ke buku, meski sudah menginjak 2018, buku ini tetap terasa segar, karena pada dasarnya, praktik penguasaan media terhadap pola pikir masyarakat masih terus berulang-ulang di bidang ekonomi, politik, edukasi dan isu agama hingga kini.

Kita bahkan bisa memperalat buku setebal 213 halaman ini sebagai sumber referensi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga bisa jadi bahan pembelajaran untuk merespons, bahkan melawan hegemoni media di masa kini.

Mengapa harus melawan hegemoni media? Sebab sejatinya, kita jangan mau sudi dikuasai oleh alat, justru kitalah yang harus punya kuasa memperalat “pisau” media agar bisa membaikkan diri kita, lingkungan, serta lebih jauh lagi, bangsa Indonesia. Akhir kata, selamat membaca!

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s