Ketika Kita Terbiasa dengan Praktik Korupsi (Bagian I)

taxes-1027103_1920

Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika mendengar kata “Korupsi”? Mungkin kita akan langsung membayangkan para pelakunya, yakni pejabat pemerintahan yang hidup bergelimang harta karena terbiasa menggelapkan uang negara. Kita pun kemudian akan berpikir soal kerugian negara, dan masyarakat yang sengsara menanggung dampaknya.

 

Apapun yang ada di dalam pikiranmu, mari simpan sejenak untuk menelisik makna dasar Korupsi versi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata “Korupsi” meurut KBBI adalah suatu penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara atau perusahaan untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Bila disandingkan dengan waktu, korupsi juga berarti menyalahgunakan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi.

 

Korupsi merupakan kata serapan dari bahasa inggris, corrupt, yang berarti merusak, menyuap, jahat. Jika begitu, terdapat keterkaitan dengan definisi korupsi versi KBBI, ditinjau dari aspek dampaknya. Ketika seseorang melakukan penyalahgunaan uang, barang, ataupun waktu untuk keuntungan pribadi, maka orang tersebut telah melanggar aturan hukum, merusak tatanan sistem, dan otomatis juga merusak kesehatan moral dirinya sendiri.

 

Praktik korupsi mungkin sudah ada sejak negara ini berdiri. Diwarisi dan diajarkan secara turun-temurun oleh pemerintahan terdahulu, juga pemerintahan masa kolonial. Tetapi, popularitasnya menanjak ketika gerakan-gerakan reformasi era 1997 datang. Pers dengan gagah berani menyerukan reformasi (Darsono, Dulwahab, dan Muhaemin, 2011: 165).

 

Dengan cepat gerakan-gerakan yang reformatif pun bermunculan di mana-mana. Singkat cerita, pers dan gerakan massa berhasil menumbangkan rezim yang telah berkuasa dalam kurun waktu lebih dari 32 tahun.

 

Setelah rezim Soeharto runtuh, rakyat seolah terlepas dari belenggu. Sistem yang lebih terbuka membuat kita sampai hari ini bebas mengutarakan kritik dan saran atas kebijakan publik. Pun media, selalu bersemangat membuat berita seputar korupsi di Indonesia. Wacana pemerintahan korup mulai garang disuarakan. Dari mulai balita hingga orang tua, hampir semua lapisan masyarakat tahu dan akrab dengan kata yang mengandung roh negatif ini.

 

Anehnya, seperti sebuah lingkaran setan, penyelesaian kasus korupsi seakan belum kunjung menemukan titik terang. Seperti sebuah misteri yang tak terpecahkan, korupsi tumbuh subur tanpa tahu siapa yang menanamnya. Seperti wabah, praktik korupsi merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan, dari mulai aspek politik, budaya, politik, pendidikan, dan hukum.

 

Yang membuat tambah miris, para koruptor seakan tidak dibuat jera, karena proses hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Koruptor tak lagi takut jika tertangkap basah dan digiring ke penjara. Sebab dengan uang hasil korupsi yang berlimpah ruah, mereka bisa dengan mudah melakukan praktik suap, seperti mendapatkan fasilitas mewah di balik jeruji penjara, hingga bebas keluar masuk sel dan melanjutkan agenda korupsi yang telah dimulai.

 

Pemberitaan terhangat seputar memblenya penanganan kasus korupsi di tanah air yakni ditunjukkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, di mana tim melakukan penangkapan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin atas kasus jual beli sel penjara, di mana dengan membayar uang sekian—yang jumlahnya fantastis—seorang koruptor bisa mendapatkan kamar penjara rasa hotel bintang lima.

 

Kasus tersebut diteruskan dengan penayangan inspeksi mendadak Kementerian Hukum dan HAM bersama Jurnalis kondang Najwa Shihab di media massa. Publik lantas diperlihatkan “sel palsu” Setya Novanto, Nazarudin serta koruptor-koruptor lainnya. Publik pun jadi bersikap antipati, betapa lembek dan loggarnya perlakuan tim penegak hukum di negara ini kepada para pelaku korupsi.

 

Sebelumnya, dereta kasus korupsi yang diperlihatkan media tak ketinggalan menyisakan rasa miris. Kita dibuat jengah dan gelisah pada awalnya. Pasalnya, belum selesai kasus yang satu, sudah datang kasus yang lain. Terkadang kasus-kasus tersebut saling berkaitan atau (sengaja) dikait-kaitkan.

 

Semua orang kemudian beramai-ramai merumuskan tentang bagaimana cara ampuh memberantas korupsi. Bahkan ada yang secara ekstrem menyarankan untuk memenggal satu generasi pemerintahan sekaligus, misalnya melakukan pemecatan massal pejabat yang terlibat korupsi, untuk segera dipotog tangannya, dihukum gantung, atau ditembak mati. Lalu digantikan dengan generasi baru yang diyakini bersih dan jujur. Tak ketinggalan sejumlah gerakan antikorupsi didirikan dalam bentuk lembaga maupun organisasi massa. Tujuannya tak lain untuk mendukung upaya solusi.

 

Kita kemudian bosan. Kasus korupsi yang sudah seperti benang kusut itu tak kunjung menemui jalan penyelesaian. Lalu media tak kehabisan akal. Pemirsa yang bosan kemudian disuguhi bumbu-bumbu pemberitaan seputar kasus korupsi. Misalnya, tontonan seputar kehidupan pribadi koruptor, silang pendapat dan debat para pakar politik, komentar selebritas, dan parodi kisah korupsi.

 

Kemudian, kita penasaran lagi, mendengarkan mereka yang berang dan saling menyalahkan akibat korupsi. Lumrah. Tak terasa, kita pun terbiasa. Sebagian dari kita bahkan mulai memaklumi “kesalahan” para koruptor. “Kasihan, manusia itu kan memang tempatnya salah dan lupa. Padahal bapak Anu suka beramal, suka berbuat baik, suka bersedekah kepada fakir miskin, dan suka mempermudah jalan administratif untuk kita,” begitulah kira-kira pikirannya jika dijabarkan dalam bentuk kata-kata.

 

Kita pun terlupa akan satu hal. Lupa tentang fakta keberadaan kita yang rupanya hanya sebagai komentator yang enggan memasuki permasalahan. Selama ini, kita menyaksikan berita korupsi di media dengan segenap kepasrahan. Padahal, kita sesungguhnya punya andil besar dalam upaya penyelesaian korupsi di negara ini.

 

Lantas pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita turut andil dalam menyelesaikan kasus korupsi? Silakan baca tulisan selanjutnya di sini.

 

Sumber Gambar ilustrasi dari sini

 

2 respons untuk ‘Ketika Kita Terbiasa dengan Praktik Korupsi (Bagian I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s