Kisah Kusut Mengantar Anak “Tetangga” Pulang ke Rumah (Review Film Bajraangi Bhaijaan-2015)

bajrangi-bhaijaan

Apa sulitnya mengantarkan anak tetangga yang tersesat pulang kembali ke rumah? Kalau kamu peduli, kamu tinggal meluangkan waktu beberapa saat untuk mencari alamat, menempuh perjalanan darat yang sederhana, lantas sang anak pun bisa kembali pulang ke rumah orang tuanya dengan selamat.

Tapi justru Film Bajraangi Bhaijaan menafikan anggapan tersebut lalu menampilkan cerita sebaliknya. Dalam film berdurasi sekitar dua jam 40 menit ini, dipamerkan ragam kisah kusut dan kompleks seorang pemuda India yang jujur bernama Pawan (diperankan oleh Salman Khan) dalam misi mengantarkan anak “tetangga”nya yang tersesat di India, agar bisa kembali ke Pakistan. Pawan harus menempuh perjalanan yang melelahkan bahkan berdarah-darah agar gadis manis bernama Shahida (diperankan oleh Harshaali Malhotra) bisa pulang ke rumah dengan sehat dan selamat.

Seperti kita ketahui, India pada mulainya merupakan sebuah keluarga yang terdiri atas sekumpulan komunias besar dan utuh. Namun Perang Dunia II memberi “oleh-oleh” berupa konfik politik dan perang saudara yang tragis dan miris sehingga menghasilkan perpecahan. Sejumlah penguasa yang bertikai pun kemudian sepakat untuk bercerai, hingga lahirlah negara Pakistan. Alhasil, terdapatlah dua negara yang bertetangga, tapi mereka saling alergi, berburuk sangka, menolak berinteraksi secara ramah dan intens.

Dua negara ini bahkan secara terang-terangan memisahkan wilayah mereka dengan pagar yang kokoh dan tinggi, serta dipasang aliran listrik yang mematikan pula. Interaksi penduduk antar negara dipastikan seminimal mungkin demi menghindari konflik dan bentrokan yang berpotensi makan korban jiwa.

Film pada awalnya menceritakan tentang Shahida, gadis kecil asal Pakistan yang tidak bisa bicara. Dalam suatu perjalanan pulang naik kereta sepulang berobat di India, Shahida gagal ikut pulang bersama ibunya. Ia ditinggalkan karena kepolosan dan kecerobohannya. Shahida pun luntang lantung di India. Rasa lapar dan sedih dibawa-bawa. Ia berharap ada orang yang bisa membantunya pulang ke rumah.

Pengharapan Shahida terkabul lewat pertemuannya dengan Pawan Kumar Chaturvedi, seorang penyembah Dewa Hanuman yang jujur dan setia. Dengan tingkah polosnya, Pawan dibuntuti, dijadikan obtek pengharapan oleh Shahida. Pawan sebenarnya bingung karena Shahida bisu. Ia jadi kesulitan bertanya alamat rumah Shahida.

Di sisi lain, ia tak tega kalau harus meninggalkannya sendirian. Pawan pun membawa Shahida pulang, berharap Dewa Hanuman memberi petunjuk selanjutnya sehingga dia bisa mengantarkan Shahida pulang ke rumah. Keputusan Pawan menolong Shahida menjadi penanda awal perjalanan yang seru dan penuh lika-liku, di mana misi utama Pawan adalah mengantarkan Shahida pulang ke rumah dengan selamat.

Meski punya sifat jujur dan taat, Pawan dalam film ini juga dianggap bodoh dari sudut pandang akademik dan fisik. Berkali-kali ia tidak lulus ujian pun tidak pandai bermain dangal (gulat India). Ayahnya yang merupakan orang terkemuka di desa sampai-sampai putus asa dan merasa bahwa Pawan tak punya harapan untuk maju.

Dianggap begitu, Pawan tetap berpikiran positif dan tetap konsisten pada prinsip kejujurannya. Betapa bahagianya jadi Pawan, di mana tingkat keimanannya tampak sempurna kepada kekuatan Dewa Hanuman.

***

Bajraangi Bhaijaan adalah film keluarga yang sarat akan pesan moral, menghibur dengan serangkaian komedinya, tapi juga sanggup membuat penonton mengharu biru hingga nangis Bombay. Dalam film ini, kamu akan disuguhkan dengan ragam kisah miris terkait dampak buruk yang harus diterima warga sipil akibat konfilk politik.

Meski mengusung isu sosial dan politik, pemirsa tidak perlu khawatir karena kita akan tetap dapat suguhan yang hangat, di mana rasa kemanusiaan masih tetap bisa diandalkan, tak peduli orang itu berasal dari wilayah mana, agamanya apa, atau status sosialnya berada di tingkat yang mana. Semua orang berpeluang untuk saling menolong, jujur dan menebar kasih sayang jika kita terampil mengikuti hati nurani.

Gambaran dengan interaksi yang hangat itu sudah ditampilkan di menit-menit pertama film, di mana Pawan berkesempatan menceritakan sekilas kehidupannya di masa silam kepada para penumpang Bus. Pengalaman macam begini sangat mahal karena di dunia nyata, kebanyakan orang saling diam dan sibuk dengan gadget masing-masing ketika sedang menumpang di bus kota.

Ada pula seumlah contoh tentang toleransi sehingga membuatmu tersentuh. Misalnya ketika Pawan dibantu oleh seorang Imam Masjid yang bijak dan cerdas dalam upayanya mengembalikan Shahida ke rumah. Ini bagi saya merupakan tayangan yang berharga di tengah situasi kita yang saat ini sangat mudah mengakfir-kafikan orang.

Sebagai bumbu pemanis yang harus eksis, film Bajraangi Bhaijaan juga dibumbui kisah romantic yang super santun dan ramah anak. Seorang gadis cantik anak teman ayahnya yang bernama Rasika (diperankan oleh Kareena Kapoor) jatuh cinta padanya. Alasan sang gadis yakni telah menemukan kebaikan dan ketulusan di dirinya Pawan.

Meski sifat ideal terdeteksi di diri Pawan, pun Rasika memutuskan untuk memilih Pawan sebagai calon suaminya, tetap saja gadis itu harus menerima konsekuensi pahit atas pilihannya. Di mana ia harus sabar dan mendukung ketika kebaikan dan ketulusan Pawan harus dibayar dengan segenap pengorbanan, kemustahilan dan taruhan nyawa.

Meski durasi film cukup panjang, dijamin kamu tidak akan merasa bosan. Apa pasal? Sebagaimana lazimnya film india, penonton akan disuguhkan dengan lagu-lagu dan joget yang asyik di sela-sela film. Lagunya dinyanyikan merdu, dan kita juga akan dimanjakan visual yang indah berupa panorama alam serta wajah Salman Khan yang ganteng, Kareena yang cantik dan Shahida yang lucu nan jelita.

Saya hampir terlupa untuk menuliskan peran jurnalis yang tak kalah penting dalam membangun cerita, sekaligus turut melancarkan misi Pawan agar berjalan mulus. Tanpa wartawan asal Pakistan ini, Pawan mungkin akan gagal, baik dalam misi mengembalikan Shahida pulang, maupun memulangkan dirinya sendiri ke India.

Film Bajraangi Bhaijan berpesan, bahwa ada pelajaran dari setiap perjalanan, sesederhana apapun ia ditempuh. Jangan lupa untuk mengiringi perjalanan dengan kebaikan, kejujuran dan hati yang tulus. Sebab dengan begitu, ragam kemudahan dan pertolongan akan datang. Bahkan kemustahilan akan mampu disulap jadi hal yang mungkin.

Kerasnya batu akan bisa diluluhkan, bahkan bisa menggerakkan semesta untuk membantu mencerahkan dunia. Jadi jangan cepat putus asa ketika niat baikmu tidak didukung. Selama keyakinanmu benar dan tak merugikan orang lain, silakan jalan terus dengan penuh semangat. Nantinya kamu akan dijanjikan segenap keajaiban yang membuat dunia tersenyum lebar.

Akhir kata, selamat menonton dan semoga kalian turut terinspirasi atas keberadaan film gemilang tersebut.



Sumber Gambar dari sini

Iklan

Satu respons untuk “Kisah Kusut Mengantar Anak “Tetangga” Pulang ke Rumah (Review Film Bajraangi Bhaijaan-2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s