Mengapa Harus Upgrade Wordpress ke Premium? (Sharing Kisah Saya Bersama Wordpress)

wordpress-552924_1920.jpgBlog merupakan salah satu perangkat berbagi yang cukup cemerlang, terutama bagi orang-orang yang menyukai dunia tulis-menulis, literasi dan bloging. Mengapa dikatakan cemerlang? Sebab dengan blog, orang-orang bisa berkarya apa saja, dari mulai nulis curhat, cerpen, puisi, apresiasi karya melalui ragam review, hingga aktivitas lainnya seperti pasang foto atau video bagus.

Produk-produk kreatif tersebut lantas bisa dibagikan ke khalayak banyak, terutama yang online di jejaring maya. Selain sebagai subyek, kita juga berpeluang jadi obyek yang mengapresiasi karya kreatif orang yang terpamerkan di blog mereka. Kegiatan saling mengapresiasi di sini sungguh menyenangkan.

Di antara orang-orang tersebut adalah saya, yang kemudian mengandalkan wordpress sebagai wadah untuk menampung tulisan-tulisan sejak 2015. Puji dan syukur kepada Allah, sebab hingga tiga tahun kemudian, saya masi bertahan di sini, meski agenda disiplin menulisnya masih tak keruan, meski produk-produk dan konten di sini masih alakadarnya.

Sebelum saya utarakan sejumlah alasan, mengapa kita harus upgrade wordpress ke premium (khusus pengguna wordpress), saya ingin terlebih dahulu bercerita kisah awal ketergabungan saja sebagai blogger di wordpress.

Semua bermula ketika saya menjadi reporter di salah satu surat kabar nasional. Kala itu saya ditempatkan bertugasi di Ibu Kota, sehingga harus ngekost di sana beserta sejumlah teman-teman jurnalis lainnya. Kala itu ada Hilya, Risa, Kristi dan Binti yang merupakan wartawan, pun mereka juga jadi tetangga kost-an.

Di sela-sela senggang liputan, kami kerap berkumpul untuk sekadar makan bersama, berbincang, diskusi, ngegosipin narasumber atau redaktur, serta kegiatan menyenangkan lainnya. Lantas di suatu momen, terpikirkan oleh kami untuk bisa berkarya untuk diri sendiri.

Maksudnya, kami menolak untuk setiap hari menulis, tapi hanya untuk pekerjaan dan kantor. Kami juga ingin punya produk kreatif sendiri, yang digagas oleh pikiran sendiri, bukan bergantung pada hasil wawancara maupun karena ada peristiwa tertentu. Kami ingin menulis, setidaknya demi menjaga kesehatan pikiran, juga sebagai sarana berkontemplasi.

Tepatnya 27 Maret 2015, saya membuat tulisan perdana di sini. Itu hanya tulisan curhat sederhana bertajuk “Mulai Lagi”, sebagai ungkapan pertaubatan dibarengi pengakuan dosa karena melulu tak berdisiplin dalam menulis.

Di minggu-minggu pertama, saya dan Geng Jurnalis Kosan kentara sekali semangat menulisnya. Di sela-sela kegiatan liputan kami menulis untuk blog, lalu saling berbagi, saling mengapresiasi. Saya makin semangat mengelola Blog karena juga bisa untuk ajang pamer ke mantan gebetan, meski entah dianya terpesona atau malah ilfeel dengan tulisan-tulisan saya. Hahaha…

Lalu pekan demi pekan berlalu, bulan berganti bulan, euforia ngeblog geng kosan redup. Alasannya macam-macam, dari mulai sibuk, belum dapat inspirasi hingga terang-terangan bilang malas. Blog pun sejenak ditinggalkan, lalu disapa lagi ketika sadar, begitulah hingga sekian lama saya tidak berdisiplin menulis di sini.

Nah, pada Agustus 2018, saya dapat pencerahan untuk meng-upgrade wordpress ke premium. Langkah ini bukan tanpa alasan, tapi didominasi motif komersial. Kalau boleh diuraikan, berikut ini alasan-alasan mengapa harus upgrade wordpress versi gratisan ke paket premium:

  1. Alasan Komersial

Mengapa harus upgrade ke premium? Sebab saya ingin menguji seberapa berharga karya-karya yang dipamerkan di sini. Harga yang saya maksud sudah masuk ranah kuantitas, ada nominalnya, ada uangnya. Yap, motif untuk memonetisasi blog merupakan alasan utama saya membeli paket premium wordpress.

Kalau sudah beli paket premium, kamu jadi punya domain sendiri, bisa lebih leluasa mengatur tampilan, tema dan kustomisasi blog yang lainnya. Ini penting untuk kenyamanan warganet, sehingga kemudian mereka tak risih untuk berkunjung. Saya pun jadi lebih leluasa untuk berinteraksi dengan mereka.

Dengan mengambil paket premium, kita juga jadi punya kuasa untuk mengendalikan iklan dan memasang iklan komersial. Nantinya, dari sanalah pundi-pundi rupiah akan terkumpul. Kasarnya, premium adalah langkah pertama untuk “jualan” di sini. It’s all about money.

Meski sejujurnya saya masih sangat awam masalah monetisasi blog, saya tetap nekad untuk membeli paket premium duluan. Saya pikir, kalau tidak dimulai dari sekarang, saya tidak akan pernah serius belajar mengelola blog secara profesional. Alhasil beginilah jadinya. Saya belanja premium, lantas melanjutkan perjuangan dalam berdisiplin menulis dan menyuguhkan konten yang baik untuk saya sendiri, juga untuk kalian semua.

  1. Mendukung Idealisme

Zaman sekarang, apakah idealisme masih bisa diandalkan untuk bertahan hidup? Entahlah, tapi saya masih percaya bahwa berdisiplin menulis akan membuat saya tetap waras tinggal di bumi. Saya ingin tetap menulis, menghasilkan uang pula.

Dari kecil saya sudah yakin dan diyakinkan agar bisa bahagia dengan menulis. Keyakinan itu sampai saat ini saya pegang, saya ingin itu tidak terlepas begitu saja. Salah satu cara berbahagia dengan menulis adalah produktif dan dapat bonus uang pula.

Apa kaitannya upgrade wordpress ke premium dengan idealisme?

Seperti diketahui, membeli harus pakai uang. Paket premium harganya 8 dolar per-bulan alias 96 dolar per tahun. Jika dirupiahkan, ditambah jasa pembayaran wordpress karena tidak punya kartu kredit, saya mengeluarkan dana tabungan Rp 1.498.140,-. Uang sejumlah ini tidak kecil buat saya, dan saya harap uang tersebut tidak pergi secara cuma-cuma.

Maksudnya, uang tersebut harus jadi investasi di mana saya jadi punya modal untuk “berusaha” berkarya secara profesional di sini. Langkah ini buat saya berisiko, sebab saya masih blur tentang tata cara nge-blog yang baik dan benar, belum terampil pula dalam urusan koding dan mengelola jaringan pembaca. Tapi tak ada salahnya untuk memulai. Tapi tak ada salahnya menjalankan learning by doing, atau kalau istilah kitab Ta’limul Muta’alim, ini disebut ilmu hal, koreh-koreh cok. Semacam itulah.

Cari tahu solusi upgrade wordpress ke paket premium, tapi tidak punya kartu kredit. Baca artikelnya di sini.

  1. Jadi Member Plukme!

Ini mungkin sekaligus jadi klarifikasi, mengapa sebulan ke belakang saya seperti membiarkan ceritapengelana sehingga kemarin-kemarin tidak pernah posting apa-apa di sini. Ini disebabkan saya bergabung di Plukme! untuk terapi mendisiplinkan diri dalam kegiatan menulis, menantang diri memproduksi tulisan setiap hari, dan dapat bonus pluk pula. Untuk review Plukme!, silakan baca tulisannya di sini.

***

Demikianlah tiga alasan mengapa kamu, khususnya para pengguna wordpress versi gratisan, untuk meng-upgradenya ke versi premium. Mungkin kalau baru gabung dan masih minim konten, sebaiknya merintis dulu pakai yang gratisan. Tapi kalau kontennya sudah lumayan banyak serta ramai pengunjung, sebaiknya beralih ke wordpress versi premium agar kamu bisa leluasa mengelola blogmu secara profesional.

Sekian…

Sumber Gambar dari Sini

 

Satu respons untuk “Mengapa Harus Upgrade Wordpress ke Premium? (Sharing Kisah Saya Bersama Wordpress)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s