Sejatinya, Disiplin Menulis Adalah Upaya Membaguskan Diri

Idealnya kita sebagai manusia bisa menyempatkan diri untuk memproduksi tulisan setiap hari. Disiplin menulis tidak mementingkan kuantitas, tapi kualitas dan keberlanjutan aktivitas tersebut di setiap hari. Tapi apakah penting bagi semua orang untuk berdisiplin menulis?

ball-1845546_1920Berdisiplin sampai saat ini masih dipandang sebagai perilaku yang ideal. Sebab ideal, ia akan bisa dikuasai dengan segenap perjuangan yang tidak sebentar, serta tantangan yang terus-terusan datang. Karena dihasilkan dari hasil perjuangan, disiplin akan berbuah manis. Di mana kamu nantinya akan punya kemampuan untuk menata diri, waktu dan masa depanmu. Kamu juga berpeluang punya kualitas yang berharga lantas bisa diapresiasi secara luas oleh publik.

Disiplin pada aktivitas tertentu idealnya diterapkan sepanjang waktu, dilakukan di waktu tertentu, tapi berlangsung terus-menerus. Termasuk dalam kegiatan menulis, di mana kita membiasakan diri menuangkan gagasan dan pikiran kita ke dalam bentuk tulisan (Artikel, Cerpen, Novel, Puisi dan karya sastra lainnya).

Idealnya kita sebagai manusia bisa menyempatkan diri untuk memproduksi tulisan setiap hari. Disiplin menulis tidak mementingkan kuantitas, tapi kualitas dan keberlanjutan aktivitas tersebut di setiap hari. Tapi apakah penting bagi semua orang untuk berdisiplin menulis? Apakah kita benar-benar harus berdisiplin menulis?

Jika kamu adalah seorang penulis artikel yang dibayar, atau seorang jurnalis dan editor, mungkin alasanmu setiap hari menulis adalah karena tuntutan kerja. Kegiatanmu menulis pasti akan dipandang wajar dan penting, karena tujuan akhirnya adalah perolehan gaji yang jelas di akhir bulan.

Tapi bagaimana jika kamu adalah seorang pelajar, mahasiswa, atau pengangguran yang tidak punya penghasilan tetap? Haruskah kamu tetap berdisiplin menulis meski tidak jelas manfaatnya dari segi materi dan keuangan? Haruskah kamu tetap menulis meski cibiran datang dari orang-orang sekitar karena kamu dipandang berperilaku tidak keruan sebab hanya duduk di depan komputer atau laptop sambil mengetik seharian?

Beginilah realita hidup di tengah-tengah masyarakat yang pragmatis. Rasanya gampang-gampang susah. Di satu sisi, kita sejak kecil telah diajari bagaimana dengan cepat mendeteksi hal-hal yang dianggap penting dan tidak penting, serta memilih mana yang menguntungkan dan meninggalkan yang tidak menghasilkan uang. Kalau dengan menulis bisa ada uang, teruskanlah. Kalau tidak, buat apa menulis?

Di sisi lain, pola pikir serbapragmatis membuat kita kesulitan mengapresiasi proses kerja, karena melulu berorientasi hasil. Padahal proses yang baik—meski melelahkan—untuk tujuan yang baik akan sangat berdampak baik bagi kesehatan jiwa dan raga manusia.

Lantas bagaimana dengan kegiatan menulis? Adakah berdisiplin menulis merupakan kegiatan yang baik dan akan menghasilkan keberuntungan?

Bagi mereka yang bekerja untuk perusahaan media atau penerbitan (sebagai wartawan, editor) mungkin keuntungan dari menulis bisa terasa, di mana kita diberi gaji setiap bulannya dari kegiatan menulis. Blogger profesional pun pasti mendapatkan manfaat berupa uang dari hasil kegiatan menulis yang dia lakukan. Belum lagi para penulis yang menang lomba, atau punya naskah yang diterbitkan, mereka sudah bisa melihat keuntungan material dari menulis secara terang benderang.

Lantas apa kabarnya saya, penulis amatiran yang masih dalam tahap menulis untuk buku harian yang usang, blog pribadi yang sepi, atau tulisan-tulisan yang bertumpuk di file word komputer. Tulisan-tulisan tersebut seperti tak ada harganya, minim pembaca, dan belum teruji kemanfaatan serta baik buruknya.

Jika diukur dari pertimbangan untung dan rugi, buat apa saya melanjutkan menulis dengan gaya seperti itu? Lebih baik berhenti saja! Mengapa harus buang-buang waktu memelototi layar komputer atau lembaran kertas kosong untuk menuangkan gagasan pikiran atau konsep khayalan yang pada mulanya abstrak di pikiran?

Nyatanya, saya menolak untuk memandang kegiatan menulis secara pragmatis. Kegiatan menulis tidak melulu bisa dipandang dari sudut pandang yang tersebut di atas. Apalagi jika pelakunya merasa menemukan kebahagiaan dari menulis. Istilahnya adalah passion, di mana seorang individu punya ketertarikan yang berlebih di dunia kepenulisan.

Faktanya, para penulis yang ingin sehat selalu termotivasi untuk disiplin menulis bukan melulu karena pertimbangan untung dan rugi. Kegiatan menulis lebih dianggap sebagai sebuah kebutuhan, rutinitas yang mesti dijalankan sebagai bentuk pegeluaran dari informasi dan pengalaman apa saja yang telah diserap.

Ibaratnya, kalau disiplin membaca, menonton, mendengarkan, merasakan dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengalaman panca indra adalah “makan”, maka menulis arau berkarya kreatif apa saja adalah “buang air”-nya. Kegiatan itu harus rutin dijalankan demi kesehatan jiwa dan raga. Jika hanya makan, tapi tidak buang air, pasti ada perasaan yang tidak nyaman, bahkan menimbulkan penyakit.

Tapi tentu saja bukan maksud saya untuk menyamakan kegiatan menulis seperti buang air. Hanya saja, ini semacam output yang berharga dari apa saja yang kita serap. Output itu akan jadi bahan kontemplasi yang menyenangkan untuk diri kita sendiri, terdokumentasi, bahkan berpeluang jadi sarana berbagi wawasan dan inspirasi dengan manusia lain.

Sumber gambar dari: https://pixabay.com/id/bola-pantai-bahagia-ocean-1845546/

Satu respons untuk “Sejatinya, Disiplin Menulis Adalah Upaya Membaguskan Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s