Menyimak Takdir Superhero Jang Geum (Review Film Seri Korea Jewel in The Palace)

janggeum

sumber gambar dari sini

Sebab takdir itu dirahasiakan, kita tidak pernah tahu pasti akan mengalami apa saja ketika menempuh kehidupan dunia. Itulah mengapa, Tuhan memerintahkan kita untuk selalu berusaha untuk pencapaian hidup yang terbaik di tengah segala cobaan dan rintangan yang menerpa. Karenanya pula, kita juga jadi harus memilih untuk selalu berprasangka baik terhadap jalan hidup ketika sedang terasa sulit bahkan perih.

Jang Geum tak tahu takdirnya sebagai “Wanita Ketiga” yang akan menjadi penyebab kematian ayah kandungnya, tapi akan menyelamatkan banyak nyawa di kemudian hari. Jauh sebelum kelahirannya, tanpa diketahuinya, Jang Geum ditakdirkan menjadi Superhero alias pahlawan super, tapi juga harus terlebih dahulu melewati perjuangan hidup yang melelahkan dan tidak jarang tragis.

Siapakah Jang Geum? Anak-anak Indonesia generasi 90-an atau lebih kemungkinan besar sangat tahu dengan sosok ini. Jang Geum pertama kali diperkenalkan dalam film seri Korea berjudul Jewel in The Palace pada 2003, dan ditayangkan di Indonesia sekitar 2006. Keberadaan film seri ini makin mengukuhkan gelombang Hallyu alias demam Korea yang pelan-pelan menjangkiti dunia dengan ragam karya seninya.

Jang Geum diceritakan sebagai wanita yang nyaris sempurna: cantik, berbakat, tekun, punya daya juang tinggi sehingga bisa melewati ragam rintangan yang melelahkan dengan mulus. Dengan perilaku tersebut, pemirsa pun bisa setuju bahwa sosok ini sangat layak untuk menerima takdir sebagai superhero sehingga berpeluang menyelamatkan banyak nyawa.

Penulis Skenario yang Gemilang

Kisah Dae Jang Geum alias Jang Geum yang Agung kabarnya terinspirasi dari kisah nyata. Dalam Babad Joseon diceritakan tentang Jang Geum yang mencatat sejarah dengan menjadi Dokter Wanita Pertama di Korea. Pencapaian tersebut kala itu sungguh istimewa di tengah dominasi kaum laki-laki yang sangat besar, pun, wanita diberi peluang terbatas dalam melakukan praktik kedokteran.

Meski begitu, data-data sejarah tentang keberadaan sosok Jang Geum jauh dari akurat, bahkan sangat minim. Muncul pula perdebatan tentang sebutan Jang Geum yang rupanya tak mewakili sosok, tapi adalah sebutan atau julukan belaka. Ada pula yang mengatakan bahwa jang Geum bukanlah tidak pernah menjadi dayang istana karena tidak ada keterangan jelas soal itu.

Maka berdasarkan catatan sejarah yang minim tersebut, sudah selayaknya kita angkat topi dengan penulis skenarionya Kim Young-hyun (lahir pada 1966). Kim berhasil mengemas kisah Jang Geum sehingga memesona, bahkan menyabet beragam penghargaan. Improvisasi yang entah ia dapatkan dari mana, tapi alur ceritanya nyaris tanpa cacat, bahkan melekat di benak mayoritas pemirsa. Kisah Jang Geum makin sempurna karena diceritakan secara visual, diperankan oleh aktris keren Lee Young Ae.

Dalam naskah improvisasi Kim Young-hyun, cerita Jang Geum berlatar di masa pemerintahan Raja Seongjong, Raja Yeonsan-gun (1494-1506) dan Raja Jungjong (1506-1544). Kisah diawali dengan peristiwa ibu putera mahkota Yeonsan-gun yang diracuni oleh para pengawal istana atas perintah raja pada masa itu.

Bakal Ayah Jang Geum merupakan tokoh yang terlibat dalam pembunuhan tersebut karena ia hanya menjalankan tugas. Tapi takdirnya dianggap malang karena ia harus bertemu dengan tiga wanita yang memengaruhi hidupnya. Wanita pertama adalah ibu suri yang mati disebabkan olehnya, tapi ia tak akan mati akibat keterlibatan kematian tersebut.

Wanita kedua adalah istrinya, yakni dayang istana yang hampir dibunuh karena fitnah. Ayah Jang Geum mencoba menyelamatkannya, tapi wanita kedua akan mati karenanya. Takdirnya akan berakhir di tangan wanita ketiga yang merupakan anaknya. Wanita ketiga akan menjadi penyebab kematiannya, tapi wanita tersebut akan menyelamatkan banyak nyawa.

***

Di libur ramadhan kali ini, saya betah untuk kembali menonton ulang film seri Jang Geum yang berjumlah 54 episode. Tidak ada alasan spesifik, hanya ingin bernostalgia sekaligus menyenangkan diri sendiri, syukur-syukur bisa dapat inspirasi. Buktinya, saya jadi tergerak untuk menuliskan reviewnya di sini, setelah lima belas tahun kemudian.

Saya merekomendasikan kalian untuk menonton ulang film seri ini (bagi yang sudah nonton di masa lalu), atau menontonnya secara online bagi Kids Jaman Now yang belum pernah menontonnya. Ingat! tontonlah film seri favorit kalian di waktu yang senggang, dalam keadaan santai, contohnya ketika momen liburan atau weekend tiba. Sangat diharamkan bagi orang-orang sibuk untuk menontonnya, karena bisa jadi kalian membuat tanggung jawab kerja menjadi terbengkalai.

Menonton film seri Jewel in The Palace dijamin tidak akan rugi. Syaratnya, kalian harus pandai dalam manajemen waktu. Seperti kita ketahui dan berdasarkan pengalaman pribadi, menonton film seri korea bisa berpotensi kehilangan waktu dan kehidupan sosial karena hanya duduk berhari-hari di depan layar komputer. Jangan terbawa hawa nafsu penasaran untuk menamatkan film seri korea dalam satu malam, atau nanti kalian menyesal dan harus dirukiah. Hahaha.

Alur Cerita yang Kompleks tapi Betah

Alur maju yang apik mula-mula mengisahkan asal muasal kelahiran Jang Geum dan masa kecilnya yang tragis. Sebab kedua orangtuanya yang “bermasalah”, Jang Geum hidup dalam pelarian dan kesederhanaan. Namun kecerdasan ibu dan bapaknya dalam mendidik membuat Jang Geum tumbuh pintar, pemberani dan punya rasa penasaran yang tinggi, tapi juga ceroboh. Kecerobohannya bahkan membuat kedua orang tuanya terbunuh.

Dalam situasi yang sedih dan sebatang kara, ibunya berwasiat agar ia terus berjuang dan melanjutkan hidup, meski sedih dan sebatang kara. Jang Geum juga dapat permintaan untuk menjadi dayang tertinggi dapur kerajaan, posisi yang cukup terhormat karena berkesempatan menyuguhkan hidangan terbaik untuk raja, keluarga raja dan seluruh rakyat korea.

Jang Geum pun mulai menjejakkan langkah pertama. Dengan bantuan dari seorang tukang masak istana, ia punya akses untuk mengikuti seleksi masuk sebagai calon dayang istana kerajaan. Proses demi proses ia lalui dan pemirsa akan dibuat selalu terkesima dengan kecerdasan dan ketekunan yang ia pertontonkan.

Di bawah pengasuhan dan pendidikan Dayang Han yang “nyeleneh”, bakat Jang Geum semakin terasah bahkan mengungguli kemampuan teman-teman sesama dayang lainnya. Pemirsa juga akan dibuat lega sekaligus gemas, sebab sudah mengetahui lebih dahulu tentang jati diri Dayang Han yang merupakan sahabat dan salah satu penyelamat ibu Jang Geum di masa lalu. Para pelaku mengetahui fakta tersebut di kemudian hari.

Persahabatan, Kompetisi dan Intrik Kekuasaan

Jang Geum punya teman, sekaligus juga kompetitor. Namanya Choi Geum Yong, seorang dayang yang dipersiapkan oleh keluarga Choi untuk meneruskan kekuasaan di dapur istana dalam posisi sebagai dayang tertinggi dapur.

Di sini kemudian pemirsa akan menyadari, jalan Jang Geum untuk merealisasikan wasiat ibunya menjadi makin berat, sebab bukan hanya bakat dan kemampuan memasak yang harus ia miliki, tapi juga harus melawan rezim Choi yang seringkali licik dan jahat untuk mempertahankan posisi tersebut.

Karenanya, ada waktu yang panjang, diiringi tangis, amarah, perjuangan dan darah yang tumpah dalam mencapai posisi tersebut. Tapi di sela-sela perjuangan itu, ada tawa, humor serta kisa cinta yang membuat perasaan pemirsa bergejolak.

Pemirsa pada akhirnya tahu bahwa Jang Geum akan berhasil mewujudkan keinginan sang Ibu menjadi dayang tertinggi dapur kerajaan. Tapi pemirsa bahkan tidak terlalu peduli tentang hasil, sebab proses pencapaiannya lebih berkesan dan patut dikenang.

Sebagai contoh, Jang Geum pernah hampir dipecat dari Istana dan dipindahkan ke kebun istana, tempat orang-orang istana yang terbuang. Setelah kembali, ia harus menghadapi kompetisi dan mendapat pelajaran tentang bagaimana berendah hati.

Kasus Bebek Sulfur kemudian membuat jang Geum dan Dayang han dipenjara, lantas dibuang ke Pulau Jeju sebagai budak. Ia difitnah membahayakan nyawa raja dan mendapatkan hukuman berat Jang Geum juga harus kehilangan Dayang Han yang mati secara tragis di perjalanan menuju Pulau Jeju.

Kembali Sebagai Perawat

Di Jeju, ia menyimpan amarah dan dendam, sembari belajar ilmu pengobatan. Hampir putus asa, ia mendapat banyak dukungan dari seorang pejabat tinggi militer Min Jung Ho. Untuk sosok yang satu ini akan saya ceritakan kemudian.

Kecerdasan dan ketekunannya membuat ia kembali ke Istana, menjadi seorang perawat yang telaten dan mengobati sepenuh hati, sembari meredam rasa dendam agar tak menodai kesucian prodesinya. Setelah masa-masa itu terlewati, ia dapat kesempatan mengobati banyak orang miskin, bahkan berkesempatan mengobati sejumlah keluarga raja dengan beberapa aksi nekat dan dinilai tidak sopan.

Diceritakan, kembalinya Jang Geum ke Istana membangkitkan rasa cemas di keluarga Choi. Jang Geum terus-menerus mendapat terror dan fitnah, tapi ia terus maju dan makin cerdik melakukan perlawanan dengan dukungan dari Permaisuri bahkan Raja.

Hingga pada akhinya Jang Geum dapat menghukum orang-orang yang telah berbuat jahat pada kerajaan dan keluarganya, pun dapat mengembalikan nama baik orang-orang yang disayanginya. Atas pencapaiannya di bidang pengobatan, Jang Geum bahkan mendapatkan kehormatan dari Raja berupa gelar tabib agung dan posisi sebagaimana disebutkan dalam Babad Joseon.

Kisah Cinta

Ini merupakan bagian yang mesti ada dan menjadi daya tarik paling ampuh dalam setiap lakon cerita. Di tengah kepayahan dan ketragisan hidup yang ia tempuh, ia mendapatkan simpati dari Min Jung Ho, seorang pejabat militer jujur yang pernah ia tolong dari kematian di masa lalu, tanpa pamrih.

Yang melegakan, interaksi di antara mereka sungguh santun dan berjarak, tapi tetap romantis dan indah. Sebab mengekspresikan cinta tidak mesti melulu norak seperti yang dicontohkan film-film holywood.

Interaksi Jang Geum dan Min Jung Ho juga sanggup membuat Choi Geum Yong dan siapapun cemburu. Min Jung Ho hampir selalu di segala kondisi Jang Geum yang beragam, di sedih dan senangnya. Ia juga tidak merebut independensi Jang Geum dalam mengoptimalkan potensinya, bahkan mendukung segala apa yang dipilih Jang Geum meski harus kehilangan karier, jabatan, bahkan mempertaruhkan nyawa. Benar-benar lelaki idaman yang kemungkinan tidak ada di kehidupan nyata.

Sebaliknya, sosok Min Jung Ho mesti juga membuat iri, sebab di antara sekian banyak lelaki, termasuk Raja, ia yang dipilih jang Geum untuk dicintai. Di akhir cerita mereka bisa hidup bersama, memiliki putri yang cantik, dan bisa leluasa menerapkan ilmu pengobatan untuk masyarakat, serta mengajari baca tulis untuk anak-anak miskin.

***

Takdir Jang Geum sebagai Superhero telah terlaksana. Ia tidak punya kemampuan untuk berubah dengan kostum ketat dan topeng, tapi ia menjadi manusia super karena menyelamatkan banyak nyawa manusia dengan ilmu pengobatan yang dikantonginya. Jang Geum juga sesosok manusia super sebab mampu melewatisegala cobaan hidup dan terlindung dari sikap putus asa. Ke-superhero-an nya makin tegas dengan keabadian namanya. Terlepas dari perdebatan fiksi atau fakta, Jang Geum yang hidup di masa lalu, masih disebut-sebut hingga kini dengan kisahnya yang menginspirasi.

Lantas bagaimana kita sebagai pemirsa? Selain sebagai pemirsa, kita juga adalah pelaku. Punya takdir yang telah digariskan, tapi kita pun tak pernah tahu takdir macam apa yang telah ditetapkan. Tuhan hanya menyuruh kita berjuang dan berprasangka baik pada-Nya, sebab ia selalu menetapkan takdir baik yang tidak selalu harus dimengerti oleh manusia.

Jika terkesima dengan takdir superhero yang telah ditetapkan untuk Jang Geum, kita semua bisa menindaklanjutinya dengan bercermin diri. Takdir tersebut mustahil terealisasi jika Jang Geum seorang pemurung yang mudah putus asa. Ia tidak ujug-ujug menjadi Superhero, tapi perlu ditempa oleh ujian hidup yang bertubi-tubi.

Teorinya, jalan hidup setiap manusia adalah istimewa. Maka, lakukanlah yang terbaik di hari ini, jangan bermalas-malasan, sedih berkepanjangan, merendahkan diri sendiri atau berbuat jahat pada orang lain. Dengan begitu, kamu berpeluang tersenyum bahagia di hari kemudian. Sekali lagi, ini hanya teori, dan lebih mudah membicarakan teori ketimbang mengaplikasikannya secara istikomah.

Di penghujung Ramadhan pada 13062018

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s