Bala-Bala Kumala

Butuh semangkuk tenaga serta sekarung rasa tega untuk mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Lantas adonan itu akan diaduk pakai sebaskom air mata. Menjelma bala-bala yang minta dikunyah dan ditelan, meski rasanya tak bisa dideskripsikan.

***
“Jadi, nia baiknya bertahan atau berhenti dari situ, Ma?”
Lantas dijawab, “Sebelum nanti tambah sayang sama anak-anak di sana, nanti malah makin susah ngelepasinnya. Emak ga mau khawatir terus nia di jalannya,” kata beliau sambil beranjak pergi.

Kata-kata beliau beberapa hari lalu terekam dan terus terngiang di telinga. Percakapan itu muncul setelah obrolan yang panjang di mana saya kala itu terus merangkai cerita tentang semangat perjuangan dan keyakinan diri bahwa saya sanggup bertahan atas apa yang setahun lalu saya pilih.

Ibu saya bukanlah tipe orang tua yg senang mengatur anaknya secara otoriter. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, dia selalu menyerahkan segala keputusan pada anak-anaknya, lantas mendukung apapun konsekuensinya. Tapi kali ini berbeda. Ia sepertinya sudah meminta saya untuk berhenti dan mengucapkan selamat tinggal pada mereka.

Tuhan, mana berani saya membuat beliau khawatir? Kali ini saya tak boleh egois. Saya ingin menuruti keinginannya, dan mengabaikan perasaan saya. Semoga di balik kejadian ini, ada hikmah yang bisa dipetik dari siapapun yang terlibat di dalamnya.

Siapa mereka? Ialah bocah-bocah yang membuat saya bisa mendadak jatuh cinta tanpa alasan. Kepada mereka pula, saya harus berani mengucapkan selamat tinggal tanpa perlu menyampaikan pidato perpisahan.

***
Jika seberat ini, seharusnya saya tidak memulai interaksi dengan mereka sejak awal. Seharusnya saya juga tidak pernah mengucapkan salam perkenalan. Mungkin hanya saya sendiri yang merasa berat, padahal mereka biasa-biasa saja. Jadi seharusnya saya bersikap biasa-biasa pula, mengikhlaskan perpisahan itu, mendoakan yang terbaik buat mereka, lalu mulai membuka lembaran baru.

Sebab jika dibandingkan dengan yang lainnya, keberadaan saya buat mereka mungkin hanya menghadirkan secuil manfaat. Selebihnya, mungkin sayalah yang terlalu memaksakan dan menyulitkan diri sendiri. Dari segi logika, kebanyakan orang geleng-geleng kepala. Orang tua diteror khawatir. Maka semoga dengan mundurnya saya, akan segera muncul pengganti yang jauh lebih baik.

Pertanyaannya, mengapa saya selalu membawa-bawa perasaan yang berlebihan buat mereka? Sepertinya ini karena sesuatu bernama cinta.

***

Genap setahun kebersamaan dengan mereka, dipotong hari libur, sakit dan izin hingga sekitar dua bulan, tetaplah bukan waktu yang singkat. Meski momen kebersamaan yang terlewati dalam sehari hanya beberapa jam saja, tapi banyak kebahagiaan yang hadir ketika interaksi itu berlangsung.

Sebenarnya tak melulu bahagia. Ada ragam perasaan lainnya semisal bangga, terpana, haru serta jenaka. Di sela-sela perasaan membahagiakan itu, tidak dipungkiri ada rasa jengkel, kecewa, atau bahkan amarah yang terselip sehingga membuat mereka sedih. Karenanya, mungkin di balik keramahan dan sikap hormat mereka, ada rasa jengah dan jengkel akibat kelakuan dan kekhilafan saya itu. Sungguh saya minta maaf, nak-anak.

Tapi mustahil mengulang masa lalu. Saat ini hanya berdoa banyak-banyak, semoga mereka tumbuh menjadi orang-orang keren yang nantinya jadi yang terdepan dalam agenda mendamaikan serta mengindahkan dunia.

Waktu akan terus berlalu. Kehidupan terus berjalan tanpa bisa dicegah. Mereka akan terus melanjutkan pendidikan, meningkatkan kualitas diri dan senantiasa belajar dari orang-orang di sekitarnya. Tak perlu khawatir, sebab mereka berada di bawah pengawasan dan pendidikan para ustad terbaik.

Jadi seharusnya tidak perlu berlebihan. Perasaan sedih ini pasti akan segera terobati keesokan harinya. Tapi biarlah saya menuliskannya di sini. Sebagai penanda, bahwa saya pernah bahagia berinteraksi dengan bocah-bocah keren seperti mereka.

Akhir kata, mari buka puasa makan bala-bala. 🙂

01062018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s