Lentera Menjelma Buih (Cerpen)

Lentera, pertemuan ini bagiku adalah realisasi pengharapan sekaligus kejutan yang menyenangkan. Tanpa direncanakan, seperti déjà vu, kita bisa kembali bertatapan di tempat dan situasi yang nyaris serupa. Kamu pasti masih ingat momen pertemuan terakhir kali kita sepuluh tahun yang lalu. Kala itu aku berdiri di peron 2 Stasiun Kereta Pasar Minggu, sementara kamu berdiri di seberang, peron 3, sambil tersenyum manis.

Kala itu, setengah jam aku menunggu sehingga kereta yang membawamu datang. Aku tak melihatmu turun, tapi pastinya kakimu telah berpijak dengan selamat di peron 3 bersama kerumunan penumpang lainnya. Setelah semua penumpang turun, kereta yang panjang dan berisik itu berlalu menuju stasiun berikutnya. Segera aku mendapatimu berdiri di seberang, tersenyum.

Wajahmu bersinar seperti namamu.
Lihatlah bagaimana takdir mempertemukan kita lagi. Kamu muncul lagi di situ, menggelitik hatiku. Sepuluh tahun berlalu, aku tak lagi mendapati sinar di wajahmu. Meski begitu, kamu tampaknya belum menua, bahkan sekarang sudah semakin pintar berpenampilan. Sepertinya waktu banyak mengajarimu bagaimana agar bisa pantas bergaul dengan orang-orang kebanyakan.
Ini bukan jam berangkat atau pulang kerja, makanya stasiun tak terlalu ramai. Suasana peron lengang, kecuali jika ada kereta yang lewat, atau petugas mengumumkan jadwal kereta, atau posisi kereta terdekat. Selebihnya ada papan iklan shampo dan minuman dingin yang terpajang besar dan gagah di sejumlah sudut.
Iklan-iklan itu diterangi sinar neon, tampak semarak tapi bisu. Kehadiran mereka menggantikan keberadaan pedagang kaki lima yang dulu sempat mewarnai stasiun dengan image ketidakteraturan. Demi alasan aturan dan ketertiban, kelompok pedagang kecil itu diusir. Pemerintah dan penumpang menyetujuinya bahkan merasa lebih nyaman.
Tak terlalu sulit menyadari keberadaanmu. Setiap kali pulang kerja sejak sepuluh tahun yang lalu, aku selalu berdiam di Peron 2 hingga pukul sembilan malam, menatap ke seberang. Sejak pertemuan terakhir itu, aku selalu berharap akan bisa kembali lagi bertemu denganmu, menjemputmu pulang. Dalam pengharapan dan doa di setiap malam, aku telah merancang agenda perjuangan hidup bersamamu, Lentera. Terserah kamu mau menafsirkannya seperti apa.
Sabar katanya tak ada batasnya. Tapi sepertinya Tuhan iba dengan pengharapanku yang tak pernah padam untuk bertemu denganmu di sini. Ia lantas menyuruhku berhenti sabar, kemudian mewujudkan permintaan itu, dengan menghadirkan kembali dirimu di sini. Aku tak peduli bagaimana caranya sehingga kamu bisa muncul di hadapanku lagi. Yang aku tahu, doaku dikabulkan Tuhan, dan jalan kebahagiaan untuk kita sudah di ambang mata.
Segera aku melambaikan tangan dan memanggilmu dari seberang. Segera, kamu menyadari kehadiranku dan membalas lambaian tangan itu. Anehnya, tak seperti sepuluh tahun yang lalu, kamu tak segera menyeberang apalagi menghampiriku dengan wajah yang bersinar. Kakimu seperti dipaku. Badanmu beku. Lambaian tanganmu pun kaku.

***
Apakah artinya kehadiranku bagimu, Lentera? Tanpa ditanya, suatu hari di masa lalu kamu menyatakan cinta padaku. Kamu bilang bahwa aku adalah orang yang spesial sehingga kamu menginginkan hubungan yang lebih dari sekadar teman.
Kamu dengan lancang menyatakan cinta, padahal aku telah menegaskan sejak awal bahwa hubungan di antara kita adalah sebatas teman baik belaka. Tidak kurang apalagi lebih. Aku selalu baik kepada siapa pun yang mendatangiku, termasuk padamu. Aku tak pernah menawarkan kebaikan, tapi jika ada yang datang minta bantuan, pasti kutolong habis-habisan.

Di luar kendaliku, sikapku terhadapmu dianggap spesial, dan membuat hatimu tersipu. Kamu cinta aku.
Merespons pernyataanmu yang tak terduga itu, aku hanya bisa terpaku. Kamu tak minta jawaban, tapi aku berinisiatif untuk melakukan penegasan.

“Carilah cahayamu sendiri!” kataku kemudian. Setelah itu dengan ringannya aku panjang lebar menceritakan kegalauan diri yang masih menyimpan perasaan pada perempuan lain.

Lentera, seharusnya kamu marah karena secara halus kuhempaskan rasa cinta itu. Jangan sedih pula, sebab tak akan kuberi tahu alasannya, mengapa aku bersikap begitu. Seharusnya kamu segera beranjak menjauhiku, tapi kamu memilih untuk menerimanya dengan tangis semalaman.

Lentera, setelah kejadian itu, seharusnya kamu juga berhenti untuk menyambut kedatanganku yang seenaknya datang dan pergi untuk meminta bantuan apa saja atas nama pertemanan. Tapi kamu memilih untuk selalu membantuku semampumu tanpa banyak cingcong. Kamu juga masih tersenyum ketika mengucapkan salam perpisahan, padahal kala itu aku kelihatannya sama sekali tak terlalu peduli akan kehadiranmu.

***
Lentera, lantas sepuluh tahun berlalu. Permintaanku untuk bertemu denganmu lagi telah dikabulkan. Selanjutnya, mari datang padaku, menyeberanglah ke peron di mana sekarang aku berdiri, agar kita bisa memulai perjuangan bersama-sama.

“Lentera, datanglah padaku! Raih tanganku!” kataku berteriak sebab bosan melihat dia terus melambaikan tangan dengan kaku.

Tak lama, petugas kereta mengumumkan kedatangan kereta dari arah Bogor. Beberapa saat kemudian, ular besi raksasa itu benar-benar datang dan berhenti menurunkan penumpang. Sejenak pandanganku ke Lentera terhalang. Tapi kuharap ia tak menghilang setelah kereta beranjak nanti.

Syukurlah, Lentera masih berada di sana, tapi kali ini air mata berlinang di pipinya.
“Apa yang terjadi, Lentera!” tanyaku lagi dari seberang sini. Berteriak.
“Segeralah datang padaku!” aku mengulangi permintaanku.
Aku ingin ia datang dan menyambut uluran tangan ini. Tapi ia sama sekali tak beranjak. Linangan air matanya bahkan semakin deras.
Dalam hati aku berjanji, jika ia menyeberang dan meraih tangan ini, ada kehidupan dan cerita pengalaman hidup yang ingin aku bagi untuknya. Ia pasti akan merasa bahagia dan bersyukur setelahnya.
Maka, Lentera, Melangkahlah! Bergegaslah! Buatlah momen langka ini menjadi sederhana, Lentera. Kamu hanya perlu menyeberang dan datang padaku. Sebab mesti kamu yang bisa merealisasikan rencana ini. Tidak wanita lain.
Tangis Lentera tak juga reda, tapi ia tak melakukan pergerakan apa-apa.
Mungkin aku harus sedikit lebih sabar. Mungkin ia butuh waktu untuk mencerna maksud dan tujuan dari ajakanku kali ini. Seharusnya pada akhirnya ia akan menyeberang dan meraihku, sebab ia cinta aku.

Tapi di luar dugaan, kejadian aneh muncul.

Di seberang sana, kulihat tangis Lentera reda. Tapi perlahan tubuhnya melayang. Dengan cepat, tubuh itu menjelma menjadi buih, melayang-layang dan berkulauan di udara, lalu lenyap. Lentera sekejap menjelma buih.
***
Suara petugas yang mengumumkan kedatangan kereta terdengar berisik. Kebisingan makin menjadi-jadi ketika kereta datang. Raungan suara mesinnya memekakkan telinga.

Mendadak gelap, lalu bising itu lenyap. Aku mendengarkan sesuatu berbisik dari dalam benak.

“Mengapa meminta Lentera mendatangimu, padahal kamu punya kekuatan untuk menyeberang dan menjangkaunya. Bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu kamu selalu punya kesempatan untuk menghampirinya kapan saja. Mengapa terlalu egois, adakah terlalu gengsi, kelewat tinggi hati, lantas membiarkan ia tenggelam dalam pengharapan semu atas kedatanganmu yang sesuka hati. Melulu, atas nama pertemanan. Pada akhirnya kamu berhasil membunuhnya pelan-pelan.”
TAMAT
23052018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s