Pembelajaran Marifatullah dari Ayah Hamka (Review Buku “Ayah, Biografi Buya Hamka” karya Irfan Hamka)

cover-buku-Ayah-Kisah-Buya-Hamka.jpg

sumber gambar dari sini

Keterangan Buku

Judul Buku: Ayah

Penulis: Irfan Hamka

Penerbit: Republika

Tahun Terbit: 2017 (Cetakan XIV)

Tebal: 323 halaman

Harga: Lupa

***

Kita tidak diberi pilihan untuk lahir dari jenis keluarga seperti apa, dari ayah dan ibu macam apa. Penerimaan terhadap apapun keadaan dari keluarga dan orang tua kandung kita adalah hal yang teramat penting dalam agenda menjaga kewarasan diri.

Tidak ada yang untung maupun rugi dari menjadi anak seorang ulama atau presiden, maupun menjadi anak seorang preman dan mucikari. Dari Rahim manapun ia lahir, setiap bayi adalah istimewa. Bayi-bayi tersebut memiliki hak untuk tumbuh dan berjuang melawan segala jenis penyakit hati, entah itu rendah diri maupun rasa ingin dipuji.

Adalah Irfan Hamka, seorang anak yang ditakdirkan menjadi anak kelima dari seorang ulama sholeh kebanggaan Indonesia bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka. Di usialnya yang memasuki usia 70 tahun, ia berbagi kisah tentang ayahandanya tercinta dalam bentuk buku bertajuk “Ayah” dari sudut pandang yang sangat eksklusif: cerita anak tentang ayahnya.

Bukan pilihannya menjadi seorang anak dari Hamka, tapi saya pikir keputusannya membuat buku tentang Hamka merupakan wujud rasa syukurnya sebab memiliki ayah seorang Hamka, sekaligus menunaikan kewajibannya terhadap semua orang yang mencintai dan merindukan sosok Hamka berikut karya-karyanya. Kepada bapak Irfan Hamka, terima kasih sudah sudi berbagi kisah yang sarat pelajaran ini.

***

Irfan Hamka memilih gaya random dalam bercerita tentang sosok Ayah Hamka. Dimulai dari cerita tentang seorang perempuan yang curhat kepada Buya Hamka tentang masalah rumah tangga. Kala itu si perempuan menyatakan keinginannya untuk minta cerai dari suaminya karena sang suami hendak menikah lagi. Hamka kala itu merespons dengan tenang dan super bijak, sama sekali tidak memihak salah satu pihak.

Kisah Irfan Hamka kemudian berlanjut kepada penggambaran sosok Hamka yang berwibawa dan memandang semua orang setara. Hamka tidak melihat apakah yang dihadapinya jagoan kampung ataupun kucing kecil yang kelaparan. Dalam menghadapi segala sesuatu, Hamka berlaku setara, bahkan kerap melakukan hal-hal yang mengundang tanya pada awalnya, tapi kemudian muncul jawaban berikut hikmah di kemudian hari.

Diceritakan, Hamka merupakan salah satu pejuang kemerdekaan yang turut mendukung tegaknya Indonesia sebagai negara merdeka. Meski tidak semua hal disetujuinya dalam pendirian negara (dalam perumusan pancasila, Hamka condong ke pernyataan bahwa dasar negara yang pertama adalah ketuhanan pada Allah Swt) tapi ia tetap menerima apa yang telah disepakati, dan bergerak bersama-sama sebagai petugas negara khususnya di bidang agama.

Ada juga cerita tentang bagaimana interaksi Hamka dengan jin penunggu rumah, Si Kuning kucing kesayangannya, kejadian maut di timur tengah, perlakuan Hamka terhadap istrinya serta momen-momen lainnya antara Irfan dan Ayahnya. Sebab saya tidak bermaksud merangkum buku, maka di sini akan saya ceritakan sekilasnya saja. Selebihnya silakan dibaca sendiri kisah-kisah Hamka dari kaca mata anaknya.

Dari buku yang mana Taufik Ismail memberikan kata pengantar di sini, banyak teladan yang dapat kita petik, utamanya dalam pelajaran marifatullah alias ilmu mengenal Allah. Sementara marifatullah hanya bisa dijangkau dengan hati yang senantiasa bersih, jauh dari penyakit hati.

Melihat sosoknya yang tampak sempura, Hamka tetap tak luput dari para pembenci. Entah mereka yang iri atau memang tidak senang tanpa alasan. Salah satu tokoh yang banyak disebut-sebut sempat memfitnah dan menunjukkan rasa beni yang besar pada Hamka ialah Pramoedya Ananta Toer dan Moh. Yamin.

Oleh Pramoedya, Hamka dituduh plagiat atas karya sastranya yang fenomenal bahkan dituduh melawan pemerintah sehingga harus dipenjara. Oleh Moh. Yamin, sempat ada perselisihan yang prinsipil ketika ada perumusan dasar negara, sehingga rasa benci Moh. Yamin terus terpelihara untuk Buya Hamka hingga waktu yang lama.

Namun pada akhirnya, Pramoedya justru mengirimkan calon menantunya muallaf untuk belajar agama pada Buya Hamka, sementara Moh. Yamin meminta Buya Hamka menuntunnya bersyahadat di ambang ajalnya. Buya Hamka yang terus memelihara hati yang lapang dan bebas dendam menerima permintaan dua tokoh nasional itu dengan tangan terbuka.

Di antara panjang lebar cerita Irfan tentang Hamka di buku ini, ada beberapa hal yang sangat melekat di otak saya. Di antaranya, Hamka yang tidak pernah lepas dari membaca Alquran, terutama jelang tidur, senantiasa berdzikir, menghormati pendapat istri, tegas, tidak gila jabatan serta penyayang dalam tindakan (bukan sekadar gombal di kata-kata).

Yang tak kalah menarik juga kisah Irfan Hamka tentang ibundanya yang juga tentu saja merupakan istri pertama Hamka. Sifatnya yang penyayang, setia dan sabar ketika Hamka di penjara terdengar keren. Merekalah pasangan ideal yang seharusnya menjadi contoh rumah tangga yang damai.

***

Tapi bukan hanya Pak Irfan, saya pun tak mau kalah eksis. Haha.. Mari sejenak menyimak kisah “interaksi” saya dengan Hamka berikut ini.

Saya pertama kali mengenal Hamka ketika masih SD. Bukan mengenal lewat sosoknya, karena Buya Hamka sudah meninggal pada Jumat, 24 Juli 1981 alias sepuluh tahun sebelum saya lahir kea lam dunia. Saya mengetahui beliau melalui salah satu buku usang milik ibu berjudul “Tafsir Al Azhar”. Buku itu terselip di antara buku yang tersusun di lemari. Ibu punya buku tersebut karena dia dulu pernah belajar tentang ilmu Alquran di salah satu Perguruan Tinggi ketika masih muda dulu.

Ketika itu, saya sama sekali tidak kenal, apa yang dimaksud dengan tafsir, belum tahu juga siapa itu Buya Hamka, penulis buku tersebut. Tapi dalam pemikiran saya kala itu, kesan betah dan damai ketika membaca sungguh terasa. Dalam tulisannya, Hamka jelas dalam menerangkan kandungan ayat Alquran, serta rangkaian kata-katanya membuat batin jadi nyaman.

Pembacaan tafsir berlanjut pada rasa penasaran terhadap sosok penulisnya. Pada awalnya saya bahkan berpikir kalau Hamka itu orang Arab, sebagaimana para mufasir kebanyakan. Tapi kemudian ibu saya menjelaskan, bahwa Hamka itu kepanjangan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, orang Indonesia, kelahiran 17 Februari 1908 di Sumatera Barat.

Pada tahun 90-an kala itu, akses internet masih belum semudah sekarang. Penjelasan ibu soal Hamka pun sangat terbatas, karena dia kala itu memang sangat jarang bicara. Alhasil, rasa ingin tahu saya terhadap Buya Hamka tidak ditindaklanjuti dengan pencarian lebih lanjut. Sejenak terhenti bahkan terlupakan hingga bertahun-tahun lamanya.

Tahun demi tahun berlalu. Sosok Hamka kembali saya temukan dalam karya film berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” yang rilis pada 2013. Film tersebut meledak dan mampu mencuri hari masyarakat banyak, termasuk saya. Rasa ingin tahu saya pun kembali muncul, tapi tetap tidak dibarengi tindak lanjut yang progresif.

Begitulah, sehingga kemudian pada 2018 saya menyengaja membeli buku-buku yang berkaitan dengan Hamka, termasuk buku Ayah karya Irfan Hamka ini. Mengenal sosok Hamka dari cerita anaknya membuat saya makin bangga. Hamka meski telah lama tutup usia, tapi ia tetap hidup abadi dalam bentuk karya-karya yang nyata.

Hamka tak pelit untuk berbagi segala hal yang berharga dari dirinya, sehingga sosoknya menjadi virus, tidak bisa padam dan menjangkiti bukan hanya anaknya saja, tapi juga semua orang yang mencintainya. Ini kami, orang-orang yang merasa tergugah hatinya untuk terus memelihara hati yang bebas penyakit hati, dendam dan takabbur demi menjangkau marifatullah.

Ahad, 20052018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s