Rumah Publik

IMG_20171212_135817

Sumur legendaris di samping rumah 😀

***

Bagaimanapun keadaannya, rumah bagi saya merupakan tempat pulang yang eksklusif sehingga jadi yang tempat paling dirindukan. Rumah ini sejatinya punya ibu saya, dibangun secara berangsur-angsur di atas tanah warisan kakek dan nenek, dan usianya sudah sekitar 16 tahun. Jadi sebenarnya status saya di rumah ini masih menumpang. Bersyukur jadi anaknya beliau sehingga saya bisa merasakan tinggal di rumah yang fenomenal ini.

Mengapa fenomenal, sebab segala cerita yang kompleks terhimpun di sini. Saya mau mulai dari awal sejarah pendiriannya. Tadinya ini adalah tanah warisan yang terbengkalai alias bekas kebun yang tak terurus. Mungkin saking banyaknya tanah Nenek, jadi tanah berukuran 8×7 meter ini kurang terurus. *belagu.

Keluarga ibu saya (di dalamnya tentu ada saya yang jadi anggota) pulang ke kampung halaman karena kehidupan di Jakarta rupanya cukup sulit. Kelas 6 SD saya turut serta digiring pindah rumah, pindah sekolah, memulai kehidupan baru di kampung ini. Rumah kami di Cibubur dijual, lantas uang hasil penjualannya dipakai untuk modal membangun rumah di sini, di Bandung.

Saya tidak tahu pasti nominalnya berapa, yang jelas, uang tersebut tidak cukup untuk membangun rumah hingga rampung. Ibu tidak mau melulu numpang di rumah nenek. Ketika dinding rumah sudah berdiri, kami segera pindah ke rumah baru yang kondisinya masih “rangkai”.

Sebutan rangkai itu maksudnya, rumah tersebut memang sudah punya dinding, tapi belum dipelur dengan semen apalagi cat. Hanya bata-bata merah yang terbangun membentuk ruangan demi ruangan, didukung dengan atap agar penghuninya terlindung dari terik dan hujan.

Selebihnya, ia masih rangkai karena jendelanya belum berkusen, pun lantainya masih berupa tanah yang dilapisi terpal. Jendela-jendela yang bolong seluruhnya ditutup dengan tripleks. Saluran air dan listrik masih belum terpasang sehingga untuk kegiatan penerangan kami memakai lilin, sedangkan penyediaan air, kami harus mengangkut air dari sumur di masjid terdekat.

Di malam pertama kami menginjakkan kaki di rumah ini, emak saya tampak tegar sehingga kami tidak merasa perlu mempermasalahkan apa-apa dari keadaan rumah yang sebenarnya masih belum layak huni. Ada ular yang menyapa kami, lalu ibu dengan berani menghalaunya, sembari terus mempersiapkan kasur untuk kami tidur malam itu.

Mengingat kejadian itu, saya suka ingin nangis sendiri. Bukan karena merasa melarat, tapi karena saya begitu bangga punya ibu macam dia.

Kejadian penampakan ular lantas jadi omongan para tetangga. Ada juga yang bilang kalau rumah ibu saya ada jin nya, serta penampakan ghaib lainnya. Desas-desus itu semakin berkembang pada wacana bahwa semua kejadian itu disebabkan kami yang tidak melakukana cara selametan untuk rumah baru.

Selametan, maksudnya kami membuat acara doa bersama mengundang tetangga, sembari makan-makan dan menyediakan suguhan. Jangankan untuk buat acara selametan, bapak ibu, untuk menyelesaikan pembangunan rumah saja kami tersendat. Ada untuk makan saja di keseharian kami sudah bersyukur.

Tidak ada selametan, tidak ada doa-doa undang tetangga. Doa yang kuat mungkin hanya dilantunkan oleh ibu saya seorang. Sehingga, saya dan anak-anaknya yang lain merasa nyaman-nyaman saja tinggal di sana. Bahkan kami sama sekali tidak pernah merasakan gangguan ghaib apa-apa.

Ajaibnya, berkat ibu pula, saya sama sekali tidak pernah merasa hidup berkekurangan, apalagi merasa miskin. Makan dengan nasi dicampur garam dan minyak saja rasanya sudah nikmat. Serius. Anak-anaknya sekolah dengan anteng, dan melanjutkan hidup dengan mendapatkan contoh berharga darinya, dan dari orang-orang sekitar.

Ibu menegakkan kepalanya untuk menopang ekonomi keluarga dengan berjualan apa saja. Dia memang pandai memasak, meski sifatnya sangat cuek, berantakan dan cenderung moody. Ibu menjual keripik singkong, keripik pisang dan apa saja agar jadi uang. Kami melewati semua itu dengan biasa-biasa saja.

Makanya kadang saya suka heran dengan sinetron-sinetron orang melarat di televisi. Mengapa mereka begitu bangga mengkomersilkan kemelaratan dan kemalangan hidup. Biasa saja lah, tidak usah lebay apalagi minta dikasihani orang. Meski keluarga besar mengelilinginya di kampung, ia sepertinya tidak hobi mengemis-ngemis dengan alasan pertalian darah dan perkawinan. Tabik buat beliau!

Itulah ibu saya, tak pernah saya melihat dia mengumbar kesedihan karena harus berjuang sendirian. Dia menjalani kehidupan tanpa banyak cingcong, karena pasti dia sudah sangat bergantung pada Tuhan semata.

Atas kondisi ekonomi keluarga di dalam rangkai kala itu, kami bahkan menertawakannya. Pernah suatu ketika salah satu sisi lantai yang berlapis terpal di rumah kami menonjol seperti gundukan bukit kecil. Selidik pubya selidik, ternyata di bawahnya ada pohon pisang yang ingin tumbuh. Kami pun ramai-ramai memukul-mukul lantainya agar segera rata lagi.

Tapi saat itu di pikiran saya justru inginnya pohon itu biar tumbuh saja. Kalau dia tumbuh dan berbuah, bukankah menyenangkan bisa memetik pisang dari dalam rumah. haha.  

***

Singkat cerita, ibu saya dipercaya menjadi bendahara sekolah. Keluarga besar kami ceritanya punya yayasan yang terdiri dari pondok pesantren, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah serta Raudhatul Athfal. Buat yang masih awam, Tsanawiyah itu setara SMP, Aliyah setara SMA dan Raudhatul Athfal itu setara TK.    

Dari sana ia mulai sibuk dan mulai dipercaya orang untuk mengelola keuangan yang lainnya. Misalnya, selain di sekolah dia juga dipercaya memegang keuangan masjid, arisan ibu-ibu, koperasi serta urusan yang lainnya. Tapi ia tetap “pelit” dalam urusan jajan dan makan. Makanya kami bukan penggemar kemewahan dan foya-foya. Untuk biaya kuliah saya saja, ia sudah tampak kerepotan. Untungnya ada beasiswa dari swasta, serta ada kerja sambilan yang saya tempuh kala itu agar tak melulu memberatkan beliau.  

***

Singkat cerita, ekonomi keluarga kami mulai bangkit. Secara berangsur-angsur emak saya menyelesaikan pembangunan rumah, dimulai dengan membuat kamar mandi permanen, memasang kusen dan jendela, membuat lantai dan banyak urusan lainnya. Saking berangsur-angsurnya, untuk pemasangan langit-langit atap bagian rumah serta teras baru dilakukan saat ini, loh.

Ibu juga membuat sumur di pinggir rumah. Ini sumur akan jadi legenda buat keturunannya nanti. Tidak ada peristiwa ajaib apa-apa, sih, tapi keberadaannya juga tidak luput dari kisah perjuangan dan kesabaran, sehingga hari ini penghuninya bias dapat air tanpa eprlu nimba dan mengangkut air lagi. Bahkan keberadaan sumur juga berguna untuk pengadaan air di rumah tangga tetangga.

Sabarnya beliau memang tiada duanya. Bahkan pemenuhan kebutuhan pendidikan untuk adik-adik saya, seperti pengadaan laptop dan uang jajan menjadi semakin mudah. Kerenlah dia itu.

Menjelma Kantor dan “Warnet”

Rumah emak sudah hampir sepenuhnya rampung dan pastinya dia sangat merasakan nikmatnya proses perampungan itu. Dia tak punya kemampuan seperti Sangkuriang yang bisa membuat Candi dalam semalam, tapi karena proses yang panjang itulah, dia berhasil membuat saya terkesima dengan segenap pembelajaran hidup yang terselenggara. Inilah sejarah saya yang berharga. Kamu pasti iri karena tidak dapat pelajaran yang keren semacam ini, kan? hehe.

Yang pasti, atas bantuan dari Allah, ibu mampu membangun tempat yang cukup bermanfaat di kampung ini. Mengapa, karena sudah belasan tahun rumah ini jadi tempat favorit berkumpulnya para guru dan siswa/santri. Ada seperangkat komputer dan printer yang mendukung kegiatan Tata Usaha sekolah berlangsung di sini.

Setiap hari kecuali sabtu, ada puluhan bocah yang mengaji Alquran setiap shubuh dan maghrib, setiap saat, ada saja orang yang mengetuk pintu dan mengucap Assalamualaikum, entah itu untuk menumpang wudlu, bayar listrik, bayar arisan, bayar SPP, curhat, buat tugas makalah, internetan, hafalan juz ama dan keperluan lainnya.

Begitu ramai, hingga sering kali saya jengkel dan terganggu. Tapi di saat yang bersamaan pula, saya merasa terselamatkan dari sunyi.

Sering juga rumah publik ini menjadi semacam dapur umum, khususnya ketika acara sekolah seperti wisuda, rapat atau yang lainnya. Seperti yang terjadi hari ini. Sejak kemarin kami sibuk masak-masak dan mendadak jadi pekerja catering untuk penyediaan konsumsi acara wisuda. Sungguh ramai dan membuat rumah berantakan. Kepala saya sampai sakit dibuatnya, tapi ya begitulah adanya. Atas segala kekurangan dan kebahagiaannya, terima saja.

Meski saya tidak selalu berada di rumah publik-nya Emak, sebab saya yang paling sering pergi berkelana ke sana ke mari, tapi rumah ini seperti magnet di mana saya ingin selalu kembali. Meski privasi kadang sulit diperoleh karena tamu yang datang dan pergi, tapi di sini saya bisa berdekatan dengannya, dengan anggota keluarga lainnya, meski tidak selalu mesra.

Suatu saat nanti, ketika saya harus meninggalkan rumah ini dan membangun rumah tangga sendiri, saya ingin selalu mengingat segala kenangan tentangnya, dan mengaplikasikan pelajaran baik dari segala yang terselenggara dari kehidupan di rumah ini di mana pun kaki saya berpijak. Restui saya, Rabb…

13052018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s