Perihal Infertil

danbo baby kidssumber gambar dari sini

Kelana, apakah sesungguhnya tujuan pernikahan? Tradisi purba ini terus dipelihara dari generasi ke generasi, atas nama adat dan moralitas. Dalam pernikahan, ada ritual tertentu, melibatkan institusi masyarakat, yang harus dijalankan sebagai syarat sah. Dengan begitu, laki-laki dan perempuan direstui semesta untuk melanjutkan hidup bersama-sama. 

Tentu saja tujuan pernikahan lebih kompleks dari yang saya sebut di atas. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pastinya itu disebabkan beberapa faktor pendukung. Pertama, orang itu sudah memeroleh pasangan yang “mau”. Kedua, dia harusnya sudah siap untuk berbagi cerita hidup dengan manusia lain. Ketiga, ada alasan yang lainnya yang tidak ingin saya rinci di sini. *kebanyakan. 

Kelanaku tersayang, pastinya masing-masing orang memiliki alasan yang sangat spesifik dan eksklusif ketika ia menyelenggarakan pernikahan. Apapun alasannya, itu akan berimbas pada ragam tujuan orang melangsungkan pernikahan.

Namun ada satu tujuan yang terdengar sangat realistis, pun sangat sering digaung-gaungkan orang-orang. Yakni tujuan pernikahan untuk memeroleh keturunan. Semua orang lantas beramai-ramai mengamininya, mendukungnya, bahkan membawa-bawa nama agama untuk memperkuat popularitas itu. Katanya dengan pernikahan, kuantitas umat agama tertentu akan semakin banyak, semakin makmur, dan semakin kuat.

Dengan pernikahan untuk tujuan melestarikan keturunan pula, di mana segera setelah pernikahan akan ada anak yang lucu, sebuah pernikahan akan menjelma jadi rumah tangga yang sempurna. Di sana ada bapak yang menjadi kepala rumah tangga, lantas ia punya anggota berupa istri (atau istri-istri) dan anak-anak yang banyak. Peluang terbangunnya generasi tangguh pun akan menjadi nyata.

“Bagaimana jika kita langsung membicarakan hal yang langsung berkaitan dengan judulnya, perihal perempuan infertil, apa yang kamu pikirkan tentang ini, Kumala?”  sahut Kelana. 

Perihal tujuan pernikahan yang sangat populer itu, tampak mudah dan indah sekali, bukan? Kamu tinggal menikah, lalu hasilkanlah banyak anak yang ganteng dan cantik, lalu didik mereka agar nantinya bisa menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa.

Tapi benarkah tujuan populer pernikahan itu (untuk menghasilkan keturunan) adalah benar-benar menjadi tujuan utama terselenggarakannya pernikahan? Tidakkah kamu ingin mempertanyakannya kembali, Kelana. Saran saya, janganlah buru-buru mendukung apalagi mengimaninya.

Infertil

Mengapa? Sebab realitanya, tidak sedikit laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan untuk tidak bisa memiliki keturunan hingga ajal menjemput mereka. Ada juga yang masih hidup, tapi sudah divonis dokter akan sulit memeroleh keturunan karena kondisi tertentu. Meski dokter bukanlah Tuhan, sedangkan hanya Allah saja yang punya kuasa untuk menghadirkan anak di Rahim perempuan. Kun fayakun. 

Nah, apakah lantas keinginan mereka untuk menikah (bagi yang belum menikah), atau status mereka sebagai istri atau suami seseorang (ketika sudah menikah) harus diakhiri karena klaim infertil?

Jika benar tujuan pernikahan yang utama untuk mendapatkan keturunan, mengapa harus ada kejadian takdir infertil alias mandul alias sulit memiliki keturunan? Adakah Tuhan sengaja memojokkan seseorang dengan menakdirkannya tidak bisa memeroleh keturunan? Bahkan saya mendapati keterangan yang mengatasnamakan utusan Tuhan, bahwa ada larangan atau anjuran untuk tidak menikahi orang infertil.

Kelana, dalam keyakinan saya, berdasarkan pemahaman yang terbentuk dari ragam upaya pengenalan saya dengan Allah dan Rasul-Nya, saya merasa bahwa pertanyaan di atas menghasilkan jawaban “tidak”. Yang saya tahu, Allah adalah sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang juga saya tahu, Muhammad Rasulullah berhati lembut dan tidak akan memojokkan suatu kelompok terhadap kelompok lain atas segala pernyataan maupun perilakunya.

***

Pernikahan Seharusnya Menenteramkan Jiwa

Kelana, saya bukan ahli agama yang jago berdalil naqli. Makanya, saya juga sama sekali tak punya kuasa untuk menafsirkan ayat-ayat tertentu tentang pernikahan dalam Alquran, pun tak mampu menyebut hadits A atau B itu shohih atau dhaif. Jadi tulisan di sini bukan untuk memprotes popularitas “tujuan pernikahan untuk keturunan” (Siapalah Kumala ini!).

Saya hanya ingin memberikan pandangan lain tentang pernikahan, sekaligus menandai waktu di mana pikiran saya belakangan ini terganggu dengan topik tentang perempuan infertil, mandul. Selebihnya, saya hanya ingin kamu percaya, bahwa tujuan utama dan sebenar-benarnya dari pernikahan adalah untuk menenteramkan jiwa pelakunya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang (Ar-Rum-21).

Di sisi lain, ketika kamu menemukan pasanganmu kelak, kamu berpeluang mendapatkan seseorang yang menyejukkan dan menenteramkan hatimu, juga di antara kalian bisa saling menjaga dan mengingatkan agar sama-sama dapat ridha Allah Swt (Al-Furqan: 74, At-Tahrim:6, Al-Hujurat: 13 dll).

Bukannya saya menampik soal keturunan. Tapi lah tujuan semacam itu tak perlu diumbar-umbar. Semua orang juga sudah tahu kalau dampak dari pernikahan adalah akan terbukanya peluang kehadiran anak. Tapi tanpa menikah pun, kamu bisa melakukannya, kok. Lagi pula, adalah hak Allah untuk memberi kamu anak kapan pun dan di situasi apapun, bahkan ketika kamu sudah divonis infertil. Kehadiran anak murni kuasa Tuhan, bukan karena “pernikahan”.

Kelana, ketika orang-orang mengumbar-umbar soal tujuan pernikahan untuk memeroleh keturunan, saya tidak mungkin menampiknya. Suatu saat nanti saya juga berharap bisa menikah dan dititipkan anak yang lucu oleh Tuhan.

Tapi Kelana, saya ingin meyakini bahwa kehadiran anak dalam pernikahan bukanlah tujuan, melainkan bonus sekaligus cobaan. Dikatakan cobaan, sebab ia menjadi konsekuensi bahwa kita dipercaya untuk menjalankan kehidupan untuk manusia baru yang berstatus anak kita kelak.

Maksud saya, kehadiran anak dari hasil pernikahan merupakan hal yang membahagiakan, pastinya juga sangat diharapkan. Istri akan menjadi ibu, suami akan menjadi bapak. Orang tua akan senang hatinya karena aka nada penerus keturunan mereka, akan ada kenangan dan lantunan doa sepeninggal mereka tinggal di dunia.

Kehadiran anak juga menjadi cobaan. Sebab dalam prosesnya, kamu pasti harus merasakan susah senangnya mendidik dan membesarkan anak. Akan ada masalah demi masalah yang mengiringi, tapi tetap ada pula jalan keluar yang disediakan tuhan untuk pembelajaran dirimu. Cerdas-cerdaslah mengambil hikmah.

Jika kamu masih meyakini bahwa tujuan utama pernikahan adalah untuk memperbanyak keturunan semata, kamu mungkin akan sibuk mencari pasangan yang  subur untuk dinikahi, menjauhi orang-orang yang divonis sulit mendapatkan keturunan, bahkan menceraikan atau melakukan poligami karena pasanganmu sulit memiliki anak.

Jika itu benar terjadi, cobalah berpikir sekali lagi. Bagaimana jika takdir infertil itu yang menimpamu, atau menimpa anakmu, adikmu atau orang yang kamu cintai. Adakah kamu akan tetap meyakini pernikahan itu bertujuan utama untuk keturunan semata?

Faktanya, anak tidak hanya lahir dari rahim perempuan. Anak juga bisa hadir di tengah-tengah rumah tangga karena kamu mengadopsinya. Pilihlah mereka yang yatim dan terlantar untuk kamu tolong, berdasarkan keasnggupanmu, entah kamu itu infertil atau tidak.

Akhir kata, mari kita sama-sama berupaya menerima apapun takdir Tuhan dengan rasa syukur, Kelana. Dengan begitu, diharapkan kamu akan bisa secara jernih menerima titipan rasa cinta kepada siapapun yang nanti jadi pasanganmu kelak. Bagaimanapun keadaanmu dan pasanganmu nanti, kalian diharapkan dapat saling menerima segala kekurangan masing-masing. Selebihnya, nikmatilah momen ketika kalian memiliki hati yang tenteram di kehidupan yang fana ini.

Nasihat ini bukan untukmu, Kelana, tapi sepenuhnya untuk diriku sendiri. Semoga kita bisa selalu bersyukur dengan takdir apapun yang ia beri, tanpa perlu repot-repot mendukung popularitas tertentu, tapi malah meredupkan hati orang lain.

Kiranya demikian, Kelana…. 12052018

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s