Selera

Oleh Sonia Fitri

Kalau kamu sangat suka makan duren, bahkan sampai ketagihan, maka bisa jadi saya tidak suka, bahkan sangat menghindarinya. Kalau kamu memandang seseorang dengan biasa-biasa saja, mungkin di mata saya seseorang itu justru sangat memesona. Begitulah selera. Tak perlu kamu memberikan alasan-alasan logis ketika menyukai atau membenci sesuatu. Begitu subyektifnya kita dalam menilai segala yang berkaitan dengan rasa.

Begitu pun ketika saya disodorkan lima naskah cerpen pekan lalu. Mereka minta diberi peringkat, menunjuk mana yang terbaik. Sebenarnya mudah saja jika hanya mengandalkan selera. Saya tinggal mengurutkannya berdasarkan selera, lalu selesai.

Tapi rupanya urusan yang berkaitan dengan anak-anak Kumala selalu saya respons dengan tidak sederhana. Lagi pula, naskah yang disodorkan berbeda-beda tema. Ada tentang kehidupan, cita-cita, profesi, cinta dan horor. Ini membuat penilaian jadi sedikit membingungkan, sebab setiap tema pasti punya kekhasan penceritaan sendiri-sendiri. Andaikan saja semua penulis seragam berkisah mengacu pada satu tema yang sama, mungkin penilaian akan jadi lebih mudah.

Alhasil, saya pun tak bisa menilai dari sudut pandang selera semata. Indikator penilaian pun dilibatkan, yakni berdasarkan orisinalitas, kepadatan konten, konsistensi pesan cerita serta kerapian gaya bercerita. Berdasarkan acuan tersebut, pemeringkatan naskah pun terlaksana juga.

Orisinalitas, yakni tulisan kamu asli bukan hasil plagiat alias jiplak sana-sini. Padat konten artinya kamu punya tulisan di mana setiap rangkaian katanya punya makna, pesan, fungsi, sehingga tidak membuat pembaca bosan lalu berpikir untuk loncat baca. Jangan sampai penulis melakukan hal yang paling celaka, di mana pembaca kebingungan atau gagal menangkap pesan cerita kita.

Kepadatan konten merupakan yang paling banyak memengaruhi konsistensi pesan cerita secara keseluruhan. Adapun untuk kerapian gaya bercerita, kita harus memiliki pengetahuan berbahasa yang baik agar penulisan tidak menabrak aturan berdasarkan ejaan yang disempurnakan (EYD).

Terlepas dari semua kriteria itu, satu hal yang tak kalah penting dari diri penulis ialah, kita harus peduli pada kepentingan pembaca. Di mana, pembaca adalah manusia yang butuh suntikan wawasan maupun memperkaya jiwa dari membaca. Mengutip ucapan Goenawan Mohamad, penulis harus tahu pembaca yang ditujunya, pun harus paham apa yang ditulisnya. Jangan sampai kita menulis dengan cara narsis, egois, instruktif, atau bahkan mengkhotbahi pembaca, lalu percaya akan ada orang yang tertarik dengan tulisan kita.

Akhir kata, mari untuk tidak lelah berlatih “membaca” maupun “menulis”, khususnya untuk diri saya sendiri. Bukankah dua kegiatan ini merupakan kebiasaan yang seharusnya juga jadi kebutuhan manusia beradab?

18032018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s