Jatuh

20180124_190929

(My Poor Eyeglasses dududu…)

Peristiwa kurang menyenangkan menyapa saya pada Sabtu sore, 20 Januari 2018. Ketika itu langit agak mendung, tapi sepertinya hujan enggan turun. Saya mengendarai motor dari arah Cililin menuju rumah dengan kalem. Maklum, saya baru pegang motor lagi setelah sekitar dua tahun vakum. Ceritanya saya ingin membiasakan lagi berkendara pakai matik, untuk memudahkan transportasi menuju tempat mengajar dari segi biaya dan waktu.

Perjalanan cukup aman dan lancar pada awalnya. Adik saya yang ketika itu duduk di belakang menilai bahwa penguasaan terhadap kendaraan sejuta umat itu cukup baik. Ada jalan berliku dan terjal yang sanggup saya lewati. Tapi situasi itu tidak berakhir dengan baik. Mendekati rumah, di tikungan yang tak terlalu tajam, mobil tiba-tiba melaju dari arah berlawanan. Saya mendadak panik dan “Bruk”, kami terjerembab ke sisi jalan. Helm terpental, kaca mata patah, saya tertelungkup mencium aspal.

Segera saya bangkit meski peris mulai terasa di tangan, dengkul dan pipi. Ada darah keluar dari bibir. Tapi hal pertama yang saya pikir ketika itu adalah, bagaimana jika tidak diizinkan bawa motor di kemudian hari. Reputasi saya sebagai pengendara motor, yang sudah lebih dulu diragukan, pasti ikutan jatuh. Hahaha…

Hal kemudian yang terlintas ketika rasa perih berteriak-teriak yakni “Bagaimana kondisi wajah? Pasti babak belur!”. Saya tengok ke belakang, adik saya baik-baik saja. Sedangkan motor tergores di bagian depan. Si Adik kemudian segera membawa saya pulang, membelikan betadine, dan saya pun hanya bisa terbaring, sebab rasa kebal pascajatuh perlahan kikis.

Melihat kondisi saya yang babak belur, tentu saja orang tua dan segenap saudara tampak panik. Tapi bapak bilang jatuh dari motor itu biasa. Bahkan dia yang sudah mahir pun bisa saja jatuh sewaktu-waktu. Emak bilang lukanya juga 3-4 hari sembuh. Ia lalu mengaplikasikan semua ilmu pengobatan untuk diterapkan pada luka-luka saya: dengkul bocor, pipi dan tangan lecet, bibir bengkak.

Iya, saya tahu betul perkataan mereka itu dilontarkan agar saya tidak tambah sedih dengan situasi ini. Terima kasih banyak atas segala respons yang melegakan.

Sejatinya, tidak ada satu pun orang yang ingin kecelakaan. Jatuh, dalam keadaan apapun, misalnya jatuh dari motor, jatuh ke jurang, jatuh terpeleset, jatuh sakit, ataupun jatuh hati (haha), pastinya meninggalkan rasa sakit yang beragam. Lalu motivator akan mengingatkan, “Segeralah bangkit setelah jatuh!” Situasi jatuh bangun pun dianggap sebagai pembelajaran dan suatu momen kenaikan derajat dari orang yang mengalaminya. Mudah-mudahan jatuhnya saya pun menjadi momen agar ke depannya saya lebih berhati-hati, agar juga saya tidak takut menghadapi risiko besar lainnya di perjalanan.

Kepada diri saya sendiri, saya minta maaf atas kecerobohan ini. Maaf karena kamu jadi tersakiti kulit, wajah dan reputasinya, hehe. Kamu yang sabar, ya! Kondisi kita telah berangsur-angsur membaik. Semoga kamu tidak lantas jadi pengecut setelah jatuh. Ketika kamu jatuh dan kesakitan, kamu jadi tahu seberapa kuat kamu punya kekuatan untuk bangun dan memulih. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai jatuh lagi meski kemungkinan itu selalu ada. Beranilah!

24012018

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s