Perihal Generasi Micin

boy-1822631_1920

Oleh Sonia Fitri

Setiap generasi punya cerita dan keunikanya masing-masing. Apa yang dialami generasi saat ini tidak dialami oleh generasi zaman dulu, dan pastinya cerita hari ini akan berbeda dengan apa yang nantinya dialami oleh generasi di masa yang akan datang. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah keniscayaan sebab dunia dan manusia terus mengalami pergantian, regenerasi. Tapi perbedaan tersebut juga berpotensi menimbulkan kecemburuan antar generasi yang berbeda.

Salah satu bukti kecemburuan paling nyata yakni munculnya istilah “Generasi Micin” atau “Kids Jaman Now” sejak akhir 2017 lalu. Sebutan-sebutan itu makin familiar karena dipopulerkan oleh sejumlah selebritas dan pejabat negara. Ada pula ulasan-ulasan ringan tentang asal-usul micin, sejarah kemunculan generasi micin dan sejumlah artikel unik lainnya bertebaran di media online. Tidak ketinggalan para pembuat video dan meme guyon ikutan memeriahkan penggunaannya. Jadilah hingga kini, kedua istilah tersebut masih terasa menggelitik, tapi juga bernada sindiran yang arahnya cenderung merendahkan generasi zaman sekarang.

Baca juga: Order Pembuatan Sketsa Wajah Murah Berkualitas, klik di sini

Sejujurnya saya termasuk orang yang ikut menikmati keberadaan istilah generasi micin itu. Mungkin juga saya secara tidak sadar ikut sepakat dan merendah-rendahkan generasi jaman sekarang melalui istilah tersebut. Tapi apakah pernah kamu membayangkan atau bertanya bagaimana tanggapan dan sikap mereka yang jadi sasaran sebutan? Adakah generasi jaman sekarang merasa tersinggung atau terganggu atas sebutan-sebutan itu?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dialog dengan anak-anak kelas XB SMK Kumala Lestari pun saya buka, tepatnya pada 12 Januari 2018. Selain sebagai ajang latihan mereka dalam mengemukakan pendapat, saya berharap dialog ini memunculkan rasa saling pengertian sekaligus refleksi atas keberadaan “Generasi Micin” bagi sikap kita di keseharian.

“Jujur saya miris mendapatkan sebutan seperti itu, tapi memang remaja itu adalah fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang pendidikannya harus diperhatikan. Kalau misalnya diarahkan ke hal yang baik, maka si remaja akan menjadi baik, tapi kalau pergaulannya buruk, ya dewasanya pun akan madesu alias masa depan suram,” ujar Rifki mengawali diskusi.

Dia bahkan sepakat kalau pada dasarnya penggunaan micin yang berlebihan akan berdampak buruk bagi kesehatan dan kecerdasan manusia. Maka dari itu, peran orang tua sangat penting dalam pembiasaan anak-anaknya agar tidak keterlaluan mengonsumsi micin dalam makanan dan jajanan. Selain itu, orang tua juga seharusnya melakukan pengawasan yang berimbang terhadap penggunaan teknologi bagi anak-anak.

Meski begitu, Rifki mengaku bangga menjadi bagian dari generasi zaman sekarang yang memiliki banyak kemudahan dalam mengakses teknologi. “Kita juga jadi lebih mandiri dan berpeluang memiliki wawasan yang lebih luas dengan fasilitas yang ada saat ini,” ujarnya.

Fahrul, murid lainnya, sepakat dengan pernyataan Rifki. “Kalau kebanyakan micin, sel tubuh kita akan terpicu membentuk kanker, penggunaannya jangan berlebihan,” ujarnya. Meski begitu, murid lainnya yakni Yusep tidak mau sembarangan mengajukan klaim bahaya micin tanpa bukti dan riset. Dia cenderung menurut akan anjuran gurunya agar tidak menggunakan banyak micin ketika memasak karena akan berdampak pada kesehatan. “Kalau dampak micin untuk kecerdasan saya belum tahu,” tuturnya.

Pernyataan berbeda lantas dilontarkan Tomi. Menurutnya, micin dan kecerdasan sama sekali tidak berkaitan. “Kalau dia tidak kebanyakan makan micin, tapi tidak belajar ya tetap saja tidak akan pintar,” katanya. “Jadi, mungkin generasi micin itu maksudnya, bukan karena anak zaman sekarang kebanyakan mengonsumsi micin, tapi karena kelakuannya seperti orang yang bodoh akibat kebanyakan micin,” sahut Egy menyimpulkan.

Terkait istilah “Generasi Micin”, salah seorang murid lainnya, Asep mengaku tak terlalu paham dengan sebutan tersebut, pun merasa tidak tersindir. Ia merasa keberadaannya sebagai anak pesantren tak membuatnya menjadi bagian dari generasi tersebut. “Mungkin itu ditujukan buat anak zaman sekarang yang kebanyakan main hp, pergaulannya bebas, kalau saya di sini kan tidak begitu,” ujarnya.

Pernyataan Asep didukung oleh Suraj yang mengakui kalau anak-anak seumurannya telah banyak mengabaikan pergaulan yang sehat serta rasa sopan santun kepada orang tua. Tomi, Rama, Jainullah, Imron, Randi dan Naufal juga sepakat bahwa anak zaman sekarang memang diuntungkan karena akses dan kemudahan dalam mencari hal-hal yang bermanfaat terbuka lebar. Tapi mereka mengaku kalah dengan kualitas moral, akhlak, serta perjuangannya dalam menuntut ilmu.

“Kita kalah dalam usaha, cenderung manja, maunya yang serba instan,” ujar Naufal. Lebih lanjut Naufal menyebut anak-anak zaman sekarang tertantang untuk menggunakan internet dengan bijak, jangan sampai banyak mengambil madharat ketimbang manfaatnya.

Namun yang menarik adalah pernyataan Dani yang mengaku tidak bermasalah dengan sebutan generasi micin. “Saya merasakan ketika saya hidup di zaman dulu pasti saya membanggakan zaman dahulu, tapi karena saya lahir dan besar di zaman sekarang, jadi saya bersyukur saja,” katanya. Menurutnya, setiap zaman punya ceritanya masing-masing. Setiap zaman juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang penting setiap orang harus bisa mengambil banyak manfaat dari zaman yang tengah ia jalani, dan mengurangi hal-hal yang berbau negatif.

Baca juga: Order Jasa review buku, film dan produk, klik di sini

***

Bagi saya, pernyataan anak-anak itu ekskulsif dan sungguh berharga. Mengapa bisa? Sebab setidaknya keberadaan mereka adalah suatu bantahan yang keras akan tudingan bahwa generasi jaman Now itu kebanyakan makan micin makanya jadi bodoh dan sama sekali tidak berkualitas.

Sebutan generasi micin mungkin diawali sikap generasi 90an atau juga disebut generasi jaman old yang tengah protes dengan kelakuan anak zaman sekarang yang dianggap tidak wajar. Kita—sebab saya termasuk generasi jaman old—merasa heran melihat anak-anak sekarang yang kelakuannya dianggap tidak wajar. Misalnya kelewat anteng di depan layar smartphone, bergaya urakan serta tidak tahu aturan. Kita juga kesal karena mereka cenderung mengabaikan rasa hormat terhadap lingkungan sekitar.

Lalu kita sebagai orang “tua” yang merasa lebih berpengalaman dan lebih benar, seenaknya melontarkan ledekan. Micin atau vetsin yang dianggap sebagai penyedap rasa yang membuat bodoh ditujukan pada mereka yang dituduh berperilaku serupa. Padahal, kelakuan kita itu bisa jadi merupakan ekspresi kecemburuan sekaligus ketidakberdayaan kita dalam mengarahkan generasi berikutnya ke hal-hal yang positif, karena kita sendiri pun mungkin masih canggung menyambut perubahan zaman.

Pemikiran tersebut senada dengan pernyataan salah seorang murid lainnya, Fadli. Jangan-jangan, katanya, sebutan yang merendahkan terhadap anak-anak zaman sekarang disebabkan ketidakberdayaan orang-orang zaman old dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya ke arah yang positif. “Dampaknya, mungkin sebagian dari anak-anak zaman sekarang jadi minder karena direndahkan begitu,” tuturnya. Kemudian Awkarin bernyanyi: kalian suci aku penuh dosa. 😀

Kita juga mungkin meniru kelakuan generasi sebelumnya yang merupakan orang-orang tua kita. Mereka cenderung protes dengan kelakuan kita yang dinilai tidak sesuai dengan kebiasaan mereka. “Dulu, Emak gak pernah berani ngejawab omongan orang tua,” atau “Dulu itu anak-anak ngaji setelah maghrib, bukannya nonton sinetron!” begitu, misalnya protes mereka secara verbal kepada kita yang tengah membantah.

Lalu ketika sekarang menjadi tua, generasi dan zaman baru muncul, kita cenderung meniru gaya orang tua kita dulu. Bedanya, dulu tua kita hanya melontarkan protes lewat verbal, sementara kita punya peluang yang luas untuk mengajukan protes terhadap generasi baru lewat dunia maya.


Sumber gambar dari sini

Satu respons untuk “Perihal Generasi Micin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s