Dramatisasi Holocoust dalam Teks (Review buku “Malam” karya Elie Wiesel)

Oleh Sonia Fitri

Jika semua warga dunia sepakat bahwa kekerasan dan pembantaian adalah perbuatan tercela dan hina, mengapa ada orang-orang yang hingga kini tetap melakukannya, mendukungnya, lalu ada yang menggulirkan alasan dan pembenaran atas tindakan tersebut?

***

Diceritakan, Tentara Nazi pada masa Perang Dunia II melakukan holocaust dengan alasan pemurnian ras pada rentang 1941-1945. Dianggapnya orang-orang Yahudi itu telah mengotori kemurnian bangsa Arya yang bermartabat lagi terhormat. Karenanya, sekitar enam juta orang Yahudi tanpa pandang usia dideportasi, dikarantina secara paksa, diperas tenaganya, pada akhirnya dipaksa menghadapi kematian dengan cara yang paling mencekam.

Jutaan saksi, pelaku serta korban—entah masih hidup ataupun sudah mati—pastinya sempat menyaksikan maupun merasakan tragedi pembantaian tersebut, tapi hanya sedikit saja yang sanggup menceritakan ulang dalam bentuk karya abadi, entah berupa teks maupun film. Mungkin sedikit pula yang mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Tersebutlah Elie Wiesel, salah satu korban yang punya nyali untuk menceritakannya kembali tragedi itu kepada pembaca di mana pun berada, dalam bentuk teks.

Berani. Sebab bukankah tidak mudah mengingat-ingat kejadian memilukan yang menimpa diri? Alangkah lebih melegakan jika peristiwa tersebut dilupakan untuk selama-lamanya.

Pengalaman pahitnya ketika menjalani hari-hari di Kamp Auschwitz dan Buchenwald diceritakan secara dramatis dalam buku berjudul “Night” (diterjemahkan oleh Marianne Katoppo dengan judul “Malam”, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada 1988).

Ketika itu ia masih berusia 15. Sebelum menjadi peserta Holocaust yang selamat, ia merupakan seorang bocah biasa yang sedang asyik-asyiknya mempelajari agama, berminat tinggi dalam mempelajari bagaimana agar memahami tindakan-tindakan Tuhan secara bijaksana, pun melewati masa remaja dengan normal, di tengah keluarga dan lingkungan yang damai. Namun kemudian Tentara Nazi datang membawa ia, keluarganya, tetangganya, dan semua orang yang berdarah Yahudi berdesak-desakan naik kereta, menuju Kamp Konsentrasi serupa neraka.

Pada buku kecil berukuran 120 halaman itu, ia bercerita dengan runtut, juga detail, tapi juga sanggup membuat pembaca merasakan kengerian dan kepiluan ketika ia menjalani hari-hari yang keras, malam-malam yang pilu, serta nafas-nafas yang lelah selama berada di kamp konsentrasi Nazi. Ia juga berhasil membahasakan perasaannya sehingga terasa miris, ketika mendapati orang tua dan saudara-saudaranya yang menderita lalu mati begitu saja di hadapannya.

Wiesel juga bercerita tentang situasi serba tertekan dan dikelilingi intaian maut di kamp tersebut. Ia dan penduduk Yahudi yang terperangkap itu pasrah menjalani segala instruksi dari Nazi. Status mereka disetarakan, yakni sebagai kaum Yahudi yang kotor dan rendahan. Makanya mereka pun harus rela kepalaran serta diperlakukan serupa binatang.

Jika fisik penghuni Kamp sudah tiada daya, misalnya karena sakit, atau tua, atau mengalami kecelakaan kerja, bersiaplah untuk dimusnahkan. Proses pemusnahan pun dilakukan secara biadab. Jika tidak ditembak mati lalu dibuang di sembarang tempat, mungkin Yahudi-Yahudi itu akan dibakar secara berjamaah di dalam bejana raksasa, lantas jasad-jasad yang menumpuk itu segera raib bersama pekatnya malam.

***

Wiesel tidak sendirian. Kisah Holocaust juga diceritakan secara menarik dan jadi “Viral” bahkan meraih sejumlah penghargaan dunia. Misalnya kisah Anne Frank, serta film-film yang dikemas apik oleh sejumlah sutradara. Saya pernah menonton tiga film bagus yang mengisahkan tentang tragedi holocaust, misalnya Schindler’s List (1993), Life is Beautiful (1997) dan The Boy In The Stripped Pajamas (2008). Ketiga film itu sukses menyentuh rasa sehingga terharu biru, membuat saya merasa simpati kepada kaum Yahudi yang super tabah menghadapi pembantaian tak berperikemanusiaan itu.

Karya-karya tentang holocaust pastinya diproduksi dan dipopulerkan untuk agenda yang ideal, misalnya menebar inspirasi kemanusiaan, menghargai nyawa manusia, serta upaya menggulirkan suara penentangan atas segala tindak kekerasan dan pelanggaran HAM di seluruh dunia. Meski di sisi lain, karya-karya itu pun pastinya juga memiliki nilai komersil. Ada bayaran dan keuntungan yang setimpal atas bisnis kreatif yang pastinya makan biaya.

Tapi adakah hasil nyata dari kampanye itu? Siapa yang setuju akan pembantaian dan kekerasan? Semua menolaknya dalam teori. Tapi faktanya, kita yang punya kesempatan tetap saling menyerang satu dengan yang lainnya, untuk kekuasaan, kekayaan, kedudukan, kehormatan dan pengaruh. Bagi yang belum dapat kesempatan, kita seolah menentangnya, tapi sesungguhnya tengah membiarkan tragedi itu berlalu sebagai kisah sejarah, sebagai kenangan pilu yang mesti dimaafkan.

Tapi yang paling membuat heran adalah mengapa pesan ideal perdamaian itu hanya menggantung di ranah teori dan kampanye semata? Mengapa Zionis masih saja leluasa merebut tanah Palestina? Mengapa pula setiap tahun berita bom dan bentrokan di tanah Yerussalem terus bergulir? Adakah kisah Holocaust yang dikemas menjadi karya bertabur penghargaan itu tidak menjadi rambu-rambu dan pelajaran berharga bagi para teroris di Palestina, atau di mana pun para penebar teror iti berada?

Nanggerang, 16012018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s