Catatan Perjalanan Liburan Kumala Lestari (Bagian II-Habis)

Keberadaan Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk patut diapresiasi, mengingat peranannya yang bukan hanya sebagai pajangan indah, tapi juga berkontribusi banyak dalam agenda penyelamatan lingkungan. Kita semua tahu bahwa tanaman bakau memiliki sejumlah kegunaan di antaranya menetralisir udara kotor serta menjadi benteng antara daratan dan lautan. Maka tak heran jika keberadaannya menjadi semacam oase di tengah gersangnya kawasan Jakarta.

Jadi, mari mengapresiasinya dengan cara berkunjung dan menikmati panorama indahnya. Syukur-syukur jika kamu mau ikut serta dalam kegiatan penjagaan lingkungannya secara nyata. Misalnya dengan ikut melakukan penanaman bakau, menjaga adab berekreasi serta kebersihan lingkungannya.

Sebelum melanjutkan perjalanan cerita liburan saya dengan Santri Kumala Lestari pekan lalu, saya ingin sedikit bercerita, bagaimana cara menjangkau taman yang kece ini?

Tenang saja. Cukup mudah, kok, menjangkaunya dari segi rute maupun ongkosnya. Berdasarkan pengalaman kemarin, kamu hanya perlu mengandalkan Bus Trans Jakarta ataupun naik kereta commuter. Ada bus khusus yang lalu lalang menuju kawasan Pantai Indah Kapuk dari Halte Harmoni. Kamu bisa menunggunya di sana, dan jangan lupa bertanya kepada petugas bus trans jika kebingungan.

Jika tempat berangkatmu jauh dari Harmoni, kamu bisa naik kereta, agar tidak kehabisan waktu dan tenaga ber-transit ria. Kalau saya waktu itu start dari Stasiun Jatinegara, lalu ambil perjalanan Jalur 2 menuju stasiun Jakarta Kota. Sesampainya di Jakarta Kota, kamu tinggal pindah ke halte bus trans melewati terowongan cantik yang menghubungkan keduanya.

Nah, barulah setelah itu tinggal menunggu bus menuju Pantai Indah Kapuk. Jangan sampai salah bus, ya. Perhatikan trayeknya, atau lebih mudahnya tanya petugas bus trans.

Di dalam bus yang adem ayem itu, nanti kamu akan diturunkan di depan gedung sekolah buda yang megah bin raksasa bernama Tzu Chi. Lokasi TWA Angke Kapuk tepat berada di belakang gedung tersebut. Di sini kamu harus sedikit berkorban berjalan kaki menuju belakang gedung, guna menggapai gerbang utama TWA. Kalau tidak salah, ada angkot juga menuju ke sana.

IMG_20171219_104059

Setelah sampai, segera beli tiketnya, dan selamat mengapresiasi kawasan ini sepuasnya. Jangan lupa bersyukur dan berdzikir sepanjang jalan.

***

Oke.

Tidak hanya bermalam, makan dan berjalan-jalan di area TWA, saya juga dapat kesempatan menyaksikan Santri Kumala Lestari berpentas seni. Ada yang menjadi MC, bernyanyi, bermain musik, bershalawat, pameran baris berbaris kepramukaan, seni bela diri, Stand Up Comedy. Keseluruhan penampilan mereka mengejutkan, mengagumkan, sekaligus membuat heran.

Bisa-bisanya mereka tumbuh dengan sangat baik dalam pembelajaran yang dinamis, sehingga bukan cuma nilai akademik yang baik, tapi ada bakat-bakat seni yang ditampilkan dengan penuh percaya diri. Para tenaga pendidik yang terdiri dari ustad teladan pasti telah berjuang sepenuh hati mendidik mereka. Salut. Almarhum Ibu Murniwati pun pastinya bangga melihat anak-anaknya tangguh begini.

***

Telah saya singgung di catatan bagian pertama, bahwa rombongan tidak hanya berkeliling TWA, tapi juga mengunjungi Monas dan Pantai Ancol di hari berikutnya. Di sana kami kembali belajar sejarah versi rezim Soeharto, berfoto dengan patung-patung serta gedung, main air di pantai serta naik perahu mengelilingi kawasan pantai.

Ketika naik perahu, kami sempat melihat salah satu pulau reklamasi yang terpampang nyata dari kejauhan. Ada alat berat yang sedang duduk manis di atas pasir putihnya. Entah bagaimana kelanjutan proyek kontroversial itu. Tapi mudah-mudahan kesehatan lingkungan tidak dipertaruhkan untuk keuntungan bisnis.

Begitulah.

Perjalanan liburan ditutup dengan acara bagi rapor. Lalu saya pulang ke rumah, mengenang banyak hal menyenangkan, bersyukur dapat pelajaran dan pengalaman yang spesial. Sementara mereka masih harus belajar materi kepesantrenan selama sepekan. Selamat berjuang, adik-adik!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s