Catatan Perjalanan Kumala Lestari (Bagian I)

Tidak ada suatu pertemuan pun yang kebetulan. Semuanya telah dirancang sehingga manusia berpeluang mengambil pelajaran-pelajaran yang nyata.
***
Begitulah keyakinan yang tertanam di kepala, ketika saya dipertemukan dengan anak-anak santri Pondok Kumala Lestari. Dari pekan ke pekan, setelah segala suka duka yang terlewati bersama mereka, saya merasa makin bersyukur dan merasa sungguh terhormat dapat kesempatan untuk menemani dan menyaksikan mereka belajar. Meski tak jarang keraguan, lelah, cibiran serta cemoohan yang didapatkan karena pilihan ini memang tampak menyulitkan dalam pandangan orang-orang kebanyakan, tapi saya senang masih bisa bertahan di sisi mereka hingga kini.

Pekan lalu saya dapat kesempatan melakukan perjalanan liburan bersama mereka ke tiga tempat di Ibu Kota, tepatnya ke Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Jakarta Utara, Monas dan Pantai Ancol. Sejujurnya saya bukan tipe orang yang senang melakukan perjalanan liburan dengan sembarang orang. Saya telah membayangkan pasti akan banyak momen ketidaknyamanan yang terasa jika ikut dalam perjalanan ini—dan memang apa yang saya duga itu kejadian. Tapi sebab ada tanggung jawab membagi rapor santri, ada kegiatan rapat yayasan pula, sebagai wali kelas saya pun akhirnya ikut serta. Moga-moga ikhlas lillahi taala, hehe.

Lokasi pertama sekaligus jadi tempat penginapan kami yakni kawasan TWA Angke Kapuk. Obyek wisata ini sudah sangat familiar di keluarga besar Kumala Lestari, sebab “ibu” mereka lah pemilik tempat yang kaya manfaat ini. Untuk kalian ketahui, pemilik sekaligus donatur tunggal Pesantren Kumala Lestari adalah perintis sekaligus pemilik TWA Angke Kapuk. Namanya Murniwati Harahap almarhumah. Selidik punya selidik, ia merupakan adik dari salah satu mantan pejabat kementerian negeri ini.

Jauh-jauh hari hingga akhirnya menginjakkan kaki di taman bakau ini, saya mendapatkan sejumlah informasi tentang beliau dari beberapa pegawai Kumala Lestari, pun membaca artikel-artikel tentangnya di media online. Jadilah terceritakan kisah Ibu Murni dari beragam versi. Tapi seluruhnya istimewa.

Ibu Murni bukan teman seperguruan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun Candi Sewu dalam semalam. Ia juga bukannya teman Om Jin yang meminta punya taman bakau berhektare-hektare hanya dalam sekali kejap. Almarhum Murniwati merintis pembangunan taman tersebut dengan keringat, waktu dan upaya yang tidak sederhana. Mungkin akan panjang lagi jika diceritakan. Tapi lihatlah dari upaya tersebut, dari suatu hal yang dianggap tidak berguna bahkan mustahil, dari semangat menanam dan menjaga lingkungan yang nyata, orang-orang saat ini bisa berkunjung menikmati ekosistem bakau yang kemilau.

IMG_20171219_104040.jpg

Telah disusun jalan-jalan dari rangkaian bambu sehingga pengunjung bisa mengitari area taman tanpa becek. Di sepanjang jalan tentunya akan kita dapati mangruf di sana sini, lengkap dengan biawak yang muncul dari genangan lumpur, kepiting yang membuat lubang-lubang, kicau burung, udara sejuk serta nyamuk-nyamuk. Jika lelah, telah tersedia tempat singgah berupa bangku bambu atau ayunan tali di sejumlah sisi. Menara-menara kayu juga dibangun agar memudahkan pengunjung menikmati panorama alam dari atas.

Terdapat jalur rawa yang dirancang mengitari areal taman yang bisa kita jangkau dengan naik perahu dayung maupun mesin. Jembatan-jembatan kayu yang cantik juga didesain agar pengunjung dapat spot bagus untuk berfoto-foto ria. Tak heran jika banyak pasangan pengantin yang melakukan pre wedding, juga rumah produksi yang melakukan pengambilan gambar untuk cerita dan kepentingan tertentu dengan memanfaatkan area indah ini.
IMG_20171219_150937
IMG_20171219_143105
IMG_20171219_133630

Area penginapan beragam harga juga tersedia. Mereka tersedia di sejumlah area, di antara rimbunnya bakau. Kami, rombongan Kumala, tentu saja bisa mendapatkan fasilitas tersebut tanpa biaya. Para ustad dan guru ditempatkan dalam rumah-rumah cokelat setara kamar hotel yang punya fasilitas lengkap semisal kamar mandi, dapur, ruang tamu dan kamar tidur tentunya. Sementara anak-anak santri ditempatkan di areal perkemahan, di mana mereka bernaung di rumah-rumah kayu modern yang didesain seperti tenda nan unik.
IMG_20171220_085914

Tetapi dari keseluruhan spot wisata yang mengagumkan, yang paling cantik adalah masjidnya. Lokasinya tepat di jalur utama gerbang depan. Setelah pengecekan tiket, kamu hanya perlu berjalan sebentar, lalu melirik ke sebelah kiri. masjid di atas rawa-rawa itu tampak bersih dan rapi serta membumi. Tempat shalat dan toilet selanjutnya juga bisa kamu dapati di areal dekat aula utama, di dalam taman mangruf yang jalannya berliku-liku. Jadi bagi kamu yang muslim, jangan khawatir kesulitan dapat tempat bersih untuk shalat jika adzan berkumandang.
IMG_20171219_104418

(Pemandangan belakang masjid)

Almarhum Murniwati telah merintis dan memulai kawasan sehat lingkungan di sini. Oleh karena itu, para pengunjung dari masa ke masa juga dapat berpartisipasi dalam membantu menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah di tempat yang disediakan. Selain itu, wajib hukumnya berlaku sopan dan menghormati semesta sepanjang jalan, meski tengah jalan-jalan dengan pacar :-P. Bentuk dukungan selanjutnya bisa dilakukan dengan turut menanam bakau di area-area khusus. Pada kegiatan ini, ada pembelajaran selanjutnya tentang bagaimana mengembangbiakan bakau, tanaman penetralisir udara kotor sekaligus benteng laut di daratan.
IMG_20171219_143529
IMG_20171219_150548(lagi ganggu santri Kumala Lestari bersih-bersih kawasan TWA)

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s