Ketika Orang-Orang Bertanya

Oleh Sonia Fitri

Orang-orang di sekitar, bisa jadi dia teman, sanak famili atau tetangga, pada sejumlah kesempatan merasa penasaran (entah itu benar-benar penasaran, ataupun hanya iseng saja) dengan kondisi kita. Bersyukurlah karena diberi kesempatan tinggal di lingkungan yang jiwa sosialnya tinggi. Orang-orang masih ingin tahu dengan kondisi satu sama lainnya. Dari keingintahuan itu, mereka berpeluang untuk saling mengapresiasi, menolong, atau bahkan saling menggunjing dan bergosip.

Pada situasi tersebut, alangkah menyenangkan jika kita memiliki hal baik untuk diceritakan kepada orang-orang yang bertanya itu. Mungkin jawaban-jawaban kita bisa jadi ajang pamer terselubung. Tapi jangan sampai seperti itu. Karena, misalnya, kita baru dapat prestasi di sekolah, kita baru dapat kerjaan yang gajinya lumayan, kita baru dapat penghargaan atau beasiswa dari lembaga tertentu, kita baru buka usaha yang menguntungkan, apapun kabar baik itu.

Tapi akan beda ceritanya, ketika kamu tidak punya apa-apa untuk diceritakan, apalagi dipamerkan. Mungkin kala itu kamu sedang merasa salah dalam menetapkan pilihan, mendapatkan ketidakberuntungan dan penolakan yang beruntun, atau tengah dirundung kesedihan, kebingungan, rasa sakit. Pasti akan berat rasanya untuk bercerita kepada orang-orang itu. Lagi pula, apa yang bisa diharapkan dari mereka yang bertanya. Peluangnya sangat kecil bagi mereka untuk memberi pertolongan, karena mereka pun memiliki masalahnya sendiri sendiri. Yang ada, kita hanya mendapatkan mata-mata yang mengasihani dan meremehkan kondisi kita saat ini.

Ada di saat-saat ketika kamu merasa kehilangan mimpi. Rasanya apa yang telah kamu lakukan selama ini sia-sia belaka. Karenanya, sungguh lelah melewati hari demi hari dengan rasa kekecewaan terhadap diri sendiri yang membayangi. Kondisi batin dan fisikmu jadi rapuh. Kamu sakit dan makin menyusahkan orang lain. Kamu lalu panik dan merasa makin sedih karena merasa semua orang mengasihanimu. Ketika kamu sedang berupaya melarikan diri dari ketidaknyamanan itu, dinding-dinding tinggi menghalangi. Kamu terasa seperti di penjara.

Ketika berada di posisi itu, kita akan merasa semua interaksi dengan orang-orang terasa pahitnya berkali-kali lipat. Kamu juga jadi lebih sensitif, gampang tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari orang-orang di sekitar. Padahal maksud mereka hanya ingin tahu saja, atau hanya sekadar ingin menyapa dan berbasa-basi saja. Tapi mengapa hatimu luka? Selebihnya, kamu merasa tidak punya energi lagi untuk bangkit, jadinya hanya bisa sembunyi, lalu meratap dan menangis di keseharian.

Ketika saat-saat itu terjadi, terimalah dan jangan dilawan. Nikmati momen-momen tak menyenangkan itu sebagai sebuah kewajaran hidup. Tapi ingat untuk tetap meneguhkan hatimu, kawan. Bahkan ketika kamu mengalami kegagalan berkali-kali, tetap tegakkan kepalamu. Bahkan ketika kamu merasa kalah dan tak berharga lagi, tetap jaga senyuman itu, tak apa jika harus dicampur air mata.

Bagaimana dengan pandangan orang-orang itu? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka? Mula-mula, ambil nafas yang panjang, lalu hembuskanlah sambil memejamkan mata. Ceritakan saja apa adanya dengan sesingkat-singkatnya, tapi jangan sambil berkeluh kesah apalagi marah. Ceritakan saja bahwa saat ini kamu masih hidup dan punya mimpi yang sedang berupaya digapai. Bila ada yang nyinyir atas pilihanmu, atau menyalahkanmu, biarkan sajalah. Kamu tak punya kuasa untuk mengendalikan mulut-mulut pemirsa yang gatal berkomentar. Lagipula, cerita hidupmu tidak tergantung dari bagaimana penilaian tetangga yang jelas-jelas tidak memberikan kamu makan ataupun uang jajan. Tidak ada pilihan yang salah. Apa yang telah kamu tetapkan hari ini, itulah yang terbaik dan pasti mengandung hikmah-hikmah yang akan makin mendewasakanmu.

Nyamankanlah dirimu di situasi terburuk sekalipun. Ini semua demi kesehatan jiwa dan ragamu sendiri. Untuk kepentinganmu. Bukan berarti kamu harus abai dengan mereka yang nyinyir dan kamu kemudian berputus asa dengan keadaan yang tengah menimpa. Keberadaan mereka mungkin penting sebagai pengingat, karena kamu mungkin terlalu santai dan membercandai hidup. Keberadaan mereka juga harusnya menjadi sarana latihan bagi kamu, untuk mengelola hati agar tetap kalem dan fokus pada pertaubatan, introspeksi diri. Keberadaan mereka juga penting untuk menyeleksi, siapakah orang-orang yang kamu kenal, yang benar-benar menerima kamu sebagai dirimu apa adanya, atau hanya memanfaatkan posisimu semata.

Setelah hatimu tenang, dengan sendirinya energi positif akan masuk. Kamu akan jadi lebih terkendali dalam mengelola hati. Siapa yang tahu, di luar sana, ada orang-orang yang mendoakanmu, mendukungmu, yang tak rela jika kamu menderita. Meski tak tampak di hadapan, tapi keberadaan mereka terasa. Sehingga kamu jadi punya energi lagi untuk bersyukur, memperbaiki diri, bangkit lagi, dan mengendalikan diri dari sikap berbagga diri. Disadari atau tidak, kamu tidak pernah sendirian di muka bumi.

Situasi sendu tak akan berlangsung selamanya. Jika kamu bergerak, berdoa dan bertaubat, pasti akan ada pertolongan dari yang kuasa berupa hadirnya keikhlasan hati menerima takdir apapun yang digariskan-Nya.

27072017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s