Gado-Gado Gelisah Cak Nun (Review buku “Sedang Tuhan Pun Cemburu” karya Emha Ainun Nadjib)

Oleh Sonia Fitri

Kecemburuan adalah bagian dari cinta, bagian yang tidak saja penting, tetapi juga memperindah proses cinta. Kecemburuan diperlukan ketika cinta kasih dikukuhkan maupun ketika dipelihara dan ditingkatkan (Nadjib, 2015:118).
***

Begitulah kata Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dalam artikelnya yang berjudul “Sedang Tuhan Pun Cemburu”pada 1988. Di tempat dan dunia yang terpisah, dua tahun kemudian Dilan-nya Pidi Baiq juga membahas tentang cemburu ke Milea—kisah mereka yang tertulis dalam novel belakangan ini lagi ngehits di kalangan kaula muda dan segera difilmkan. Kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang nggak percaya diri. Saat Dilan tahu Milea jalan sama cowok lain, dia mengaku sedang tidak percaya diri.

Mungkin saja Dilan yang merasa tidak percaya diri, karena dia memang sedang mengukuhkan cinta kasih untuk seorang cewek kece bernama Milea. Kalau dia tidak apa-apa ketika Milea bersama laki-laki lain, berarti perasaannya tidak spesial, dan tidak ada yang mesti dipelihara ataupun dikukuhkan. Mungkin begitu. Tapi di antara kutipan keduanya mungkin juga ibarat Jaka Sembung—tapi tak pakai golok.

Tapi tenang saja. Saya di sini tidak akan berpanjang lebar membahas tentang cemburu-cemburuan versi Cak Nun atau Pidi Baiq atau siapapun. Seperti tertulis di judul, ini tulisan ingin mereview satu lagi bukunya Mbah Nun. Sekadar intermezzo, asal mula tulisan ini lahir karena saya melihat trailer film Dilan 1990. Di saat yang bersamaan, buku dengan cover didominasi merah, ada gambar tangan hitam yang menegadah dan juga buah apel hitam melayang, sedang dipangkuan. Keduanya kebetulan menyinggung tentang cemburu. Jadilah singkat cerita, saya berinisiatif untuk meninggalkan jejak review untuk buku tersebut. *kalau kalian mikir ini gak nyambung, ya memang begitulah adanya 😛

Sejujurnya, saya berdosa lama pada ini buku—dan juga buku-buku lainnya. Buku berjudul “Sedang Tuhan Pun Cemburu” karya Emha Ainun Nadjib ini sudah lama terpatri di lemari buku sejak Juli 2015, tak lama setelah ia diterbutkan pada April. Tapi baru sekarang saya ada keinginan untuk menyelesaikan membacanya, sekaligus bikin reviewnya.

Sejatinya, buku ini adalah kumpulan artikel-artikel random yang ditulis di rentang waktu antara tahun 80-90an. Kemudian artikel-artikel yang banyak itu disusun ulang oleh Saudara Toto Rahardjo—angkat topi buat beliau, dikelompok-kelompokkan ke dalam enam kelompok sub judul: Trotoar, Halte, Traffic Light, Parkir, Tikungan dan Trayek. Adapun judul buku sesungguhnya diambil dari salah satu judul artikel, terselip di kelompok “Traffic Light”, terselip di halaman 116.

Jadilah, ekspektasi tinggi saya tentang buku ini mendadak memble. Harapan mendapatkan penjelasan tentang serba-serbi kecemburuan, pemahaman kesufian tentang cemburu atau hal muluk-muluk tentang kecemburuan Tuhan—sebagaimana saya bayangkan di awal ketika melihat judul bukunya dua tahun yang lalu—langsung sirna ketika membaca kata pengantar Cak Nun yang terpampang di awal, serta melihat daftar isinya. Tapi rasa kecewa saya tak bertahan lama. Kumpulan artikel beliau yang dibukukan ini terasa seperti gado-gado. Terdiri dari campuran sayuran-sayuran dan bumbu padat gizi, mendorong kita berkontemplasi, berlogika, tapi juga teersenyum dengan sesekali guyonnya.

***

Baiklah, mari kita mulai!

Kelompok “Trotoar” terdiri dari 12 artikel yang keseluruhannya bercerita tentang eksistensi diri, dan bagaimana kita mempelajari orang-orang sekitar dalam membahasakan dirinya di hadapan yang lainnya. Rangkaian-rangkaian tulisan tampak “gelisah” sebab bercerita tentang kelakuan bangsa kita yang lebih senang dengan hal-hal protokoler, serba seremonial dan formal ketimbang mengedepankan kualitas diri. Mengapa bisa begitu? Bagaimana pula awalnya sehingga jadi begini?

Mengapa mata kebanyakan kita selalu tampak berbinar-binar melihat manusia-manusia yang terhormat karena jabatan, harta dan gelar yang dipamerkan. Mengapa refleks menunduk-nunduk pada pejabat dan cenderung belagu pada si miskin. Kita juga lebih senang dengan sepatu-sepatu bagus, berbasa-basi busuk, lalu kita lupa kalau selama ini hanya sibuk memikirkan pandangan orang, bukannya bercermin diri bagaimana agar Sang Khaliq senang.

***

Melangkah ke Bab II, “Halte”, terhimpun 12 artikel juga. Di sini Cak Nun periode 80-90an banyak bercerita soal konsep-konsep politik semisal komunisme dan sosialisme dan respons masyarakat kita kala itu. Ia lagi-lagi tampak gelisah. Konsep-konsep itu dipandangnya sebagai cinta palsu yang dampaknya memang tak sehat untuk rakyat. Teori politik dan kekuasaan menuntut pembangunan yang pesat. Di sisi lain, ada rakyat kecil yang kena dampak. Tapi rakyat selalu punya cara kreatif untuk bertahan, santai dan menyenangkan hatinya. Entah dengan cara berguyon ria, atau membuat pelesetan-pelesetan santai.

“Bahwa beribu-ribu orang yang lewat di jalanan memandang mereak sekilas lintas, kemungkinan besar tidak pernah punya keinginan untuk mengetahui siapa nama mereka, berapa anak mereka, cukup tidak makan minum keluarga mereka, punya utang berapa banyak, serta punya penyakit serius atau tidak.” Seberapa pedulikah kita?

***

Berlanjut ke bab III, 16 judul yang ia tuliskan cukup seksi. “Traffic Light”memuat tentang benda-benda yang sering dinikmati manusia di tingkat paling dasar: seks dan narkoba. Pada periode 80-90an, fenomena penyimpangan seks dan sosial sudah tampak mengkhawatirkan. Gelisah Cak Nun—yang mana juga mewakili kegelisahan kalangan ibu dan orang tua—terlihat diiringi dengan bagaimana menyikapi kemerosotan moral remaja.

Di sinilah artikel berjudul “Sedang Tuhan Pun Cemburu” terselip. Cak Nun gelisah, tak habis pikir ada orang yang sembarangan dalam mengekspresikan cinta karena beragam alasan, terutama desakan ekonomi. Sehingga kita saksikan orang-orang suami atau istri yang tega menjual seks pasangannya, sehingga ada suami yang rela melihat istrinya akting bercumbu dengan lelaki lain karena alasan profesionalisme, bahwa orang sudah tidak tahu malu lagi mengobral keperawanan, terlepas dari apa jenis kelaminnya. Lalu bagaimana kecemburuan Tuhan dalam hal ini? Bagaimana pula agar orang yang mengaku cinta pada Tuhan bisa meminimalisir kecemburuan Tuhan?

Cak nun juga panjang lebar menyinggung pendidikan pranikah, di mana kita diajak berpikir untuk memanusiakan diri, pun memanusiakan calon pasangan. Jika kita peduli, maka proses taaruf, atau pacaran, atau apapun namanya, seharusnya dipakai untuk pengenalan kepribadian. “Kalau kita pacaran lebih sebagai manusia (lebih menekankan dimensi kemanusiaannya) maka isi pacaran kita adalah pengenalan kualitatif mengenai seluk-beluk kepribadian yang diperlukan untuk kelak merawat cinta kasih berumah tangga. Kalau kita pacaran dengan menekankan diri sebagai lelaki dan perempuan, riset kepribadian tidak lagi nomor satu, karena didominasi oleh fokus nafsu seks,” katanya.

Di sisi lain, kita malu terhadap fakta bahwa kesadaran etika dan moral makin diobral. Tapi bukannya memikirkan solusi dan perbaikan, sebagian dari kita malah anteng memilih berjalan di jalan tol: fokus pada karier pribadi untuk memeroleh harta, pangkat dan materi, tidak peduli sekeliling. Padahal sebagai orang yang mengaku intelek, harusnya kita sadar banyak orang yang harusnya dilirik, dibantu, dipahamkan.

***

“Parkir” lebih banyak berkisah tentang peran dan fungsi para ulama sebagai agen pendidik umat. Tapi nyatanya, sebagian dari mereka tidak lebih dari para penghibur yang memamerkan ayat, menyuguhkan materi moral yang sepenggal-sepenggal, tidak utuh, bahkan tidak relevan dengan realita.

“Namun setidaknya para mubalig itu bisa mulai untuk membiasakan umat untuk berpikir bahwa perbuatan seseorang, kini tidak lagi ‘steril’ tidak terpenggal, tidak sepenuhnya bersumber dan menjadi tanggung jawab seseorang itu belaka, tetapi merupakan bagian dari suatu yang lebih besar, yang mengurung, menggiring, menggerakkan dan mencampakkan kita ke dalam pusaran dunia yang tidak islami—sementara kita tetap ucapkan syahadat, dengan makna yang rapuh dan picisan.”

***

Sampailah ke Bab favorit saya, yakni “Tikungan”. Ada apa di Tikungan? Di sini ada cerita-cerita pengalaman Cak Nun ketika melancong ke sejumlah negara seperti Filipina, Iowa AS, Rotterdam Belanda, Berlin Jerman. Di sana Cak Nun terlibat dalam Festival Sastra atau Lokakarya Tetater dan Budaya apalah-apalah. Detailnya acaranya tidak diceritakan karena dia tidak doyan pamer.

Rupanya Cak Nun bukan orang jago kandang. Ia luwes berinteraksi dengan orang-orang mancanegara itu. Dari cerita-ceritanya, ia memosisikan diri secara cerdas dan percaya diri di hadapan orang-orang itu, termasuk ketika menghadapi gali-gali amerika serta para homo. Haha. Caknun jenaka ketika ia menyengaja membawa silet jenis tertentu, untuk pertimbangan tertentu, untuk perlindungan diri dari sang homo.

***

Lantas buku ini ditutup dengan “Trayek”, lebih banyak bercerita tentang kebudayaan, posisi dia sebagai tokoh budayawan di Teater Dinasty, juga ada cerita tentang keterkaitan budaya dengan akhlak. Di artikel-artikel terakhir ini, kegelisahan Cak Nun terasa redam. Mungkin karena posisinya di akhir, perlulah ditutup dengan sajian yang menenangkan, yang membuat kita berpikir atas segala realitas orang kecil ini dengan kepala dingin.

***

Begitulah tulisan Cak Nun di periode 80-90an memperhatikan betul soal sisi lain kisah orang kecil yang kerap jadi obyekan orang-orang yang dianggap besar. Perhatian yang diceritakan secara detail itu sepertinya didapat dari persinggungan yang intens dan mesra dengan orang-orang tak beruntung itu. Membaca kumpulan artikelnya, saya seperti sedang didongengi Ki Dalang yang piawai bercerita, ke sana kemari, ada celetukan-celetukan yang sesekali menggelitik dan mencubut-cubit jiwa, terkadang mengejutkan.

Meski ada beberapa cerita yang terasa tidak nyambung, tak terbaca alur ceritanya, tapi semua itu termaafkan dengan kesan nano-nano. membuat berkontemplasi, membuat kita jadi bisa memaafkan diri sendiri. Meminjam istilah Kiayi Zezen Zaenal Abidin dari Sukabumi, kita ini hanyalah kaleng rombeng, barang-barang rusak yang pada dasarnya bersimbah dosa. Tapi dengan segala niat baik dan upaya, barang rombeng ini bisa didaur ulang, diperbaiki bahkan ada sedikit manfaatnya, sehingga Tuhan menjadi sayang, dan mempersilakan kita menjangkau-Nya. Ketidakmengertian saya ini karena keterbatasan pemikiran dan pengetahuan. Syukurlah tulisan Cak Nun juga tidak mengintimidasi, apalagi menuntut untuk dimengerti.

Akhir kata, ini bukan tulisan spoiler, bukan juga rangkuman buku. Sederhananya, saya sedang membuat jejak membaca, syukur-syukur dapat pembelajaran dari proses mereview ini, juga berkesempatan berbagi dengan kawan-kawan pembaca. Jadi, jangan hanya membaca reviewnya, mari-mari membaca buku sumbernya juga.

16122017

Satu respons untuk “Gado-Gado Gelisah Cak Nun (Review buku “Sedang Tuhan Pun Cemburu” karya Emha Ainun Nadjib)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s