Para Remaja Pondok Kumala

Dok: Kumala Lestari

Masih terkenang di pikiran saya, pertemuan pertama secara resmi dengan Para Remaja Pondok Kumala Lestari, Juli 2017 lalu. Pagi kala itu cukup cerah, bahkan panas. Maklum, musim kemarau belum benar-benar berakhir. Mereka duduk khidmat di bangkunya masing-masing sementara mata-mata itu tampak cemerlang, menatap penuh rasa ingin tahu, menunggu obrolan dimulai. Sementara saya masih mengunyah pengalaman baru berposisi sebagai guru di kelas yang istimewa ini, sembari mencari kata-kata terbaik untuk memulai.

Seperti adab kelas pada umumnya, mereka telah memberi salam, lalu saya pun menjawabnya segera dengan menyunggingkan senyum canggung. Saya masih memperhatikan mereka satu-persatu. Ada aroma muda yang begitu kuat, membuat saya jadi bersemangat. Meski baju mereka seragam, putih abu-abu, penampakan Para Remaja Pondok Kumala jelas beragam.

Ada yang bertubuh jangkung maupun sebaliknya, ada yang berkulit gelap, ada juga yang sawo matang. Yang jelas, percayalah, mereka semua tampan-tampan. Karena memang tidak ada murid cantik (perempuan) di sini 🙂 Mereka datang dari kawasan Indonesia yang berbeda-beda, dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda pula. Atas izin Allah, mereka akhirnya membuat keindahan baru di sini, pun di kelas ini, di hadapan saya. Aah… mereka benar-benar adik-adik yang lucu.

Sebelum suasana tambah “krik krik”, saya segera memenuhi harapan mereka, yakni memperkenalkan diri, memberi tahu sekilas soal asal usul dan mengapa saya bisa sampai ke sini. Saya kemudian gantian bertanya siapa mereka, asal usul mereka, cita-cita serta pengalaman mereka sehingga bisa menjadi santri di Kumala Lestari. Singkat cerita, pertemuan pertama berakhir dan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang berlangsung sepekan dua kali. Saya bertugas menemani mereka belajar bahasa Indonesia dan Inggris. Semoga mereka selalu semangat dan pantang berputus asa. Yang terpenting juga, semoga saya selalu semangat dan ikhlas menemani mereka.

Mengapa? Seperti kalian tahu, Pesantren Kumala Lestari itu sangatlah jauh dari rumah saya. Ia berada di kawasan pedalaman Cipanas-Cianjur Jawa Barat. Blok Nangrang, itulah nama kawasannya. Bangunan-bangunan yang berdiri di lembah yang berhektar-hektar luasnya ini memang mempesona, sebab didukung modal yang lumayan. Desain bangunan serba asri, kuat dan tertata rapi, juga ada taman-taman indah di sana-sini. Bukan hanya itu, ada pemandangan bukit-bukit hijau di sekeliling, kabut dingin yang menenangkan serta udara segar yang menyenangkan paru-paru. Sungguh cocok untuk mendamaikan hati.

Tapi yang jadi kendala adalah akses menuju tempat ini. Jauh, cukup sulit dan ongkosnya lumayan. Kecuali jika kamu punya kendaraan pribadi, mungkin akan lebih ringan biaya perjalanannya. Lalu, mengapa bisa mengambil pekerjaan di lokasi seperti ini? Mengapa mau-mau saja?

Jawabannya sederhana. Karena sudah kehendak-Nya saya harus berada di sini hari ini. Terhadap segala senang susah yang nantinya datang, ya dihadapi saja. Jangan terlalu banyak berfikir negatif. Percayakan semuanya kepada ilahi rabbi, maka kamu akan lapang hati menjalani segala yang diinginkannya. (Khusus untuk paragraf yang satu ini, mudah-mudahan menjadi pengingat dan penguat ketika saya merasa lelah di kemudian hari).

Tidak perlu waktu lama untuk akrab dengan Para Remaja Pondok Kumala. Ini bukan karena saya ahli berbasa-basi dan beramah-tamah. Sama sekali bukan. Ini disebabkan Para Remaja Pondok Kumala sendiri lah yang sikapnya begitu terbuka dan sopan. Bukan hanya itu, di benak mereka mungkin tersimpan rasa penasaran yang tinggi tentang dunia luar, bagaimana mereka akan menghadapinya, bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk menjangkau cita-cita.

Makanya bagi saya, mereka bukanlah santri biasa yang hanya sibuk mengaji dan bershalawat nabi, lalu bergerak tanpa henti mengikuti kegiatan pesantren sepanjang hari. Lebih jauh, mereka telah rela berpasrah diri ditempatkan di suatu area karantina. Ini bukan posisi yang mudah sebab usia yang belia pastinya menuntut rasa ingin tahu terhadap segala-galanya terpenuhi. Ini juga bukan pilihan gampang karena lingkungan pesantren serbaterbatas terhadap dunia luar. Keinginan kuat untuk bersekolah pastinya memberi mereka energi lebih untuk terus bertahan di sini.

Tapi yang perlu para remaja di pondok itu tahu, bahwa sesungguhnya telah berhasil membuat saya merasa iri. Hanya mereka saja yang punya pengalaman melewatkan masa muda dengan menjadi “ulat bulu” dan “kepompong”. Mereka belajar banyak hal tentang ilmu umum dan agama, mereka terkadang nakal dan dapat hukuman, mereka terkadang rindu kampung halaman, sembunyi-sembunyi menangis di kamar mandi, menghapal mufrodat dan ilmu faroid atau pelajaran lainnya, berpidato dan berdebat, bertengkar lalu berbaikan satu sama lain, sakit lalu kembali sehat …. mereka melakukan apa saja dengan baik di usia belia.

Proses yang telah dan sedang dilalui itu diibaratkan kegiatan bertapa dalam jangka waktu tertentu, agar ketika keluar nanti bisa menjelma kupu-kupu cantik. Mereka anak-anak pilihan dari ibu dermawan bernama Murni. Semangat berbagi itu semoga tertularkan kepada guru-guru baru, termasuk kepada saya. Semoga keberadaan kami dapat membantu mereka, Para Remaja Pondok Kumala, agar tak canggung menghadapi dunia kelak, agar mereka percaya diri menjangkau mimpi-mimpi mereka masing-masing, agar pula kami bisa terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Syukur-syukur bila sikap dan prestasi mereka sesuai dengan harapan orang tua serta agama. Semoga pula, mereka menjadi Kumala (kembang) yang lestari. Indah dan pandai berbagi.

Entah sampai kapan saya akan bersama-sama dengan mereka. Tapi di momen-momen langka ini, saya ingin mensyukurinya. 14112017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s