Kisah Dinasti Sastrodarsono Melintasi Ragam Zaman

(Review Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam)

Ketika kekuasaan Belanda di Tanah Air mulai tak stabil, rakyat berada di posisi serba dilematis. Ada tradisi yang harus diganti, pun kebudayaan serta pemikiran baru yang harus diterima mentah-mentah. Dalam situasi ini, orang-orang tua kaum priyayi Jawa harus pandai beradaptasi, sebab takdir keturunan mereka nyatanya tidak persis seperti yang mereka rancang.

***

Begitulah inti cerita yang saya tangkap dari novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Novel tersebut secara garis besar bercerita tentang dinasti priyayi guru Sastrodarsono, yang mengalami setidaknya empat zaman ekstrem tanah air. Zaman tersebut yakni masa kolonialisme Belanda, awal pergerakan kemerdekaan, kependudukan Jepang hingga pascamerdeka.

Keluarga Sastrodarsono sesungguhnya berlatar belakang petani biasa, yang kala itu dianggap rendahan. Sastro kemudian oleh keluarganya disekolahkan tinggi-tinggi, hingga akhirnya berhasil mengawali kariernya sebagai seorang Priyayi guru. Mental petani yang tertanam dalam keluarga harus ia ubah sedikit-sedikit. Pencapaiannya sebagai seorang priyayi harus diseimbangkan dengan gaya hidup ala Belanda, pergaulan dengan priyayi-priyayi yang setara, serta tentu saja menjadi pengabdi Kompeni paling setia.

Namun apa daya, perang dunia berkecamuk di luar sana, sedangkan Belanda yang tengah menjajah hindia belanda (Indonesia) menjadi kelompok yang sempat kalah. Mereka terusir dari tanah jawa dan digantikan oleh kependudukan militer Jepang yang bermanis-manis di awal, tapi nyatanya sama dengan Belanda, bahkan lebih menyebalkan. Sebagai contoh, Sastro yang kala itu mengajukan pensiun dari jabatannya, malah kena tempeleng salah seorang militer karena dianggap tidak mau membungkuk kepada kaisar di setiap upacara sekolah.

Selanjutnya, Sastro dan keluarga juga harus mengalami perlakuan kasar dari orang-orang yang mengaku para pejuang kemerdekaan. Mereka cenderung anti Belanda dan segala hal yang berkaitan dengan para penjajah. Makanya, kalangan priyayi yang notabene pegawai-pegawai resmi Kompeni pun menjadi sasaran pembantaian. Beruntung, keluarga Sastro menjadi salah satu yang selamat.

Namun kepelikan lainnya muncul sepanjang kehidupan ia dan istri beranak pinak. Di benak Sastro, priyayi memanglah seorang yang punya pangkat tinggi dan kehidupannya terjamin, namun pada hakikatnya harus menjadi yang terdepan dalam melayani rakyat. Pemikiran tersebut membuatnya menjadi pribadi yang ingin bangsanya berpemikiran maju, ia juga penyayang, terutama kepada orang-orang tak berpunya. Tapi ia juga selalu berhati-hati agar tak dituding sebagai pendukung para pejuang kemerdekaan. Bisa-bisa jabatannya melayang.

Sikap dan pemikiran tersebut berhasil membuat ia bertahan sebagai Priyayi seutuhnya, namun sayangnya semangat ke-priyayi-an itu tidak bisa sepenuhnya diturunkan kepada anak cucu. Ia harus menerima kenyataan bahwa keturunannya tidak lagi selalu “nurut” dan senang berbasa-basi seperti orang-orang di masanya. Keturunannya ia dapati cenderung to the point, menjadi manja, hidup seenaknya, berfoya-foya, masuk kelompok yang dianggap membahayakan posisi pemerintah, bahkan ada yang sampai hamil di luat nikah. Ini bukanlah karena salah didikan saja, tapi mungkin pergolakan politik, orang asing yang datang dan pergi, kekuasaan dan ideologi yang tak stabil membuat orang-orang kebingungan, begitu pula dengan para keturunannya. Mereka yang dinamis dan pandai beradaptasi lah yang kemungkinan berbahagia.

Di tengah ketidakberdayaannya akan takdir cucu-cucu nya, setidaknya Sastro harus merasa lega memiliki anak asuh bernama Wage, alias Lantip. Anak tersebut tampil sebagai pembela paling awal di keluarganya. Lantip, anak haram dari keponakan jauhnya itu tumbuh cerdas, peka, berprestasi, dan justru selalu membantu, kapan pun dan di mana pun keluarga Sastrodarsono didera masalah. Perubahan-perubahan itu begitu cepat, dan mereka yang mengatasnamakan dirinya sebagai Priyayi seharusnya terus setia melayani rakyat. Itulah yang didapati Sastro dari Lantip. Sebab keberadaan Lantip pula lah, semangat Sastro sebagai Priyayi yang Melayani tersampaikan kepada keluarga besarnya ketika ia tiada.

Umar Kayam bercerita dengan sangat detail, terutama dari segi deskripsi suasana. Ia berceloteh ke sana-kemari, dengan mengambil sudut pandang “saya” dari sejumlah tokoh di antaranya Sastrodarsono, Lantip, para Cucu serta Istri. Gaya penceritaan tersebut membuat cerita menjadi saling melengkapi, dari berbagai sudut pandang, tapi juga tetap tidak membingungkan. Tapi bagi mereka yang cepat bosan, siap-siap disuguhi dengan paragraf-paragraf yang super panjang. Maka dari itu, segeralah meningkatkan konsentrasi agar tidak kehilangan arah dalam mengikuti alur cerita yang lumayan panjang.

Sekian… ketika hujan deras di Ahad, 12112017

Satu respons untuk “Kisah Dinasti Sastrodarsono Melintasi Ragam Zaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s