Ketika Sejenak Tiada

20171023_124017-1[1]

Oleh Sonia Fitri

Dalam pertapaan selanjutnya, Kelana dibawa menuju suatu lembah yang jauh dari mana-mana. Kata Guru, hanya orang-orang terpilih dan mereka yang punya kesaktian di atas rata-rata yang bisa menjangkau tempat ini.

Memang benar adanya. Jalan menuju tempat ini adalah rimba yang sulit dan melelahkan. Banyak harimau mengintai sepanjang jalan. Langkah kaki juga perlu diperhatikan sebab kalajengking dan kelabang tak boleh terusik aktivitasnya. Belum lagi dengan rawa-rawa yang menghadang. Di dalamnya, ada buaya-buaya lapar yang bersembunyi di bawah air tenang. Untung saja ia ditemani Guru yang sakti. Ketika bahaya menyerang, Sang Guru dengan tongkat saktinya siaga menghalau.

Sesampainya di tujuan, Kelana memperhatikan sekitar. Tempat ini tampak mengagumkan, tapi juga diselubungi sunyi yang mencekam. Di atas tanah merah yang terhampar, terdapat sejumlah tempat peristirahatan sederhana, dipenuhi para pertapa dari berbagai penjuru dunia. Terkadang mereka saling menyapa, tapi kebanyakan mereka sibuk sendiri-sendiri dengan tapanya. Seperti lembah pada umumnya, sejauh mata memandang terdapat perbukitan hijau menantang. Tapi angin semilir dan udara segar cukup membuat tenang. “Di sinilah tempat terbaik untuk menguasai ilmu Sejenak Tiada,” kata Guru sambil terkekeh.

Ilmu ini memang terdengar aneh, tapi Kelana begitu tertarik untuk mempelajarinya. Alangkah asyiknya jika bisa menjadi tiada, sejenak, di tengah berisiknya dunia yang penuh tipu daya. Semua orang pada saat ini berlomba-lomba menjadi idola, mencari perhatian dengan segenap media yang tersedia. Orang-orang saat ini juga terlalu sibuk saling mengomentari dan mencaci, tapi anehnya tanpa nama dan suara. Mereka betah bermain-main dan menjadi pecundang di dunia maya. Mengerikan, bukan?!

Jika sejenak tiada, konsentrasi yang tinggi untuk menghasilkan jurus baru mungkin bisa ia capai. Jika sejenak tiada, ketenangkan batin akan terasa, sebab ada kedekatan yang nyata pada Sang Pencipta.

Tapi ada tantangan besar yang mesti dilawan, yakni rasa jemu. “Jika hatimu lemah, mungkin bisa mati bosan,” kata Guru ketika memberi pengarahan. Kelana kala itu tertawa. Ada-ada saja, mana bisa orang mati bosan?

Kelana lantas dibawa ke tempat yang disebut Rumah Tiga. Lalu Guru meninggalkannya sendirian.

Mengapa dinamai Rumah Tiga, ia pun tak begitu paham, pun tak terlalu penasaran. Yang jelas, tempat itu diselubungi gumpalan awan yang bisa dijangkau. Kelana dalam pertapaannya kerap iseng mencicipi rasanya yang ternyata manis seperti kembang gula. Tak heran jika di Rumah Tiga banyak semut berkeliaran. Awan Kembang Gula adalah sarang mereka. Tapi makhluk imut-imut itu terkadang bosan, lalu berkali-kali mencoba mencuri makanan milik Kelana.

Ada pula serangga-serangga aneh di Rumah Tiga. Ada belalang berkaki pincang, cangcorang berbadan lidi, laron bertopi petani serta ulat bulu bersepatu. Menyadari keberadaan mereka, Kelana pada awalnya merasa terganggu. Tapi kemudian Kelana sadar akan tingkah polahnya yang lucu, terutama ketika bersaing mencari makanan. Keberadaan mereka juga cukup baik untuk mengusir rasa bosan.

“Benar juga kata Guru,” pikir Kelana. Rasa bosan merupakan tantangan terberat yang mesti dihadapi. Ia bisa saja berteman baik dengan semut dan serangga di Rumah Tiga, tapi ia juga butuh orang yang bisa diajak bicara. Tapi hal itu tampak mustahil, sebab pertapa lainnya, kalangan yang paling memungkinkan untuk jadi teman berbincang-bincang, semuanya bungkam, sibuk dengan kegiatan meditasinya masing-masing. Sesekali ada yang menyapa, tapi itu hanya dilakukan oleh beberapa saja yang sedang bosan juga. Tapi kemudian mereka pergi lagi. Menjaga jarak aman lebih baik dari pada memancing kejadian yang tak diinginkan. Tapi karena itu pula, Kelana bisa saja mati dan tak diketahui, kecuali oleh semut dan serangga.

Beruntung, sampai saat ini Kelana masih bernyawa. Ia masih belum menyerah untuk bisa sejenak tiada. Dari proses pertapaan yang berlalu berhari-hari, ia mempelajari banyak hal. Belajar menjadi sejenak tiada sama dengan kamu mengikhlaskan diri untuk menghilang padahal sanggup mengada. Menjadi sejenak tiada juga membuat ia belajar untuk tidak terlalu menghabiskan waktu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain mengenai dirinya.

Sebagai gantinya, waktu yang banyak bisa dibuat untuk merapikan apa yang ada di dalam kepala, sambil memperbanyak wawasan serta berkarya. Ia juga dapat bonus, berupa belajar untuk tidak berlari dari masalah, tapi berdiam diri sambil introspeksi. Belajar meniada yang sejenak, Kelana berjanji untuk kembali mengada. Sebab ia ingin selalu punya kesempatan berbagi kebaikan kepada sesama.

Berjuanglah, Kelana. Sehingga kelak paripurna.

23102017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s