“Ditipu” Obat?

IMG-20171014-WA0001

Bermula dari saya badannya terganggu pada 4 Agustus 2016, di mana tulang-tulang pada linu dan badan lemas, ibu saya segera mengantarkan ke dokter, berharap dapat obat penyembuh yang manjur. Kata dokter, saya kecapekan. Memang iya sih. Seminggu sebelum sakit, saya seperti punya kekuatan super, pulang balik Cipanas-Bandung via umum dua balikan. Di perjalanan tersebut pun, saya bukannya diam dan istirahat, tapi berjalan juga mencari bahan untuk keperluan mengajar. Seterong banget pokonya mah, berujung pada si badan yang “protes”.

Sejumlah resep dan anjuran-anjuran disampaikan dokter, dan ibu segera belanja di apotek. Obat-obat itu tampak menyebalkan. Ukurannya beragam, bahkan ada yang sebesar kancing baju, berwarna warni dan—tentu saja—pahit. Katanya, saya harus bed rest, jangan dulu beraktivitas berat. Sepulang dari dokter, saya minum obat sesuai anjuran. Selang sehari, tring …! kondisi badan jadi lebih baik di siang hari. Rasa sakit dan linu perlahan pergi pagi-pagi. Saya tak mengeluh sakit ketika ada matahari, bisa nikmat makan dan bermalas-malasan, bercanda dan ngobrol santai dengan adik.

Tapi, sore dan malam hari, ketika matahari menyinari belahan dunia yang lain, si sakit malah datang lagi. Wow, rasa nyerinya berkali-kali lipat sebelum saya minum obat. Pastinya rasa sakit itu sejenak hilang karena ada efek bius, dopping, dalam obatnya. Sehingga sesungguhnya bukannya si sakit yang pergi dari tubuh, tapi badan saya ditipu, dibuat mati rasa dan tidak peka, sejenak.

Sebagai “anak baru”dalam penggunaan obat-obatan, saya cukup terperangah. Dari kecil saya memang didoktrin untuk tak mengandalkan obat ketika sakit. Selain berbiaya, penggunaan bahan tradisional seperti madu dan tetumbuhan obat lebih efektif dan tidak berisiko. Tapi lihatlah, begitu luar biasanya kerja dunia farmasi masa kini. Produk-produknya memberi solusi instan, untuk kemudian menumpuk rasa sakit di kemudian hari. Penipu dan beracun!

Pandangan tersebut kemudian membuat saya bandel. Empat hari di masa pengobatan, saya malah memaksakan diri berangkat ke pelosok Cipanas. Di sana ada kerjaan, tentunya. Ternyata eh ternyata tindakan saya itu membuat badan lebih protes lagi. Seminggu kemudian saya malah sakit lagi, dengan kondisi dan durasi sakit yang lebih parah dan lama. Dudududu…

Sakit berkelanjutan hingga dua bulan kemudian. Sakit apa? “Ketempelan Jin”, kata orang pintar. Tipes, kata sejumlah dokter. Ada air doa, ramuan obat serta tentunya lebih banyak butir-butir obat lainnya sebesar kancing baju yang diberikan. Hayati lelah, bahkan sempat bikin surat wasiat saking putus asanya. Saya pikir akan cacat, lumpuh dan segera meninggal. Aahh, dalam momen-momen keterpurukan, saya memang suka bersikap dramatis. Saya pikir sakit ini akan berlangsung selamanya, padahal hanya butuh sabar dan taubat agar hati damai, hingga kemudian menemui kesembuhan. Alhamdulillah.

Kejadian ini harusnya membuat saya mikir. Ini mungkin karena saya kurang berterima kasih dengan obat yang diminum di awal, menyebut mereka penipu, serta bersikap bandel atas anjuran dokter. Padahal obat-obat itu mungkin juga bekerja memulihkan, selain menipu. Entahlah, haha. Yang jelas momen sakit kala itu merupakan penyediaan waktu dari Allah agar saya bertaubat dari sikap kurang syukur dan banyak dosa lainnya, pun dapat melatih diri agar selalu mengingat Dia, selalu dan selamanya.

*ditulis dalam kondisi sehat walafiat pada 23102017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s