Pasrah*

Oleh Sonia Fitri

Kapan datangnya Nona Gerimis?
Adakah di pagi hari sembari menyapa embun?
Siang hari menggantikan terik?
Di senja syahdu?
Atau mengendap-endap saat malam?

Kuberi tahu, ia hanya menerima perintah
Kapannya itu tak tentu
Seperti tak pasti pula kapan ia menjadi tetap gerimis
Atau berkumpul menjadi hujan
Kapan pula ia harus berhenti
Atau terus mengguyur sepanjang hari

Yang menyedihkan jika sama sekali ia tidak datang berbulan-bulan
Menjadi sosok yang dirindukan
Menyedihkan pula jika pasca dirindukan, lalu ia dapat perintah untuk datang
Tapi sebagian orang menyerapah karena dianggap menjadi sebab bencana
Tentu sebagian besar lainnya mengumandangkan syukur
Juga cacing tanah yang menari-nari kebasahan di dalam tanah
Anak-anak yang tersenyum lebar mandi diguyur langit
Pun tetumbuhan yang asyik bergoyang dipermainkan tetes hujan

“Mengapa terlalu banyak ragam respons, tak pasrah saja?” tanyamu terheran-heran di balik jendela kamarku
Hening sejenak.
Sebab sebagai manusia, akulah termasuk golongan yang tengah belajar pasrah
Gerimis kemudian maklum, lalu kita berdua saling melempar senyum kedamaian

Entah bagaimana orang-orang
Bagiku, kepasrahanmu atas perintah agung itu adalah pengajaran
Kepasrahan kepada yang agung selalu mendamaikan jiwa
Seperti gerimis dan hujan
Membuat harum di tanah
Wangi di hujan
Adil diguyur berkah

*ditulis ketika hujan deras perdana mengguyur kampung kami 20092017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s