Dialog Indonesia-Jepang dalam Semangat Perdamaian

Oleh Sonia Fitri
IMG-20170604-WA0002
Kampanye persatuan dan perdamaian tampaknya tengah kembali diramaikan pemerintah dan media, guna mengantisipasi ancaman perpecahan akibat perbedaan SARA yang baranya masih menyala-nyala. Sejumlah poster digelar lewat spanduk di jalanan utama maupun di berbagai media sosial maya. Sejumlah tokoh serempak membicarakannya kembali dalam mimbar, seminar, TV dan status facebook. Pun, sejumlah anak remaja yang tampaknya punya semangat serupa pemerintah, dipopulerkan hingga diundang ke istana negara.

Semoga kampanye tersebut bukan insidental semata. Sebab pesan perdamaian dalam perbedaan harus terus digelorakan dari masa ke masa, tanpa menunggu letupan. Salah satu contoh ideal tentang penjagaan akan perdamaian dikemukakan dua tokoh penting yakni Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Indonesia, berdialog dengan Daisaku Ikeda dari negeri Sakura. Dialog tersebut dibukukan dengan judul “Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian”, diterbitkan oleh Gramedia pada 2010.

Siapakah Gus Dur dan Ikeda? Gus Dur merupakan presiden keempat RI yang bernama lengkapnya Abdurrahman Ad Dakhil (4 Agustus 1940-30 Desember 2009). Ia merupakan seorang kiayi, ilmuan, penulis dan juga guru bangsa. Sedangkan Ikeda yang lahir di Tokyo pada 1928 adalah Presiden Soka Gakkai Internasional, suatu lembaga pendidikan dan kemanusiaan yang sangat diperhitungkan di Jepang. Jadi, mari sejenak menyimak, bagaimana mereka mencontohkan salah satu cara terbaik menjaga keakraban antarbangsa.

Obrolan mereka seperti curhat, dari hati ke hati, saling memahami dan mengapresiasi, membicarakan masa kecil, kegemaran, serta kehidupan rumah tangga masing-masing. Obrolan santai itu memuat isu-isu penting seperti misi semua agama yang sepakat mendukung perdamaian serta perjuangan dan pencarian menuju perdamaian di masa perang dunia–seperti kita ketahui, sempat terjadi hubungan tidak baik Indonesia-Jepang karena praktik penjajahan.

Pembahasan selanjutnya yakni tantangan menuju abad hak azasi manusia, persahabatan antarbudaya sebagai sumber kreativitas, belajar toleransi dari sejarah Islam dan Budha, pendidikan sebagai pilar emas masa depan dan ditutup dengan agenda pembukaan zaman baru, untuk kelanggengan toleransi, pergerakan masyarakat, wanita serta dialog global.

Sub: Perdamaian Mengantisipasi Kesulitan

Ketika semua orang telah cerdas mengantisipasi kesulitan, terutama kesulitan dalam menghadapi diri mereka sendiri, itu artinya mereka telah “berdamai” dengan keadaan. Gus Dur berkaitan dengan hal ini mengutarakan pernyataan tegas penuh percaya diri sebagai berikut: “Terus terang saja, sebenarnya saya tidak pernah berpikir bahwa kesulitan itu bukan hal yang sulit bagi saya. Saat saya mengalami kehilangan sebagian penglihatan, dan mengalami banyak penyakit berat setahun sebelum pelantikan sebagai presiden pun, saya pikir yang utama adalah saya harus menerima nasib yang telah diberikan Allah kepada saya.” Gus Dur.

Ikeda menjawab, Presiden Pertama Soka Gakkai, Tsunesaburo Makiguchi, pun memiliki pandangan senada. “Bahwa jika kita mengalami jalan buntu, kembalilah ke titik tolak bernama perdamaian. Agama ada untuk kebahagiaan manusia. Maka, meskipun berbeda-beda keyakinan, semuanya harus bisa bekerja sama untuk kepentingan perdamaian bagi seluruh umat manusia,” kata Makiguchi sebagaimana dikutip Ikeda.

Makiguchi, lanjut Ikeda, dahulu pun pernah merasakan kesulitan di masa perang. Ketika militer Jepang menindas bangsa lain, termasuk Indonesia, warga sipil Jepang pun bernasib sama. Mereka dipaksa berperang demi memenuhi ambisi rezim. Sebab tidak sepakat akan gaya kolonialisme militer, Makiguchi disiksa, dipenjara dan diinterogasi oleh fasisme kemiliteran Jepang. Ia menyatakan ketidaksetujuan lewat buku-buku dan pernyataan.

Perjuangan menghadapi kesulitan dengan jalan perdamaian terus dilakukan sehingga saat ini Indonesia dan Jepang telah melewati masa pemulihan jalinan hubungan diplomatik yang ke 57 tahun. Hasilnya cukup baik, misalnya pada 2008, Kementerian Pertahanan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang telah mengumumkan hasil survei tingkat kepuasan perjalanan luar negeri bagi orang Jepang. Menurut hasil jajak pendapat tersebut diketahui bahwa negara Indonesia menduduki peringkat pertama.

Sub: Apresiasi Terhadap Orang Gunung dan Pesisir

Perdamaian yang konsisten di tengah perbedaan menimbulkan keindahan yang nyata. Seindah bunga sakura yang sangat identik dengan Jepang, karena merupakan bunga kenegaraan, pun sesuci bunga kenegaraan Indonesia bernama melati yang juga merupakan bunganya para wali. Mekarnya perdamaian juga membuat dunia kreatif berkembang. Keterharuan perasaan religius membuka mata kreativitas manusia. Lahir dalam bentuk puisi, lukisan, musik.

Ikeda mengapresiasi Indonesia yang keren dalam mengurus alam. Ia mengutip perkataan Sejarawan Arnold Tonybee berikut ini: “Saya menemukan diri sekali lagi di sebuah dunia di mana manusia menyanjung-nyanjung alam dengan kasih sayang dan kerja keras yang tak habis-habisnya. Saya menikmati pemandangan sawah-sawah bertingkat dengan awan bergegas lari dan tercermin gambarnya di permukaan air. Di negeri ini air mengalir dengan penuh semangat dan hidup.”

Gus Dur adalah orang pegunungan yang melewati masa kecilnya bermain di sawah dan sungai, sementara Ikeda tumbuh di pesisir pantai yang ombaknya berkilauan. “Dari pengalaman masa kecil ini, saya jadi selalu teringat jerih payah orang-orang yang bekerja di bidang perikanan dan pertanian. Karena profesi itu harus dilakukan terus-menerus, dengan kekuatan dan kesabaran serta lurus dan tulus. Dengan jerih payah yang besar itu, besar juga kegembiraan dan kebanggaan yang diperoleh melalui pembinaan kekuatan jiwa melalui alam,” ujar Ikeda.

Sepanjang obrolan kakek-kakek tersebut, kisah tentang persatuan selalu dikumandangkan. Di antaranya, pada zaman dulu, Jepang mendapat kelimpahan hasil pertanian dari Indonesia. Menurut teori, pada sekitar abad ke-17 kentang dibawa ke Jepang dari nusantara. Ketika itu, warga Jepang tengah mengalami kesulitan pangan dan kelaparan karena paceklik. Kentang dalam bahasa Jepang saat ini adalah Jagaimo. Kata ini berasal dari Jakarta No Imo yang berarti ubi dari Jakarta. Dari nama jagaimo itu terkandung rasa ucapan terima kasih kepada Indonesia.

Termasuk asal mula benih padi di Jepang. Peneliti genetika mengungkapkan, nama benih tersebut yakni Japonica yang diperkirakan berasal dari benih padi yang tumbuh di Indonesia dan negara lainnya.

Ada juga cerita spoiler film berjudul “Mas Endang” yang terinspirasi dari kisah nyata. Ini kisah tentang Endang Arifin pemuda Indonesia yang meninggal dunia karena menyelamatkan seorang pelajar SMP Jepang yang hampir tenggelam di sebuah pantai di Prefektur Miyazaki pada musim panas 2007 lalu. Endang datang ke Jepang sebagai peserta magang bidang perikanan dari Indonesia. Ia menyelamatkan pelajar tersebut, tapi nyawanya harus melayang karena jasadnya terseret arus laut. Film ini diputar di 40 tempat di Jepang dan Indonesia.

Masih banyak lagi cerita dialog peradaban yang abadi dalam buku ini. Alangkah lebih baik lagi jika Tuan Puan membaca bukunya langsung, agar semangat persatuan dan perdamaian yang disampaikan lebih mengena. Selamat membaca!

12062017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s