Menanti Sakura Mekar di Hirado (Review Buku Sakura Jayakarta-nya Untung Wahono)

Review Buku Sakura Jayakarta karya Untung Wahono
20170601_153256
Tiga abad sebelum memproklamasikan kemerdekaannya, Indonesia sudah kedatangan banyak tamu. Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris. Mungkin pada awalnya para tamu itu bersikap manis: hendak berdagang dan membuka relasi di perairan. Tapi kemudian para tamu itu silau dengan pesona nusantara yang menawan. Indonesia punya rempah makmur, pun tanah subur. Sebagian dari mereka ingin menjamah dan memiliki seutuhnya, tak peduli akan keberadaan tuan rumah.

Wira Kusuma, pengawal Pangeran Adipati Jayakarta menjadi saksi bagaimana hasrat menguasai paling dominan dimiliki Belanda. Perlahan tapi pasti, serupa parasit, Belanda membangun sistem monopoli perdagangan dalam organisasi bernama VOC. Bangsa kulit putih itu bahkan berhasil melakukan politik adu domba. Adipati Jayakarta diasingkan dan Wira Kusuma diperintah untuk bekerja di atas kapal Belanda bernama De Vosje, di bawah pimpinan Kapten Gerritsz. Petualangan bersama De Vosje pun dimulai. Menjadi kisah yang terangkai dalam novel fiksi bertajuk “Sakura Jayakarta” karya Untung Wahono.

De Vosje membawa Kapten Gerritsz dalam perjalanan dagang, sekaligus mengantarkan Wira berpetualang hingga ke negeri Sakura. Pertama kali ia menjejakkan kaki di Pulau Hirado, Jepang, tepatnya ke tempat markas dagang kompeni Belanda di sana. Hirado bukanlah tempat strategis bagi warga Jepang. Pulau ini jaraknya jauh dari Osaka maupun Edo (dua kota besar di Jepang). Sebagai perbandingan, perjalanan dari Hirado ke Osaka kala itu makan waktu sebulan, sedangkan perjalanan darat dari Hirado ke Edo sekitar dua bulan.

Shogun yang merupakan penguasa daerah yang diakui Kaisar, cerdas menampatkan pusat bisnis bagi bangsa pendatang agar jauh dari pusat pemerintahan. Tujuannya agar tidak ada celah bagi segala praktik penjajahan oleh bangsa asing. Sementara itu, penguasa utama di Jepang sejak tiga abad yang lalu dipimpin oleh kaisar yang merupakan keturunan Dewa Matahari. Gaya kepemimpinan yang terpusat ini menjadi faktor lainnya, mengapa Jepang hingga kini tercatat dalam sejarah menjadi bangsa yang tidak pernah dijajah oleh bangsa mana pun.

Kembali kepada kisah Wira, sesampainya di Hirado, ia yang merupakan juru masak kapal hanya bisa menunggu hingga transaksi dagang majikannya selesai. Sembari mengisi waktu, ia mengamati sekitar dan berbaur dengan penduduk setempat. Didapatinya sejumlah “Ronin” yang alihprofesi menjadi petani atau pengusaha. Ronin adalah samurai yang sudah tidak memiliki Tuan karena majikannya sudah dikalahkan oleh penguasa baru.

Ia juga bertemu dengan Akio, seorang shinobi alias ninja rahasia yang sedang menyelidiki suatu praktik pengkhianatan dan pembunuhan di kelompoknya sendiri. Keduanya akhirnya menjalin persahabatan dan bertukar cerita tentang budaya dan kisah perniagaan di masing-masing negeri.

Wira bahkan beruntung karena berkesempatan melewatkan momen “Hanami” yakni bersama-sama memandang Bunga Sakura ketika musim semi tiba. Bagi rakyat Jepang, Hanami merupakan momen yang ditunggu-tunggu dan sayang untuk dilewatkan, karena momen tersebut hanya berlangsung dua pekan saja. Menurut kepercayaan, orang yang menyaksikan Hanami akan memeroleh keberuntungan.

Dari kisah persahabatan Wira dan Akio dalam “Sakura Jayakarta”, kita dapat mengikuti perjalanan sejarah Indonesia di masa pra merdeka dengan menyenangkan. Di dalamnya juga tersimpan pesan berharga tentang besarnya peluang persahabatan, bahkan di masa-masa sulit sekalipun. Selamat membaca.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s