Segurat untuk Strikam

20170423_164847

Semenjak kecil kita diajarkan soal teori-teori hidup yang ideal. Harus banyak bersyukur dan sabar menyambut segala takdir yang ditetapkan. Keluarga dan lingkungan memperkuatnya dengan pengetahuan agama serta serangkaian doa. Di antara hari-hari penerimaan, ada harapan, doa, serta usaha, agar hati selalu bahagia. Siapa lagi tempat bergantung kecuali pada-Nya. Kita semua tahu itu, sepakat akan itu.

Semenjak kecil, kita juga disadarkan tentang keberadaan orang-orang di sekitar. Manusia begitu tak berdaya sehingga butuh banyak pertolongan dari manusia lainnya. Satu sama lain saling memperhatikan dan menjaga. Hingga jadilah kita punya orang-orang yang disebut Keluarga, Saudara, Teman, Sahabat. Kita semua mensyukuri itu.

Kata yang saya sebut terakhir, Sahabat, bisa terjalin dengan banyak jalan. Bermula orang asing, lalu dipertemukan dengan banyak alasan. Misalnya karena berada di tempat yang sama, atau memiliki kepentingan, nasib, ketertarikan, dan lain-lain hal–yang sama. Kita semua tahu, kesamaan itu diiringi campur tangan Tuhan yang Maha Perencana.

Rencana Dia menggiring kita saling mengenal, punya waktu merangkai ragam cerita, melewatkan pengalaman-pengalaman masa muda, menyombongkan diri bersama-sama, berselisih lalu berdamai sambil bernyanyi, bercanda atau saling membentak. Makan dan jajan atau sekadar menyapa angin dingin di bawah pohon rindang, SUAKA.

20170423_165825

20170423_165847

Hingga kemudian masa-masa kebersamaan itu berlalu lantas kita menempuh jalan masing masing. Melanjutkan hidup. Ane, Kiki, Ratih dan Ani bekerja, Sonia bertapa, Sopi, Ami dan Teh Ulfah berumah tangga. Lalu kita bersikeras untuk tetap saling menyapa, meski tetap dibarengi saling pengertian bahwa kebersamaan di masa lalu tidak akan bisa dipertahankan.

Di antara kegiatan saling sapa, ada banyak kabar kejutan yang diterima. Kabar-kabar tersebut diiringi doa dan harapan dari para penerima. Tapi tulisan ini berfokus pada kabar duka dan penyambutannya. Ada Teh Kiki yang pernah berkabar kehilangan Ayah tercinta, Sopi sempat bercerita tentang perjuangannya merintis rumah tangga, Yane yang Ayahnya sakit-sakitan, Ratih yang orang tuanya terkena musibah kebakaran, Teh Ulfah yang kehilangan janinnya, Ani yang bersedih akan hubungan interaksi kedua orangtuanya. Kesedihan itu pernah terasa, semoga terlewati dengan elegan.

Lalu kabar terakhir terasa makin muram karena member baru Strikam, bayi tampan yang lahir dari rahim mulia ibu Ami, pergi lebih cepat ke sisi Tuhan. Kita semua tahu bahwa idealnya kepergian Dia harus diterima dengan sikap yang disebut “sabar dan ikhlas”. Sebab seperti saya singgung di awal, semenjak kecil kita diajarkan soal teori-teori hidup yang ideal. Harus banyak bersyukur dan sabar menyambut segala takdir yang ditetapkan.

Tapi Dia pun tahu, pada momen kepergiannya, suasana Strikam jadi biru. Ada rasa sakit ketika sang bayi pergi ketika semua member belum sempat melihatnya tertawa, bahkan belum sempat memandang dan memeluk dia dan si ibu secara langsung. Sakit, ketika kemudian kabar yang datang secara mendadak, bahwa sang bayi sudah keburu dipeluk Tuhan. Bahkan ketika pertemuan menemui sang Ibu yang ditinggalkan telah direncanakan, ternyata pada akhirnya berujung kegagalan. Biarlah sedih ini dirasakan dulu. Kami janji tidak akan berlama-lama dalam kesedihan. Kami terima kesedihan ini. Kami janji akan segera mengikhlaskan kesedihan ini.

Ini karena saya yang terlalu terbawa perasaan, jadilah catatan ini dibuat. Saat ini sedang lelah menyadari begitu mahalnya harga pertemuan dan kebersamaan. Bahkan untuk sekadar menyampaikan sekotak seblak dan roti unyil pun tidak kesampaian. Catatan ini tidak bisa mewakili kebersamaan yang dicita-citakan, pun tiada mengobati sakit dan sedih yang terasa. Hanya bisa berucap, “besok-besok”, “lain waktu”, jika Tuhan merestui, kita pasti bertemu lagi.

Akhir kata, terima kasih sudah sudi berbagi segala perasaan di sini, meski tak ada sama sekali penawar rasa sakit yang kami punya. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk berkeluh kesah, meski tak banyak pengorbanan yang kami lakukan untuk sekadar memberi pelukan. Terima kasih karena membuat kami merasa berguna menjadi orang-orang yang disebut “sahabat” dengan berbagi cerita meski hanya di grup maya. Maaf saat ini baru bisa mendoakan dari kejauhan. Keluarga besar Strikam bangga punya kalian.

Bandung Barat, 20022017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s