Pos

Jelang Ashar, matahari belum berniat pulang bersama terik yang memancar. Aku masih di jalanan yang lengang, mengendarai sepeda motor oranye bersama sepucuk surat beramplop biru langit yang terselip di saku jaket. Seseorang menitipkannya untuk disampaikan segera. Menyoal isi surat maupun siapa pengirimnya, aku tidak terlalu peduli. Yang menjadi fokus utamaku adalah si penerima surat, yang alamat rumahnya sudah sangat aku hapal, yang pertemuan dengannya selalu aku nanti-nantikan. Mengantarkan surat untuknya berhasil membuatku sanggup mengabaikan rasa lelah dan dahaga setelah seharian mengarungi jalanan.

Tak butuh waktu lama, aku telah tiba di depan pagar bambu depan rumahnya. Aku sengaja mematikan mesin sepeda motor, memilih menjangkau rumahnya dengan mengendap-endap. Agar tak segera ia menyadari kedatanganku, agar bisa lebih lama aku mengamatinya dari kejauhan. Seperti yang telah diprediksi, aku mendapatinya tengah sibuk berkebun di halaman rumah. Di hadapannya tidak ada bunga-bunga cantik. Hanya sejumlah pot tanaman obat dan bumbu masakan seperti cabai, seledri, bawang dan entah ada apa lagi di sebelah sana.

Tangannya gesit berbalut sarung tangan yang kotor. Bau pupuk kandang yang sedang diolahnya tak membuatku jijik, malah berkeinginan berdekatan untuk sekadar membawakan minuman. Tampaknya ia sangat kehausan. Tapi apalah daya, pagar bambu itu mengingatkanku untuk tak melampaui batas. Memandanginya dari kejauhan cukup menjadi semacam pelepas lelah di akhir perjalanan tugas hari ini. Aku harap ia memaafkan kelakuan lancangku yang memanfaatkan keberadaannya secara sepihak, secara diam-diam. Terik. Tapi memandanginya membuat hati teduh.

Ahli astronomi dan jajaran peneliti BMKG akhir-akhir ini menguraikan soal anomali pergerakan matahari. Ilmuan ahli bumi memaparkan soal gejala perubahan iklim dan pengaruh buruk ke penduduk bumi. Musim tanam petani jadi tak menentu, kekurangan air bersih di sejumlah wilayah, kebakaran hutan melanda disusul kabut asap yang menyesakkan dada. Tapi bisa jadi mereka hanya pengamat yang sok tahu soal pergerakan fisik sang bola panas raksasa. Terik. Tapi memandanginya membuatku tak ingin berprasangka buruk pada mentari.

Jika terjadi kekacauan di ekologi, maka itu semua sebagai pengingat kita yang kerap lupa bersyukur akan kelimpahan air. Biarlah terik menjadi tampak gagah sambil bertolak pinggang sejenak. Karenanya, proses penguapan sumber air yang tergenang di bumi berlangsung perlahan, menjadi bahan baku awan yang meneduhkan. Kelak menjadi hujan. Panas juga membuat ibu-ibu penjaja jasa laundry rumahan tersenyum sebab cucian cepat kering. Tukang tambak garam dan ikan asin juga puas karena proses produksi tersenyum. Terik. Tapi memandanginya membuatku merasa dipayungi awan sejuk.

Matahari akan selalu kubela, sebab ia yang senantiasa setia menemani perjalananku bekerja sebagai pengantar surat dan paket barang ke alamat yang beragam. Matahari juga akan selalu kubela, sebab sinarnya membuat wajah si gadis penerima surat itu menjadi lebih jelas dan kemerah-merahan.

“Surat dari siapa, Teh, kalau boleh tau?” Malu-malu aku bertanya padanya pekan lalu. “Teh” adalah kepanjangan dari “Teteh”, merupakan panggilan untuk perempuan di masyarakat sunda. Keberanianku baru terkumpul setelah mengantarkan surat yang kedua puluh delapan setiap pekan.

“Dari salah seorang sahabat di seberang pulau,” katanya singkat.

“Kenapa tidak pakai telepon atau komunikasi via media sosial, Teh, kenapa harus pakai surat, jadi harus menunggu seminggu sekali untuk saling berbalas pesan,” aku makin penasaran.

“Biar romantis, kayak orang-orang zaman dulu itu loh, Pak, saling berbalas surat,” jawabnya sambil tersenyum.

Ah, kenapa dia panggil aku “Pak”. Apakah aku tampak sudah bapak-bapak? Pasti itu hanya kata sapaan saja, sebagai penghormatan.

“Terima kasih, Pak, sudah jadi jalan komunikasi kami,” katanya lagi.

Dari nada bicaranya kala itu, ia mengisyaratkan agar aku segera pulang dan beristirahat. Mungkin ketika itu ia juga risih berbicara dengan orang asing yang tiba-tiba bertanya tanpa memperkenalkan diri sebelumnya. Komunikasi singkat dengannya pekan lalu selalu terekam dalam ingatan, menjadi kenangan bahagia yang tidak ingin aku buang.

Di tengah lamunan, matahari mulai mengalah, mempersilakan awan sejuk datang. Menyoal kegemarannya surat-menyurat, aku mulai menebak-nebak bagaimana ia dan kepribadiannya. Gadis itu tampaknya senang mengapresiasi proses, ketika semua orang menginginkan gaya komunikasi serbainstan. Dari pada membeli pulsa untuk membeli paket data internet maupun telepon, ia lebih memilih cara konvensional. Ia sudi repot-repot menulis surat, berangkat ke kantor pos dan menunggu kedatanganku setiap pekan.

Ia mungkin tak sudi menjadi seperti orang-orang yang kehilangan keterampilan bicara. Orang-orang saat lebih senang mewakilkan seni berkomunikasi dengan kecanggihan teknologi. Alhasil, kebanyakan orang terpana, tak sadar telah lumpuh. Orang-orang kebanyakan menjadi tidak sabaran, banyak berprasangka, mudah terprofokasi. Mereka bisa jadi merasa pintar dan tahu banyak hal. Padahal kenyataannya, mereka hanya tidak tahan menerima serbuan informasi yang berseliweran sehingga menjadi bungkuk dan gila.

***

Tik tik tik…
Tiba-tiba gerimis turun dan membuat lamunanku buyar. Gerimis juga membuat sang gadis beranjak dari halaman, dan menyadari keberadaanku di luar pagar.

“Bapak, mau antar surat, ya?”

“Iya, Teh,” jawabku malu-malu, merasa tertangkap basah. Aku lantas segera mengeluarkan surat beramplop biru dari saku, dan memberikan kepadanya.

“Terima kasih,” katanya setelah menerima surat itu. Lalu ia menyuruhku segera pulang sebelum hujan semakin deras. Tapi sebelumnya ada hal yang membuat hatiku berbunga-bunga. Ia tiba-tiba bertanya.

“Namanya siapa? Biar saya tidak panggil ‘Bapak’ terus?” Ia bertanya ketika aku akan pergi. Segera, dengan bangga aku memperkenalkan diri. Namaku Ismail Budiman, Pak Pos tertampan seantero metropolitan. Dan aku bukan Sawardi, si tokoh fiksi yang diada-adakan sebagai tukang pengantar surat yang ngeceng-in Kartini.

“Sampai ketemu minggu depan,” tuturnya sembari melambaikan tangan dan menghujaniku dengan senyum paling manis sedunia.

25122016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s