Kakek Kalend Osen

Cukup peka kah kamu dengan beragam keajaiban yang terpapar di muka bumi? Kamu takjub dengan orang-orang cerdas nan berkharisma. Kamu juga mengapresiasi sejumlah pengabdian dari orang-orang sehingga mampu mengubah banyak hal di sekitarnya. Mana keajaibanmu?

***

Aula besar yang terletak di area belakang Basic English Course (BEC) tampak lengang. Seorang kakek tampak sibuk di pojokan dengan membawa kayu panjang. Kami tak berani menebak-nebak apa yang tengah ia lakukan. Hanya menunggu di kejauhan, hingga Sang Kakek menyadari keberadaan kami. Aku perhatikan, mata Kelana fokus memperhatikan laku Sang Kakek, sembari perlahan pipinya mulai merona. Tangannya yang sedari tadi kugenggam jadi dingin dan gemetar. Mungkin grogi sebab ada bahagia yang menyelusup tak terkendali. Kelana memang selalu lebay untuk urusan macam begini. Apalagi ia telah menantikan pertemuan ini sejak pertama kali datang ke Kampung Inggris Pare Kediri, Jawa Timur.

Beberapa detik kemudian, daun-daun kering yang sedari tadi ribut bercanda bersama angin senja di Jalan Anyelir mendadak diam. Mereka ingin mendengarkan detak jantung Kelana yang mulai berdegup lebih cepat, lalu menjadikan degup jantung itu sebagai irama untuk menari-nari hampa. Di sisi lain, kakek tua itu mulai mendekat dan tersenyum menyambut. Sang Kakek pasti telah dipinjami hangatnya sinar mentari, sehingga senyum itu jadi hangat kala dipandang.

Namanya Kakek Kalend Osen. Dialah kakek yang terkenal se-antero kampung karena merupakan salah satu perintis berdirinya Kawasan Wisata Edukasi bernama Kampung Inggris Pare Kediri. Artikel tentangnya bertebaran di internet, diceritakan pula oleh penduduk sekitar Pare. Maka dari itu, maksud kedatangan Kelana, saya dan Ela, sahabatnya, bukan untuk mewawancara ulang dan membuat profil. Informasi umum tentangnya bisa kami dapatkan secara cuma-cuma via media massa. Maksud kedatangan kami ialah berterima kasih kepada Kakek Osen dalam sepucuk catatan sederhana. Kami juga tak mau kehilangan momen eksklusif bersama Kakek Osen.

“What are you doing here?” Kakek Osen bertanya setelah kami mengucapkan salam, memperkenalkan diri dan mencium tangannya.

“I have a duty from my teacher to report a note to you,” kata Kelana berbohong. Maaf. Ia hanya berpikir bahwa itu adalah satu-satunya alasan tercepat untuk mewajarkan pertemuan yang tanpa prolog tersebut. Sekali lagi, maaf.

Kakek Osen mengangguk dan mengajak kami berbincang di tepi podium yang berdiri kesepian di depan aula. Kelana tak mau buang-buang waktu. Ia segera memulai membaca note. Kakek Osen tampak berkonsentrasi mendengarkan. Di usianya yang saat ini menginjak 71 tahun, ia masih tampak seperti orang yang siap ikut lomba, cerdas dan cermat. Fisiknya pun tak payah, seragam dengan kondisi jiwanya yang sehat. Setelah pembacaan catatan selesai, Kakek Osen meminta Kelana membacakan ulang catatannya untuk mengedit beberapa sisi penulisan yang keliru. Pembacaan catatan diakhiri dengan pemberian tanda tangan dari Kakek Osen. Kelana tampak sangat bangga sehingga ranting-ranting pohon cemburu.

Berikut kutipan catatannya:

***
The Honorable, Mr Kalend Osen, Pioneer of Kampung Inggris Pare Kediri.

I have heard a lot of thing about your famous name for a long time. Many stories about you spread from digital article in internet. I have read some of them. The native people here always talk about you too. All of the stories is very inspired. Suddenly, I am getting curious and really want to meet you directly to say the important thing. I always wait this meaningfull moment. So, thanks for your time.

Before I mention my main purpose, I want you to know that I like writing very much. I like to share anything with my note include about my feeling to certain people. I don’t want to share rubbish, of course. I want to increase my quality day by day so that I can share something useful to the other people with text form.

I come to you not only because you are smart and famous. I just want to say thanks very much for what you have done. Thanks for being started this environment in Pare. Because of you, with God permission, many people can come here to study, prepare to be the better person, dare to rrach their dream, some of them get a soulmate, and so on. Thanks too, for helping people here to increase their quality and academic. Such a miracle for me.

Probably you don’t need it. You don’t need me to say thanks like this because you are very wise and low profile. I know that you don’t want to break your heart with asking appreciation from the other people. So I make sure that this appreciation is for our God, Allah Swt, who gives me permission to say thanks to you. God selected you to make a change in this place and you accepted God’s duty very well untill year by year. Untill now.

It is a special day for me. So, Sir, I hope you always keep smart and health. Pray for us to have a spirit like you. “Spirit of Sharing Everything”.

Pare, Kediri, 06112016

20161108_055724

***

Kakek Osen lantas menanyakan lagi nama lengkap kami, daerah asal kami, juga siapa guru kami di sini. Lantas dia mengawali perbincangan dengan meminta kami untuk berani berbagi, dimulai dari berani untuk tidak bergantung pada orang lain. Cerita berlanjut ke kisah masa mudanya dulu sehingga keajaiban tersebut dimulai dan bertahan hingga kini.

Berbagi, kata Kakek, membutuhkan keberanian. Kamu mula-mula harus berani belajar dan mendatangi sumber ilmu tanpa banyak berpikir soal sokongan materi dari siapapun. Kala itu guru mulia yang memberkahinya bernama Ustad Yazid. Kakek Osen adalah perantau dan dia tidak bisa bergantung pada siapa pun, termasuk pada gurunya. Makanya, untuk bertahan hidup, ia mengandalkan rumah ibadah sebagai tempat bernaung. Ia bekerja sebagai penjaga masjid sekaligus buruh di ladang beberapa penduduk kampung. Ia bekerja sejak pagi hingga petang, dilanjutkan dengan belajar bahasa pada malam harinya. Upah bekerja digunakan untuk membeli makan sehari-hari.
Berbagi, masih kata Kakek, juga membutuhkan kepekaan. Kamu harus menyadari permasalahan di sekitarmu sehingga memahami apa yang orang-orang butuhkan. Pertama kali Kakek Osen membuka kursus tentang bagaimana caranya berpidato dan membuat acara pidato dengan baik dan benar. Ia mengundang perwakilan pesantren-pesantren di sekitar kampung untuk datang dan mengikuti kursusnya dengan tarif “seikhlasnya”. Berbekal pembelajaran di Gontor, ia mengajarkan kepada masyarakat soal bagaimana membuat acara pidato dengan baik dan benar, bagaimana pembagian tugas antara moderator, panitia dan mubaligh, sampai kepada hal-hal detail semisal bagaimana membuat spanduk acara yang benar.

Berbagi, lanjut Kakek, menjadi terberkahi karena didasari rasa peduli, sekaligus diiringi restu gurunya. Maka ia sangat berterima kasih ketika pertama kali mendapat tugas dari istri Ustad Yazid untuk mengajar bahasa inggris kepada dua orang calon doktor di salah satu universitas. Berkah dari gurunya menjadi amunisi letupan keajaiban. Berbagi manfaat dalam hal pengajaran bahasa inggris kemudian terjadi secara berkesinambungan, tersistem, konsisten, lama-kelamaan menjadi luas berdampak ke seluruh kampung hingga kini.

Berbagi, tutup Kakek, berarti tidak rakus. Bagilah ilmu yang kamu punya tanpa ditutup-tutupi maupun dilebih-lebihkan. Dengan begitu, Tuhan akan meluaskan berkah itu, hingga manfaatnya terasa bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk orang yang lebih banyak lagi. Jadilah kualitas ekonomi dan edukasi di sini bergerak maju. Penduduk setempat senang, para siswa dan guru riang, Kakek Osen juga tenteram.

Berbanggalah Kelana, saya dan Ela, karena pertemuan di senja itu ditutup dengan banyak doa darinya untuk kami semua. Seperti seorang cucu, kami menumpahkan keluh kesah dan harapan kami di masa depan. Kakek Osen tak banyak bicara tapi menegaskan bahwa ia mendoakan agar segala harapan kami direstui Tuhan. Rasa sayang itu terasa dan membuat kami membanjirinya dengan sejumlah doa agar Kakek Osen panjang umur sehat sentosa.

“Kakek, itu kayu untuk apa?” Kelana penasaran ketika Kakek Osen mengantarkan kami ke gerbang depan memulai langkah pulang.

“Saya mau mindah kan itu ke aula, biar lebih lega, jadi kayunya buat alat pengukur,” jawab Kakek.

“Itu” yang ia maksud adalah miniatur borobudur. Ia sengaja membuatnya untuk kebutuhan pendidikan di lembaga kursus yang ia dirikan. “Anak-anak di sini kalau setelah ujian, ada study tour ke Borobudur, jadi sebelum mereka berangkat, harus tahu dulu seluk-beluk candi, dengan belajar melalui miniatur ini,” lanjutnya. Seperti kita ketahii, BEC merupakan lembaga kursus bahasa inggris yang ia dirikan, dan sampai saat ini masih ramai murid yang daftar dan belajar.

Ah, Kakek, begitu membanggakannya Indonesia punya kamu. Tak berlebihan jika kami menganggap Kakek telah khatam dalam mengaplikasikan Ilmu Berbagi dan menjalani hidup sebagai pelayan Tuhan. Doakan kami, Kek, agar kami pun bisa memulai dan memelihara semangat berbagi kebaikan seperti yang Kakek punya. Agar keajaiban Tuhan juga dapat terasa di diri kami, di mana kami bersyukur bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar.

Dengarlah, Kek, bahkan ketika pertemuan di senja ini usai, jantung Kelana masih berdegup kencang. Angin dan daun kering meggunakan degupan itu sebagai irama dzikir pada Tuhan. Mereka berterima kasih atas keberadaan Kakek Osen.
***

Latepost tralala… -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s