Kelana Mengeluh

Kelana akhir-akhir ini uring-uringan. Aku tahu betul alasannya. Ia tengah jengkel kepada teman sekamarnya, seorang bocah yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Dalam sebuah takdir, Kelana dan bocah itu bertemu di suatu negeri ajaib. Sejak awal bertemu, Kelana secara sepihak telah mendaulat dirinya sebagai teman sekaligus pengasuh bocah tersebut. Ia ingin menjadi begitu bukan karena alasan khusus atau menemukan kelebihan dari si bocah. Entahlah, mungkin Kelana sangat terobsesi menjadi tokoh protagonis di setiap jeda kehidupannya. Kelana tidak sadar kalau itu tindakan gegabah dan malah menyusahkan dirinya sendiri di kemudian hari.

“Aku sudah tidak habis pikir lagi, Neng, bagaimana bisa dia tidur sepanjang waktu, padahal kedatangannya jauh-jauh ke sini adalah untuk belajar,” keluh Kelana barusan. Ya. Itulah alasannya. Kelana tengah jengkel karena ia merasa perilaku Si Bocah sehari-hari hanya bermalas-malasan untuk belajar.

“Kenapa, sih, gak bersikap masa bodo aja, selama dia gak ganggu kamu, biarkan saja, toh yang rugi dia sendiri,” kata saya enteng.

“Aku juga maunya begitu, Neng,” jawabnya.

“Lalu?”

“Entahlah, Neng, refleks saja, semacam gak rela,” tuturnya.

“Yasudah, gak usah terlalu dipikirkan!”

“Tetap kepikiran, Neng!”

“Tolong, ya, jangan pancing aku untuk ber-ghibah di sini,” sahutku. Sebenarnya aku hanya sedang tidak ingin diganggu sebab ingin menyelesaikan tulisan-tulisan bahan nge-blog yang bertumpuk.

“Cukup diam dan dengarkan, kalau kamu malas berkomentar, aku hanya ingin mengeluarkan unek-unek saja, seperti biasanya,” katanya keras kepala. Aku hanya mengangkat bahu, terpaksa mendengarkannya. Siap menjadi tempat sampahnya berkali-kali.

Jadilah kemudian ia bercerita panjang lebar soal teman sekamarnya itu. Bocah yang menurutnya malas, bahkan untuk sekadar bangun shubuh. Masih berdasarkan informasi dari Kelana, ini bocah kerap tidak masuk sekolah tanpa alasan jelas dan lebih memilih bermain gadget sambil tidur-tiduran. Kelana tak rela hanya dijadikan orang yang menemaninya tidur, bermain atau makan dan jajan. Kelana pikir, tak mengapa jika ini bocah bermalas-malasan, tapi ia pintar. Nyatanya tidak, atau mungkin belum. Kelana mengajukan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan pelajaran dasar, dan bocah itu masih kebingungan. Ya salam.

Sebelum akhirnya mengeluh di hadapanku, Kelana telah m’batin tapi diiringi aksi ngomel sepanjang hari kepada Si Bocah. Kelana juga telah memberikan nasihat secara halus maupun blak-blakan sembari mengajarkan sejumlah materi pelajaran. Ia ingin Sang Bocah mengerti dan menghentikan aksi malasnya. Tapi nyatanya, usaha tersebut tampak sia-sia. Pada akhirnya, ia menjadi sedih sendiri karena merasa gagal membantu.

Meski dengan terpaksa, aku tetap mendengarkannya, dan jadi ikut kepikiran masalahnya, ikut berkomentar dalam hati. Tetiba teringat seorang sahabat yang berprofesi sebagai guru di gang sebelah kosan. Ia menugaskan dirinya sendiri juga untuk mendisiplinkan sejumlah anak remaja. Setiap pagi ia harus melawan rasa jengkel dan putus asa untuk membangunkan murid-muridnya, mengajak mereka untuk belajar dan bersemangat di pagi hari.

Sahabat itu mungkin menanggung rasa kesal dan jengkel sendirian, ketika ia mendapati anak didiknya berkali-kali tampak bermalas-malasan. Selebihnya, Si Sahabat selalu tampak tegar berteriak-teriak lagi, mengajak-ajak lagi, mengajari lagi anak-anak untuk berhenti bermalas-malasan. Setiap hari.

Makanya, kejengkelan Kelana tidak seberapa. Dia sudah setengah kalut baru menangani satu bocah saja. Kelana harus diberitahu segera, soal kisah sahabatku itu. Agar ia tidak jengkel. Agar Kelana tidak bosan untuk mengajak semua orang, termasuk saya dan dirinya, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kelana seharusnya bisa saja bersikap masa bodo. Seharusnya ia tidak perlu merasa bisa berbuat banyak untuk anak itu. Terkadang orang merasa perlu menolong orang lain, padahal orang lain itu belum tentu ingin dibantu. Mungkin Kelana hanya iri karena ia tidak bisa melepaskan rasa gengsinya untuk bermalas-malasan dan bersikap santai dalam hidup seperti Si Bocah. Kasihan Si Bocah yang menurutku sama sekali tidak salah. Dia hanya ingin menyamankan dirinya di tempat baru. Ini mungkin pengalaman pertamanya hidup jauh dari orang tua sembari mengelola keuangan dan waktu secara mandiri.

Jadi biarkanlah Si Bocah mencoba hal-hal yang belum pernah ia rasakan di bawah pengawasan orang tua. Biarkan ia merasa punya banyak waktu dan bertahan di zona nyaman. Toh Kelana yang sok tahu itu telah memberi tahu dampak baik dan buruknya berdasarkan keyakinannya sendiri. Ketika telah selesai memberi peringatan, seharusnya Kelana tak mengambil peran Tuhan untuk menggerakkan hati setiap hamba. Hahah…

Baiklah, sepertinya Kelana sekarang mengantuk pasca menumpahkan unek-unek. Tidurlah, Kelana, sembari kudongengkan kisah Sahabat saya yang senang mengabdi itu.

08112016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s