Menjaga Kewarasan dengan Mem-Punakawan (Review Buku “Arus Bawah”-nya Cak Nun)

20161029_164548

Oleh Sonia Fitri

“Orang yang kehilangan setidaknya akan ingat bahwa ia kehilangan. Tetapi kalau terlalu lama ia kehilangan sesuatu, akhirnya yang hilang tidak hanya sesuatu itu, tetapi juga rasa kehilangan itu sendiri” – Emha Ainun Nadjib –

***
Gareng panik. Kiayi Semar, bapaknya, mendadak hilang. Raja jin perasa macam dia lantas menggalau durja, melampiaskan keresahannya itu pada Si Kalem Petruk. Kesedihan Gareng bercampur kesal lantaran melihat masyarakat Dusun Karang Kedempel yang seolah-olah cuek, tidak peduli atas menghilangnya sosok yang bertugas menjaga kewarasan warga Karang Kedempel lahir dan batin itu.

Merespons tingkah kakaknya, Petruk hanya bisa menjadi pendengar yang baik sambil menyuguhkan ubi godok. Ia sangat mengerti perangai saudaranya itu. Gareng merupakan anggota Punakawan yang takdirnya berperan di sisi idealis, kearifan, yang puitis dan pandai berteori. Itu merupakan potensi, tapi juga bisa menjadi kelemahan karena kerap dianggap cengeng dan Omdo (omong doang/red-). Petruk maklum. Tak mengapa lah. Toh ketika ada kehilangan, harus ada orang yang merasakan kesedihan mendalam.

Cerocosan Gareng tersedak oleh teriakan Bagong dari kejauhan. Anak bungsu Semar itu datang dengan kondisi yang seperti biasanya, menjijikan dan terbengkalai. Bagong mencak-mencak sambil mengata-ngatai Gareng yang lebay karena meributkan hilangnya jelmaan dari Batara Ismoyo itu. Bagong datang dengan sejumlah sanggahan. Keributan makin menjadi-jadi ketika Gareng protes atas sikap Bagong yang dinilainya selalu tidak sopan pada Kiayi Semar.

***

Begitulah kurang lebih, berpenggal-penggal prolog yang tersaji dalam buku “Arus Bawah” karya Emha Ainun Nadjib alias Caknun. Membaca buku setebal 236 halaman itu seperti menyaksikan pertunjukan wayang, sarat pesan moral, tapi tidak sok serius karena penulis menyelipkan humor-humor cerdas ala Wong Jowo. Gareng, dan Bagong terlibat perdebatan dengan Petruk sebagai penengah. Untungnya, debat dan serangkaian perenungan Punakawan bukan sekadar kalimat sampah dan serapah. Di dalamnya penuh sindiran sekaligus nasihat yang mewakili suara hati dan keresahan warga Karang Kedempel.

Kegalauan Gareng merembet hingga ia merutuki nasibnya yang menggareng selama lebih dari lima puluh abad. Alih-alih dijadikan sebagai bagian dari penuntun, orang-orang malah menjadikan mereka badut-badut bahan guyon. Sejak memulai karier di zaman Baratayudha hingga mengawal masyarakat dan kekuasaan di Dusun Karang Kedempel, ia merasa seolah keberadaan Punakawan tidak memberikan pengaruh apa-apa.

Gareng menyaksikan dosa sejarah terus terulang turun-temurun. Misalnya, orang tidak didorong untuk merawat standar nilai. Akibatnya mereka tidak mampu membedakan yang baik dan yang buruk, benar atau salah, sehat dan sakit, tapi orang hanya dipojokkan untuk memilih enak atau tidak, selamat atau tidak, menguntungkan atau tidak. Orang-orang tidak berpikir untuk berkreasi dan mencipta hal-hal baru, tapi malah digiring untuk menjadi bangsa “pewaris” atas apa yang telah dikerjakan kaum tua.

Anak-anak sejarah terbentuk atau sengaja dibentuk dengan metode mobilisasi yang dahsyat, canggih dan komplit untuk sekadar menjadi pewaris yang setiap hari merasa kecut untuk melahirkan dirinya sendiri. Mereka diberi nama pewaris dan pelestari. Bukan menumbuhkan apa yang sebaiknya ditumbuhkan menurut akal budi mereka sendiri.

Orang-orang terlalu sering diajarkan pasrah atas segala tindak penindasan, hingga mereka tidak merasa ditindas, hingga mereka ketagihan untuk terus-menerus ditindas. Orang-orang menjadi pandai mencari kesenangan lain dari guyonan yang hanya pantas diberikan untuk anak usia tiga tahun. Orang-orang hanya tahu mengamuk dan dikompori, tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan.

Mendengar keluh kesah Gareng, Petruk hanya bisa mbatin. Dalam Punakawan, ia memanglah lambang sikap dingin dan kelenturan. Semacam kosong dan abadi. Meski ruang kosong diisi, tetap saja kosong itu tidak pergi. Kiayi Kantong Bolong itu sama sekali tidak terpengaruh terhadap ucapan kakaknya, justru ia mengkhawatirkan Gareng kalau menyerah bisa-bisa kehilangan predikat Punakawan. Atas kelakuan kakaknya, Petruk membatin, jangan sampai para punakawan berputus asa. Semoga Punakawan tetap sanggup merangsang orang untuk tersenyum dan tertawa tanpa kehilangan kearifan terhadap makna hidup.

Petruk kompromis tapi mbatin sementara Bagong senang to the point. Dibalik tingkahnya yang dianggap tidak sopan dan tidak keruan, Bagong sebagai bayangan Semar itu memberi pelajaran dengan aksi nyata soal pentingnya semangat kesetaraan, pun mendobrak kebiasaan “menghamba” yang sudah ajeg di masyarakat Karang Kedempel. Meski kerap dianggap ganjil dan berbeda, bahkan rentan benturan, Bagong mewakili semangat kita untuk berani memulai dari gerakan-gerakan kecil, Carangan, arus bawah. Gareng maupun Petruk jadi makin tenggelam dalam perenungan-perenungan. Tak sadar bahwa Bagong menghabiskan semua ubi.

Seperti Gareng, Petruk dan Bagong, kita sebagai pembaca juga akan turut digiring dalam perenungan demi perenungan dengan beragam gaya. Sebab nyatanya, Punakawan tidak ke mana-mana. Ia meupakan bagian dari kita, berada di dalam hati kita. Maka ada atau tidaknya mereka bergantung kita, mau mengaktivasinya atau tidak.

Saran saya, jangan sekali-kali berani memulai membaca buku ini. Nanti kamu akan terjebak akan rasa penasaran soal keberadaan Semar, lalu bernafsu membacanya sampai tamat. Dusun Karang Kedempel mesti merupakan analogi dari Indonesia, Tanah Air kita tercinta. Negeri ini sarat cerita yang serupa Barathayudha. Ia juga dihuni masyarakat yang ajaib, tahan kemalangan dan ketertindasan.

Cak Nun menulis buku ini jelang keruntuhan rezim Orde Baru. Makanya jangan salah kalau pesan-pesan para Punakawan dalam buku lebih banyak berisi kritik sosial soal gaya kepemimpinan otoriter Soeharto, dan respons masyarakat Indonesia hingga akhirnya diruntuhkan oleh demonstrasi yang mencengangkan. Punakawan tak menyebut gerakan-gerakan perlawanan rakyat terhadap penguasa itu salah atau benar. Sebab yang penting bukan siapa yang berkuasa tapi bagaimana menangani kekuasaan.
Ketika rakyat benci pada penguasa, janganlah membenci sosoknya, karena ia juga sama-sama ciptaan Tuhan. Bencilah kelakuannya jika hanya bisa merusak dan mengeksploitasi, runtuhkan gaya kepemimpinan yang tidak berpihak kepada masyarakat yang sehat. Bencilah, jika kelakuan penguasa sebagai suami dan sebagai manusia, tidak mempergauli rakyatnya sebagai istri dan sebagai alam semesta dengan penuh cinta.

Mengikuti celotehan Cak Nun dalam buku ini, kamu bisa jadi ikutan lupa kalau Kiayi Semar itu dikatakan hilang oleh Kang Gareng. Sebab Kiayi Semar terasa ada. Tapi, benarkah ia ada? Sampai akhirnya pembaca tiba di bab terakhir buku, akan ada lah jawaban soal keberadaan Kiayi Semar di sana. Syaratnya, tetaplah jaga kewarasan. Jangan sampai kamu dan warga Karang Kedempel lainnya betah mabok tuak.

 

Selamat membaca..

02112016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s