Tuan Budiman

20160805_154939

Selamat Pagi, Tuan Budiman…
Pagi ini mendung, sedangkan matahari tengah berkonsentrasi memulai prosesi menghangatkan bumi. Kita duduk bersebelahan, berjarak, di antara pasir yang terhampar di tepi pantai. Anda berani datang karena saya undang. Sebab saya tengah malas sendirian. Teman-teman yang lain masih asyik berfoto sembari bermain air dan pasir di sebelah sana. Terima kasih atas santun yang selalu terjaga.

Kita harus mencari topik pembicaraan, agar tak ada diam yang mengambil peran. Baiklah, mari membicarakan tentang metode akurat menghitung jumlah pasir dalam genggaman. Sanggupkah?

Anda lantas tersenyum sebab itu adalah hal tak berguna, bahkan mustahil. Tapi Anda selalu memosisikan diri sebagai pendengar yang menghargai. Makanya saya pun tahu diri. Sepakat dengan pendapat Anda. Jumlah pasir dalam genggaman saya kira-kira merupakan gambaran perasaan manusia. Tak keruan seperti jumlah pasir. Kadang ia ditaksir banyak maupun sedikit. Bergantung persepsi. Tapi setidaknya perasaan harus dijabarkan. Bukan jadi bahan canda tak berkesudahan, apalagi dibiarkan terpendam.

Tuan yang budiman. Ingatkah Anda ketika pertama kali menampakkan diri di hadapan saya? Ketika itu Anda menyapa dari kejauhan. Melontarkan kata-kata manis dan pujian yang agak mengagetkan. Sebab sapaan itu direspons guyon dari para penonton di sekitar. Kala itu saya merespons sambil tertawa.

Betapa beraninya, betapa berpengalamannya Anda menggoda perempuan. Mungkin saya perempuan ke sekian yang Anda goda. Tapi tak mengapa. Terima kasih telah berupaya menarik perhatian. Keberanian Anda mengagumkan.

Sapaan-sapaan itu berlangsung selama beberapa hari, hingga akhirnya saya gemas. Saya nyatanya tak betah menjadi bahan canda. Lantas saya undang Anda datang, menanyakan maksud dari semua yang telah Anda mulai. Tak lupa, saya juga berterima kasih karena Anda telah membuat saya sejenak merasa spesial.

Terima kasih atas serangkaian perhatian yang datang setelahnya. Terima kasih atas pernyataan cinta yang ringan terucap dari mulut Anda. Terima kasih atas kesigapan Anda ketika saya membutuhkan pertolongan. Terima kasih atas segala kesabaran atas tingkah saya yang mungkin menyebalkan. Terima kasih telah menjadi teman yang baik. Karena Anda, saya berbahagia.

Namun Tuan, perasaan suka, tertarik bahkan cinta datang tanpa diminta. Ia datang begitu saja, dan kita harus tertantang untuk mengendalikannya. Pun, harus tertantang menyambut perhatian yang datang dengan elegan. Saya berharap bisa menyambut canda-canda itu dengan baik. Seperti Anda tahu, perempuan senang digoda, meskipun itu hanya bercanda.

Tuan yang Budiman. Sesungguhnya saya betul-betul iri atas apa yang Anda lakukan. Anda berani berendah hati menunjukkan perhatian kepada seorang perempuan asing. Bertolak belakang dengan Anda, saya hanya bisa membeku ketika berhadapan dengan orang lain yang saya suka. Saya memilih memperhatikan diam-diam sembari berdoa kepada Tuhan minta keajaiban mendapatkan cinta yang berbalas.

Tidak sepertimu, saya terlalu takut mengambil risiko jika menerima respons yang tak sesuai harapan, meski itu hanya sebuah canda. Lalu saya hanya bisa bersembunyi di balik jender perempuan. Mana pantas perempuan menyatakan cinta duluan?

Semua akan lebih mudah jika saya juga suka pada Anda, bukan? Itu artinya usahamu berhasil. Tapi rasa suka maupun cinta selalu membutuhkan proses. Saya pun harus cerdas membedakan mana canda mana serius.

Jika pun Anda memutuskan untuk berhenti menyukai saya, itu pasti akan baik untuk Anda. Semoga kita semua selalu berada dalam berkah dan naungan Tuhan.

Tambakredjo, Blitar, 22102016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s